Minggu, 18 Januari 2009

Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Asuhan Keperawatan DBD

Epidemiologi DBD

Wabah Dengue pertama kali ditemukan di dunia tahun 1635 di Kepulauan Karibia dan selama abad 18, 19 dan awal abad 20, wabah penyakit yang menyerupai Dengue telah digambarkan secara global di daerah tropis dan beriklim sedang. Vektor penyakit ini berpindah dan memindahkan penyakit dan virus Dengue melalui transportasi laut. Seorang pakar bernama Rush telah menulis tentang Dengue berkaitan dengan break bone fever yang terjadi di Philadelphia tahun 1780. Kebanyakan wabah ini secara klinis adalah demam Dengue walaupun ada beberapa kasus berbentuk haemorrhargia. Penyakit DBD di Asia Tenggara ditemukan pertama kali di Manila tahun 1954 dan Bangkok tahun 1958 (Soegijanto S., Sustini F, 2004) dan dilaporkan menjadi epidemi di Hanoi (1958), Malaysia (1962-1964), Saigon (1965), dan Calcutta (1963) (Soedarmo, 2002).

DBD di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh tahun 1970. Kasus pertama di Jakarta dilaporkan tahun 1968, diikuti laporan dari Bandung (1972) dan Yogyakarta (1972) (Soedarmo, 2002). Epidemi pertama di luar Jawa dilaporkan tahun 1972 di Sumatera Barat dan Lampung, disusul Riau, Sulawesi Utara, dan Bali (1973), serta Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Barat (1974). DBD telah menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia sejak tahun 1997 dan telah terjangkit di daerah pedesaan (Suroso T, 1999). Angka kesakitan rata-rata DBD di Indonesia terus meningkat dari 0,05 (1968) menjadi 8,14 (1983), dan mencapai angka tertinggi tahun 1998 yaitu 35,19 per 100.000 penduduk dengan jumlah penderita sebanyak 72.133 orang (Soegijanto S., 2004).


Selama awal tahun epidemi di setiap negara, penyakit DBD ini kebanyakan menyerang anak-anak dan 95% kasus yang dilaporkan berumur kurang dari 15 tahun. Walaupun demikian, berbagai negara melaporkan bahwa kasus-kasus dewasa meningkat selama terjadi kejadian luar biasa (Soegijanto S., 2004).


Jumlah kasus dan kematian Demam Berdarah Dengue di Jawa Timur selama 5 tahun terakhir menunjukkan angka yang fluktuatif, namun secara umum cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2001 dan 2004 terjadi lonjakan kasus yang cukup drastis karena adanya KLB, yaitu tahun 2001 sebanyak 8246 penderita (angka insiden: 23,50 per-100 ribu penduduk), dan tahun 2004 (sampai dengan Mei) sebanyak 7180 penderita (angka insidens: 20,34 per 100 ribu penduduk). Sasaran penderita DBD juga merata, mengena pada semua kelompok umur baik anak-anak maupun orang dewasa, baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan, baik orang kaya maupun orang miskin, baik yang tinggal di perkampungan maupun di perumahan elite, semuanya bisa terkena Demam Berdarah (Huda AH., 2004).

Case Fatality Rate penderita DBD pada tahun 2004 sebesar 0,7 dan insidence rate sebesar 45. Morbiditas dan mortalitas DBD yang dilaporkan berbagai negara bervariasi disebabkan beberapa faktor antara lain status umur penduduk, kepadatan vektor, tingkat penyebaran virus, prevalensi serotipe virus Dengue, dan kondisi metereologis. DBD secara keseluruhan tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan, tetapi kematian ditemukan lebih banyak pada anak perempuan daripada anak laki-laki (Soegijanto S., 2003; Soegijanto S., Sustini F., 2004). Distribusi umur pada mulanya memperlihatkan proporsi kasus terbanyak adalah anak berumur <15>





