Photobucket

Sabtu, 10 Januari 2009

Infeksi Kelamin Berisiko Keguguran

KENYATAAN bahwa infeksi kelamin dapat memengaruhi kandungan juga pernah dibuktikan dalam sebuah penelitian di Inggris beberapa waktu silam.

Para peneliti mendapati bahwa infeksi kelamin yang umum terkait dengan risiko keguguran pada trimester kedua. Untuk itu, wanita hamil disarankan untuk melakukan skrining dan penanganan sedini mungkin sejak awal kehamilan sehingga mengurangi risiko keguguran.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa wanita dengan Bacterial Vaginosis (BV) tiga kali lebih berisiko mengalami keguguran dalam minggu pertama trimester kedua kehamilan. Pada studi sebelumnya, peneliti Philip Hay MDBS dan timnya mendapati bahwa infeksi juga terkait dengan risiko keguguran lima kali lebih besar pada wanita yang hamil 16-24 minggu.

"Dari penelitian yang lalu kita tahu bahwa infeksi dapat meningkatkan risiko keguguran pada kehamilan, dan hasil penelitian selanjutnya bahkan melaporkan bahwa risiko ini bisa datang lebih cepat, yakni pada usia kehamilan trimester kedua," ujarnya.

BV merupakan infeksi kelamin paling umum pada wanita usia reproduksi. Center for Dissease Control (CDC) Amerika memperkirakan sebanyak 16 persen wanita hamil mengalaminya, yang ditandai dengan ketidakseimbangan.

Dalam penelitian yang dipublikasikan British Medical Journal tersebut, Hay dan timnya melakukan tes BV pada 1.200 wanita yang tengah hamil kurang dari 10 minggu. Sebanyak 121 wanita mengalami keguguran sebelum usia kehamilan mereka menginjak 16 minggu.

Studi yang dilakukan Institut Kesehatan Nasional Inggris juga mendapati penanganan infeksi vagina lainnya, yakni trichomoniasis dengan obat-obatan seperti metronidazole mungkin perlu mempertimbangkan dampaknya bagi wanita hamil.
Trichomoniasis, seperti halnya BV, juga menunjukkan peningkatan risiko kelahiran prematur.

Dalam studi tersebut, peneliti Mark Klebanoff MD mencatat jumlah wanita hamil yang mengalami kelahiran prematur dua kali lebih banyak pada mereka yang ditangani dengan obat-obatan tersebut ketimbang wanita hamil yang tidak mengonsumsi obat-obatan. Kemungkinan hal tersebut karena penanganan yang terlambat. Maksudnya, andai saja dilakukan sejak awal, pengobatan mungkin sukses menyembuhkan tanpa adanya efek samping apa pun.

"Kita perlu mendesain studi untuk membuktikan bahwa penanganan dini mungkin dapat bermanfaat lebih baik. Namun, alangkah jauh lebih baik bila wanita mencegah jangan sampai terinfeksi," katanya.

Di samping infeksi kelamin, penyakit menular seksual (PMS) di Inggris juga terus meningkat. Hampir 400.000 kasus infeksi baru terdiagnosis tahun lalu, yang itu berarti peningkatan sekitar 6 persen pada tahun 2006. Separuh dari kasus baru ditemukan pada orang dewasa muda usia 16-24 tahun yang merupakan 12 persen dari populasi.

Agen Perlindungan Kesehatan Inggris merekomendasikan seluruh orang dewasa muda untuk melakukan tes chlamydia setiap tahun sebagai bagian dari program deteksi (skrining) nasional. Chlamydia merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang paling lazim terjadi.

Gwenda Hughes, staf Agen Perlindungan Kesehatan Inggris untuk Penyakit Infeksi mengungkapkan, orang dewasa muda paling rentan terpengaruh IMS. "Pasalnya, mereka lebih aktif secara seksual, kerap memiliki pasangan lebih dari satu, serta punya kecenderungan untuk berhubungan seksual secara berlebihan atau sebagai aksi iseng-iseng," ujarnya.
(sindo//tty)




Comments :

0 komentar to “Infeksi Kelamin Berisiko Keguguran”