Photobucket

Sabtu, 29 November 2008

Diabetes Melitus

ABSTRACT

Penanganan diabetes Melitus pada lansia seringkali kurang optimal, misalnya saja pada sebuah penel;itian oleh Cardiovaskuler Heart Study (CHS) di Amerika dari tahun 1996-1997 didapati hanya 12% populasi lanjut usia dengan diabetes Melitus yang mencapai kadar gula darah dibawah nilai acuan yang ditetapkan American Diabetes Association pada penelitian teRumkitebut juga diketahui 50% dari lanjut usia dengan diabetes Melitus mengalami gangguan pembuluh darah besar dan 33% dari jumlah teRumkitebut aktif mengkonsumsi aspirin. Di sisi lain, banyak dari populasi lanjut usia dengan diabetes Melitus memiliki tekanan darah tinggi > 140/90 mmHg, hanya 8% lanjut usia dengan kadar kolesterol LDL.

Di Indonesia pada tahun 2004 diperkirakan berjumlah 4 juta jiwa dan pada tahun2010 akan meningkat menjadi 5 juta jiwa. Adapun di Jawa barat pada tahun 1999 penderita diabetes Melitus yang berobat jalan ke RUMKIT berjumlah 11.759 orang dan menjalani rawat inap sebanyak 3.720 orang (Dinkes RI, 2005).
Terdapat 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes Melitus yang salah satunya adalah diet. Dimana diet ini merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes Melitus. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kondisi gula dalam darah secara langsung dan cepat adalah makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh pasien. Oleh karena itu perencanaan makan (diet) bagi penderita diabetes Melitus menjadi hal yang harus diketahui.

Terkadang ditemukan kondisi dimana penderita sering berobat ke RUMKIT, meskipun mengikuti diet makanan yang telah ditetapkan, akan tetapi kadar gula darah dalam tubuhnya tetap tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh karena diet makan pada penderita diabetes Melitus belum mempertimbangkan jenis karbohidrat yang sesuai. Sehingga banyaknya penderita yang belum mengetahui mengenai konsumsi karbohidrat yang sesuai untuk kondisi kesehatannya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penderita diabetes Melitus yang dirawat di RUMKIT serta tidak ada penurunan angka kunjungan setiap bulannya.
Dari penjelasan diatas menunjukan bahwa pengetahuan penderita mengenai konsumsi karbohidrat yang sesuai dengan diet pada penderita diabetes Melitus merupakan suatu hal yang sangat penting.

Dari berbagai penelitian di Indonesia menunjukan bahwa pravalensi diabet semakin meningkat terutama dikota-kota besar. Di Surabaya pada penelitian epidemiologis yang dikerjakan di Puskesmas perkotaan mencakup penduduk diatas 20 tahun (1991), di dapatkan pravalensi yang hampir sama yaitu 1,47% hasil penelitian epidemiologis di Jakarta (Daerah urban) membuktikan adanya peningkatan pravalense diabetes dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993 serta kemudian pada tahun 2001 di Depok, sub-urban Jakarta menjadi 12,8%. Demikian juga pada pravalensi diabetes di Ujung pandang (daerah urban), meningkat dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9% pada tahun 1998 (penatalaksanaan Diabetes Melitus terpadu 2007 : 6).
(daerah urban), meningkat dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9% pada tahun 1998 (penatalaksanaan Diabetes Melitus terpadu 2007 : 6).
Tujuan penanganan diabetes melitus pada lansia tidak jauh beda dengan orang dewasa pada umumnya yaitu untuk mencegah terjadinya dekompensasi metabolik akut dan menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat komplikasi

Karya tulis Ilmiah Keperawatan berjudul"Bagaimana gambaran pengetahuan penderita diabetes Melitus tentang diet diabetes Melitus". Selengkapnya klik disini

Comments :

0 komentar to “Diabetes Melitus”