Etiologi dan Patogenesis DBD


Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi virus Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan nyamuk Aedes albopictus. Virus Dengue termasuk genus Flavivirus, famili Flaviviridae, yang dibedakan menjadi 4 serotipe yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Keempat serotipe virus ini terdapat di Indonesia dan dilaporkan bahwa serotipe virus DEN 3 sering menimbulkan wabah, sedang di Thailand penyebab wabah yang dominan adalah virus DEN 2 (Syahrurahman A et al., 1995). Penyakit ini ditunjukkan dengan adanya demam secara tiba-tiba 2-7 hari, disertai sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam merah terang, petechie dan biasanya muncul dulu pada bagian bawah badan menyebar hingga menyelimuti hampir seluruh tubuh. Radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare (Soewandoyo E., 1998).



Manifestasi klinik terwujud sebagai akibat adanya kebocoran plasma dari pembuluh darah perifer ke jaringan sekitar. Infeksi virus Dengue dapat bersifat asimtomatik atau simtomatik yang meliputi panas tidak jelas penyebabnya (Dengue Fever, DF), Demam Berdarah Dengue (DBD), dan demam berdarah dengan renjatan (DSS) dengan manifestasi klinik demam bifasik disertai gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot, dan timbulnya ruam pada kulit ( Soegijanto S., 2004).Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti dan nyamuk Aedes albopictus. Di dalam tubuh manusia, virus berkembang biak dalam sistem retikuloendotelial, dengan target utama virus Dengue adalah APC (Antigen Presenting Cells ) di mana pada umumnya berupa monosit atau makrofag jaringan seperti sel Kupffer dari hepar dapat juga terkena (Harikushartono et al., 2002). Segera terjadi viremia selama 2 hari sebelum timbul gejala dan berakhir setelah lima hari gejala panas mulai. Makrofag akan segera bereaksi dengan menangkap virus dan memprosesnya sehingga makrofag menjadi APC (Antigen Precenting Cell). Antigen yang menempel di makrofag ini akan mengaktifasi sel T-Helper dan menarik makrofag lain untuk memfagosit lebih banyak virus. T-helper akan mengaktifasi sel T-sitotoksik yang akan melisis makrofag yang sudah memfagosit virus juga mengaktifkan sel B yang akan melepas antibodi. Ada 3 jenis antibodi yang telah dikenali yaitu antibodi netralisasi, antibodi hemaglutinasi, antibodi fiksasi komplemen (Gubler DJ., 1998).Penyakit infeksi virus Dengue merupakan hasil interaksi multifaktorial yang pada saat ini mulai diupayakan memahami keterlibatan faktor genetik pada penyakit infeksi virus, yaitu kerentanan yang dapat diwariskan. Konsep ini merupakan salah satu teori kejadian infeksi berdasarkan adanya perbedaan kerentanan genetik (genetic susceptibility) antar individu terhadap infeksi yang mengakibatkan perbedaan interaksi antara faktor genetik dengan organisme penyebab serta lingkungannya (Darwis D., 1999).Patofisiologi primer DBD dan Dengue Shock Syndrom (DSS) adalah peningkatan akut permeabilitas vaskuler yang diikuti kebocoran plasma ke dalam ruang ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah (Gambar 2.1). Volume plasma menurun lebih dari 20% pada kasus-kasus berat, yang didukung penemuan post mortem meliputi efusi serosa, efusi pleura, hemokonsentrasi dan hipoproteinemi (Soedarmo, 2002). Patogenesis DBD masih kontroversial dan masing-masing hanya dapat menjelaskan satu atau beberapa manifestasi kliniknya dan belum dapat menjelaskan secara utuh keseluruhan fenomena (Soetjipto et al., 2000). Beberapa teori tentang patogenesis DBD adalah The Secondary Heterologous Infection Hypothesis, Hipotesis Virulensi Virus, Teori Fenomena Antibodi Dependent Enhancement (ADE), Teori Mediator, Peran Endotoksin, dan Teori Apoptosis (Soegijanto S., 2004).Pencegahan dan pemberantasan infeksi Dengue diutamakan pada pemberantasan vektor penyakit karena vaksin yang efektif masih belum tersedia. Pemberantasan vektor ini meliputi pemberantasan sarang nyamuk dan pembasmian jentik. Pemberantasan sarang nyamuk meliputi pembersihan tempat penampungan air bersih yang merupakan sarana utama perkembangbiakan nyamuk, diikuti penimbunan sampah yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Tempat air bersih perlu dilindungi dengan ditutup yang baik. Pembasmian jentik dilakukan melalui kegiatan larvaciding dengan abate dan penebaran ikan pemakan jentik di kolam-kolam (Soegijanto S., 2004).



Faktor faktor yang mempengaruhi Nyeri


1. UsiaAnak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.

2. Jenis KelaminGill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wanita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya

3. KulturOrang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri. (misal, suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri)

4. Makna nyeriBerhubungan dengan bagaimana pengalaman/ persepsi seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.

5. PerhatianTingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990) perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.

6. AnsietasCemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.

7. Pengalaman masa laluSeseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

8. Pola kopingPola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.

9. Support keluarga dan socialIndividu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan dan perlindungan.







Faktor Lingkungan Pada Penyakit DBD


Lingkungan merupakan agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi. Salah satu peran lingkungan adalah sebagai reservoir. Secara umum lingkungan dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alamiah yang terdapat di sekitar manusia, sedangkan lingkungan non fisik ialah lingkungan yang muncul akibat adanya interaksi antar manusia (Mansjoer A et al., 2001).Hubungan antara host, agent dan lingkungan dalam menimbulkan penyakit sangat kompleks dan majemuk. Ketiga faktor ini saling berhubungan dan saling berkompetisi menarik keuntungan dari lingkungan. Dalam proses timbulnya penyakit, unsur-unsur yang terdapat pada setiap faktor memegang peranan yang amat penting. Pengaruh unsur tersebut adalah sebagai penyebab timbulnya penyakit yang dalam kenyataan sehari-hari tidak hanya berasal dari satu unsur saja, melainkan dapat sekaligus dari beberapa unsur.



Pengaruh dari beberapa unsur inilah yang menyebabkan timbulnya suatu penyakit tidak bersifat tunggal melainkan bersifat majemuk yang dikenal dengan istilah multiple causation of disease (Mansjoer A et al., 2001).Faktor lingkungan fisik yang berperan terhadap timbulnya penyakit DBD meliputi kelembaban nisbi, cuaca, kepadatan larva dan nyamuk dewasa, lingkungan di dalam rumah, lingkungan di luar rumah dan ketinggian tempat tinggal. Unsur-unsur tersebut saling berperan dan terkait pada kejadian infeksi Virus Dengue (Soegijanto S., 2003). Depkes (2004) menyatakan bahwa faktor lingkungan yang berperan terhadap timbulnya penyakit DBD diantaranya lingkungan pekarangan yang tidak bersih, seperti bak mandi yang jarang dikuras, pot bunga, genangan air di berbagai tempat, ban bekas, batok kelapa, potongan bambu, drum, kaleng-kaleng bekas serta botol-botol yang dapat menampung air dalam jangka waktu yang lama. Lingkungan non fisik yang berperan dalam penyebaran DBD adalah kebiasaan menyimpan air serta mobilitas masyarakat yang semakin meningkat.





Faktor Perilaku Masyarakat Pada Penyakit DBD


Teori perilaku ini cukup banyak macamnya. Margono S (1998) mengemukakan bahwa perilaku terdiri dari tiga domain yang meliputi : pertama, domain perilaku pengetahuan (knowing behavior), kedua, domain perilaku sikap (feeling behavior) dan ketiga, domain perilaku keterampilan (doing behavior). Apabila pengertian perilaku ini lebih disederhanakan maka perilaku dapat dibagi menjadi 2 unsur yang saling berhubungan satu sama lain yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Proses perubahan perilaku atau penerimaan ide baru adalah hasil dari suatu proses yang kompleks yang biasanya memerlukan waktu yang lama.



Proses kejiwaan yang dialami individu sejak pertama kali memperoleh individu atau pengetahuan mengenai sesuatu hal yang baru sampai pada saat ia memutuskan menerima atau menolak ide baru melalui empat tahap yaitu :

1. Pengetahuan, dalam hal ini subyek mulai mengenal ide baru serta belajar memahaminya.

2. Persuasi, dimana individu membentuk sikap positif atau negatif terhadap ide baru tersebut.

3. Mengambil keputusan, dimana individu aktif dalam menentukan keputusan untuk menerima atau menolak ide baru tersebut.

4. Konfirmasi, dimana individu mencari dukungan dari orang lain di sekitarnya terhadap keputusan yang telah dibuatnya (Notoatmodjo S., 2003).Lawrence Green dalam Notoatmodjo S (2003) mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour causes).



Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu :

1. Faktor-faktor predisposisi, yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya,

2. Faktor-faktor pendukung, yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya,

3. Faktor-faktor pendorong, yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Setelah seseorang mengetahui stimulus atau obyek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahuinya atau disikapinya. Hal inilah yang disebut praktik kesehatan atau dapat juga dikatakan perilaku kesehatan. Glanz K et al. (1997) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain :1. Perilaku kesehatan (health behaviour), yakni hal-hal yang berhubungan dengan tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Dalam hal ini termasuk juga tindakan untuk mencegah penyakit dan kebersihan perorangan.2. Perilaku sakit (illness behaviour) yaitu segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan individu yang merasa dirinya sakit untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau merasa dan mengenal rasa sakit yang ada pada dirinya.Termasuk di sini juga kemampuan atau pengetahuan individu tersebut untuk mengidentifikasi penyakitnya, penyebab penyakit serta usaha-usaha pencegahan penyakit. Dalam hal ini faktor pengetahuan tentang penyakit DBD yang meliputi pengetahuan tentang gejala, penyebab penyakit, pengobatan dan perawatan penderita. Selain itu juga termasuk faktor praktik masyarakat mengenai gerakan pemberantasan sarang nyamuk dan tindakan pencegahan penyakit DBD.





Diagnosis DBD
Kriteria klinis DBD menurut WHO 1986 dalam Mansjoer A et al. (2001), adalah sebagai berikut :
1. Demam akut yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara lisis. Demam disertai gejala tidak spesifik seperti anoreksia, malaise, nyeri pada punggung, tulang, persendian dan kepala.
2. Manifestasi perdarahan seperti uji turniket positif, petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan melena.
3. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus.
4. Dengan/tanpa renjatan. Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis yang buruk.
5. Kenaikan nilai hematokrit/hemokonsentrasi yaitu sedikitnya 20%.


Pemeriksaan laboratorium rutin untuk penderita DBD adalah jumlah trombosit dan kadar hematokrit. Hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat menjadi pertanda penyakit demam berdarah adalah:
1. Trombositopenia, yaitu menurunnya jumlah trombosit darah hingga kurang dari 100.000/mm3.
2. Hemokonsentrasi; peningkatan jumlah hematokrit sebanyak 20% atau lebih.
Dua kriteria klinis pertama, ditambah dengan trombositopenia dan hemokonsentrasi sudah cukup untuk menegakkan diagnosis klinis DBD. Efusi pleura (tampak melalui rontgen dada) dan atau hipoalbuminemia menjadi bukti penunjang adanya kebocoran plasma. Bukti ini sangat berguna terutama pada pasien yang anemia dan atau mengalami perdarahan berat. Pada kasus syok, jumlah hematokrit yang tinggi dan trombositopenia memperkuat diagnosis terjadinya Dengue Shock Syndrom (WHO, 2004).
Derajat keparahan DBD terbagi menjadi empat tingkatan (Tabel 2.1). Keberadaan trombositopenia yang disertai dengan hemokonsentrasi membedakan DBD tingkat I dan II dari demam dengue. Tingkat keparahan suatu penyakit terbukti berguna secara klinis maupun epidemiologis di dalam epidemi DBD pada anak-anak di wilayah WHO di Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Amerika.


Pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan perdarahan. Jumlah cairan yang diperlukan bagi seorang penderita tergantung dari derajat DBDnya. Pasien demam Dengue (Dengue Fever) dapat berobat jalan sedangkan DBD dirawat di ruang perawatan biasa, tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi diperlukan perawatan intensif. Perjalanan penyakit DBD sulit diramalkan, pasien yang pada waktu masuk keadaan umumnya tampak baik dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak tertolong (Soedarmo, 2002; Soegijanto S., 2004).





Faktor Lingkungan Pada Penyakit DBD


Lingkungan merupakan agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi. Salah satu peran lingkungan adalah sebagai reservoir. Secara umum lingkungan dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alamiah yang terdapat di sekitar manusia, sedangkan lingkungan non fisik ialah lingkungan yang muncul akibat adanya interaksi antar manusia (Mansjoer A et al., 2001).Hubungan antara host, agent dan lingkungan dalam menimbulkan penyakit sangat kompleks dan majemuk. Ketiga faktor ini saling berhubungan dan saling berkompetisi menarik keuntungan dari lingkungan. Dalam proses timbulnya penyakit, unsur-unsur yang terdapat pada setiap faktor memegang peranan yang amat penting. Pengaruh unsur tersebut adalah sebagai penyebab timbulnya penyakit yang dalam kenyataan sehari-hari tidak hanya berasal dari satu unsur saja, melainkan dapat sekaligus dari beberapa unsur. Pengaruh dari beberapa unsur inilah yang menyebabkan timbulnya suatu penyakit tidak bersifat tunggal melainkan bersifat majemuk yang dikenal dengan istilah multiple causation of disease (Mansjoer A et al., 2001).Faktor lingkungan fisik yang berperan terhadap timbulnya penyakit DBD meliputi kelembaban nisbi, cuaca, kepadatan larva dan nyamuk dewasa, lingkungan di dalam rumah, lingkungan di luar rumah dan ketinggian tempat tinggal. Unsur-unsur tersebut saling berperan dan terkait pada kejadian infeksi Virus Dengue (Soegijanto S., 2003). Depkes (2004) menyatakan bahwa faktor lingkungan yang berperan terhadap timbulnya penyakit DBD diantaranya lingkungan pekarangan yang tidak bersih, seperti bak mandi yang jarang dikuras, pot bunga, genangan air di berbagai tempat, ban bekas, batok kelapa, potongan bambu, drum, kaleng-kaleng bekas serta botol-botol yang dapat menampung air dalam jangka waktu yang lama. Lingkungan non fisik yang berperan dalam penyebaran DBD adalah kebiasaan menyimpan air serta mobilitas masyarakat yang semakin meningkat.




Faktor Perilaku Masyarakat Pada Penyakit DBD


Teori perilaku ini cukup banyak macamnya. Margono S (1998) mengemukakan bahwa perilaku terdiri dari tiga domain yang meliputi :
pertama, domain perilaku pengetahuan (knowing behavior),
kedua, domain perilaku sikap (feeling behavior) dan
ketiga, domain perilaku keterampilan (doing behavior). Apabila pengertian perilaku ini lebih disederhanakan maka perilaku dapat dibagi menjadi 2 unsur yang saling berhubungan satu sama lain yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Proses perubahan perilaku atau penerimaan ide baru adalah hasil dari suatu proses yang kompleks yang biasanya memerlukan waktu yang lama.

Proses kejiwaan yang dialami individu sejak pertama kali memperoleh individu atau pengetahuan mengenai sesuatu hal yang baru sampai pada saat ia memutuskan menerima atau menolak ide baru melalui empat tahap yaitu :
1. Pengetahuan, dalam hal ini subyek mulai mengenal ide baru serta belajar memahaminya.
2. Persuasi, dimana individu membentuk sikap positif atau negatif terhadap ide baru tersebut.
3. Mengambil keputusan, dimana individu aktif dalam menentukan keputusan untuk menerima atau menolak ide baru tersebut.
4. Konfirmasi, dimana individu mencari dukungan dari orang lain di sekitarnya terhadap keputusan yang telah dibuatnya (Notoatmodjo S., 2003).Lawrence Green dalam Notoatmodjo S (2003) mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour causes).

Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu :
1. Faktor-faktor predisposisi, yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya,
2. Faktor-faktor pendukung, yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya,
3. Faktor-faktor pendorong, yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek.

Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Setelah seseorang mengetahui stimulus atau obyek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahuinya atau disikapinya.
Hal inilah yang disebut praktik kesehatan atau dapat juga dikatakan perilaku kesehatan. Glanz K et al. (1997) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain :
1. Perilaku kesehatan (health behaviour), yakni hal-hal yang berhubungan dengan tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Dalam hal ini termasuk juga tindakan untuk mencegah penyakit dan kebersihan perorangan.
2. Perilaku sakit (illness behaviour) yaitu segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan individu yang merasa dirinya sakit untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau merasa dan mengenal rasa sakit yang ada pada dirinya.Termasuk di sini juga kemampuan atau pengetahuan individu tersebut untuk mengidentifikasi penyakitnya, penyebab penyakit serta usaha-usaha pencegahan penyakit. Dalam hal ini faktor pengetahuan tentang penyakit DBD yang meliputi pengetahuan tentang gejala, penyebab penyakit, pengobatan dan perawatan penderita. Selain itu juga termasuk faktor praktik masyarakat mengenai gerakan pemberantasan sarang nyamuk dan tindakan pencegahan penyakit DBD.


Diagnosis DBD
Kriteria klinis DBD menurut WHO 1986 dalam Mansjoer A et al. (2001), adalah sebagai berikut :
1. Demam akut yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara lisis. Demam disertai gejala tidak spesifik seperti anoreksia, malaise, nyeri pada punggung, tulang, persendian dan kepala.
2. Manifestasi perdarahan seperti uji turniket positif, petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan melena.
3. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus.
4. Dengan/tanpa renjatan. Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis yang buruk.
5. Kenaikan nilai hematokrit/hemokonsentrasi yaitu sedikitnya 20%.
Pemeriksaan laboratorium rutin untuk penderita DBD adalah jumlah trombosit dan kadar hematokrit. Hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat menjadi pertanda penyakit demam berdarah adalah:
1. Trombositopenia, yaitu menurunnya jumlah trombosit darah hingga kurang dari 100.000/mm3.
2. Hemokonsentrasi; peningkatan jumlah hematokrit sebanyak 20% atau lebih.
Dua kriteria klinis pertama, ditambah dengan trombositopenia dan hemokonsentrasi sudah cukup untuk menegakkan diagnosis klinis DBD. Efusi pleura (tampak melalui rontgen dada) dan atau hipoalbuminemia menjadi bukti penunjang adanya kebocoran plasma. Bukti ini sangat berguna terutama pada pasien yang anemia dan atau mengalami perdarahan berat. Pada kasus syok, jumlah hematokrit yang tinggi dan trombositopenia memperkuat diagnosis terjadinya Dengue Shock Syndrom (WHO, 2004).
Derajat keparahan DBD terbagi menjadi empat tingkatan (Tabel 2.1). Keberadaan trombositopenia yang disertai dengan hemokonsentrasi membedakan DBD tingkat I dan II dari demam dengue. Tingkat keparahan suatu penyakit terbukti berguna secara klinis maupun epidemiologis di dalam epidemi DBD pada anak-anak di wilayah WHO di Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Amerika.]

Pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan perdarahan. Jumlah cairan yang diperlukan bagi seorang penderita tergantung dari derajat DBDnya. Pasien demam Dengue (Dengue Fever) dapat berobat jalan sedangkan DBD dirawat di ruang perawatan biasa, tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi diperlukan perawatan intensif. Perjalanan penyakit DBD sulit diramalkan, pasien yang pada waktu masuk keadaan umumnya tampak baik dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak tertolong (Soedarmo, 2002; Soegijanto S., 2004).

Faktor Lingkungan Pada Penyakit DBD

Lingkungan merupakan agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi. Salah satu peran lingkungan adalah sebagai reservoir. Secara umum lingkungan dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alamiah yang terdapat di sekitar manusia, sedangkan lingkungan non fisik ialah lingkungan yang muncul akibat adanya interaksi antar manusia (Mansjoer A et al., 2001).Hubungan antara host, agent dan lingkungan dalam menimbulkan penyakit sangat kompleks dan majemuk. Ketiga faktor ini saling berhubungan dan saling berkompetisi menarik keuntungan dari lingkungan. Dalam proses timbulnya penyakit, unsur-unsur yang terdapat pada setiap faktor memegang peranan yang amat penting. Pengaruh unsur tersebut adalah sebagai penyebab timbulnya penyakit yang dalam kenyataan sehari-hari tidak hanya berasal dari satu unsur saja, melainkan dapat sekaligus dari beberapa unsur. Pengaruh dari beberapa unsur inilah yang menyebabkan timbulnya suatu penyakit tidak bersifat tunggal melainkan bersifat majemuk yang dikenal dengan istilah multiple causation of disease (Mansjoer A et al., 2001).Faktor lingkungan fisik yang berperan terhadap timbulnya penyakit DBD meliputi kelembaban nisbi, cuaca, kepadatan larva dan nyamuk dewasa, lingkungan di dalam rumah, lingkungan di luar rumah dan ketinggian tempat tinggal. Unsur-unsur tersebut saling berperan dan terkait pada kejadian infeksi Virus Dengue (Soegijanto S., 2003). Depkes (2004) menyatakan bahwa faktor lingkungan yang berperan terhadap timbulnya penyakit DBD diantaranya lingkungan pekarangan yang tidak bersih, seperti bak mandi yang jarang dikuras, pot bunga, genangan air di berbagai tempat, ban bekas, batok kelapa, potongan bambu, drum, kaleng-kaleng bekas serta botol-botol yang dapat menampung air dalam jangka waktu yang lama. Lingkungan non fisik yang berperan dalam penyebaran DBD adalah kebiasaan menyimpan air serta mobilitas masyarakat yang semakin meningkat.

Vektor DBD

Terjadinya penularan virus Dengue tidak dapat dilepaskan dari keberadaan vektornya, karena tanpa adanya vektor tidak akan terjadi penularan. Ada beberapa vektor yang dapat menularkan virus Dengue tetapi yang dianggap vektor penting dalam penularan virus ini adalah nyamuk Aedes aegypti (Gambar 2.4) walaupun di beberapa negara lain Aedes albopictus cukup penting pula peranannya seperti hasil penelitian yang pernah dilakukan di pulau Mahu Republik Seychelles (Metsellar, 1997). Untuk daerah urban Aedes albopictus ini kurang penting peranannya (Luft,1996). Selain kedua spesies ini masih ada beberapa spesies dari nyamuk Aedes yang bisa bertindak sebagai vektor untuk virus Dengue seperti Aedes rotumae, Aedes cooki dan lain-lain. Sub famili nyamuk Aedes ini adalah Culicinae, Famili Culicidae, sub Ordo Nematocera dan termasuk Ordo diptera (WHO, 2004).Untuk genus Aedes ciri khasnya bentuk abdomen nyamuk betina yang lancip ujungnya dan memiliki cerci yang lebih panjang dari cerci nyamuk lainnya. Nyamuk dewasa mempunyai ciri pada tubuhnya yang berwarna hitam mempunyai bercak-bercak putih keperakan atau putih kekuningan, dibagian dorsal dari thorak terdapat bercak yang khas berupa 2 garis sejajar di bagian tengah dan 2 garis lengkung di tepinya. Aedes albopictus tidak mempunyai garis melengkung pada thoraknya. Larva Aedes mempunyai bentuk siphon yang tidak langsing dan hanya memiliki satu pasang hair tuft serta pecten yang tumbuh tidak sempurna dan posisi larva Aedes pada air biasanya membentuk sudut pada permukaan atas. Nyamuk betina meletakkan telurnya di atas permukaan air dalam keadaan menempel pada dinding tempat perindukannya. Telur Aedes aegypti mempunyai dinding yang bergaris-garis dan membentuk bangunan menyerupai gambaran kain kasa. Seekor nyamuk betina dapat meletakkan rata-rata sebanyak 100 butir telur tiap kali bertelur. Pertumbuhan dari telur sampai menjadi dewasa memerlukan waktu kira-kira 9 hari (Srisasi G et al., 2000).Semua tempat penyimpanan air bersih yang tenang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes misalnya gentong air murni, kaleng kosong berisi air hujan, bak kamar mandi atau pada lipatan dan lekukan daun yang berisi air hujan, vas bunga berisi air dan lain-lain. Nyamuk Aedes aegypti lebih banyak ditemukan berkembang biak pada kontainer yang ada dalam rumah. Perkembangan hidup nyamuk Aedes aegypti dari telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10-12 hari dan umur nyamuk Aedes aegypti betina berkisar antara 2 minggu sampai 3 bulan atau rata-rata 1,5 bulan, tergantung dari suhu kelembaban udara sekelilingnya (Biswas et al., 1997). Nyamuk dewasa betina mengisap darah manusia pada siang hari yang dilakukan baik di dalam rumah ataupun luar rumah. Pengisapan darah dilakukan dari pagi sampai petang dengan dua puncak yaitu setelah matahari terbit (08.00-10.00) dan sebelum matahari terbenam (15.00-17.00) (Srisasi G et al., 2000).Nyamuk Aedes aegypti lebih senang mencari mangsa di dalam rumah dan sekitarnya pada tempat yang terlindung atau tertutup. Hal ini agak berbeda dengan Aedes albopictus yang sering dijumpai diluar rumah dan menyukai genangan air alami yang terdapat di luar rumah misalnya potongan bambu pagar, tempurung kelapa, lubang pohon yang berisi air (Allan, 1998). Tempat peristirahatan nyamuk Aedes aegypti berupa semak-semak atau tanaman rendah termasuk rerumputan yang terdapat di halaman/kebun/pekarangan rumah, juga berupa benda-benda yang tergantung di dalam rumah seperti pakaian, sarung, kopiah dan lain sebagainya (Srisasi G et al., 2000).Aedes aegypti merupakan spesies nyamuk yang banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis yang terletak antara 35º lintang utara dan 35º lintang selatan. Selain itu Aedes aegypti jarang ditemukan pada ketinggian lebih dari 1.000 m. Tetapi di India pernah ditemukan pada ketinggian 2.121 m dan di California 2.400 m. Nyamuk ini mampu hidup pada temperatur 8ºC-37ºC. Aedes aegypti bersifat Anthropophilic dan sering tinggal di dalam rumah (WHO, 1997). Kemampuan terbang nyamuk betina bisa mencapai 2 km tetapi kemampuan normalnya kira-kira 40 meter. Nyamuk Aedes mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple bitters) yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan karena nyamuk Aedes aegypti sangat sensitif dan mudah terganggu. Keadaan ini sangat membantu Aedes aegypti dalam memindahkan virus Dengue ke beberapa orang sekaligus sehingga dilaporkan adanya beberapa penderita DBD di dalam satu rumah (Depkes, 2004).Bila nyamuk Aedes menghisap darah manusia yang sedang mengalami viremia, maka nyamuk tersebut terinfeksi oleh virus Dengue dan sekali menjadi nyamuk yang infektif maka akan infektif selamanya (Putman JL dan Scott TW., 1996). Selain itu nyamuk betina yang terinfeksi dapat menularkan virus ini pada generasi selanjutnya lewat ovariumnya tapi hal ini jarang terjadi dan tidak banyak berperan dalam penularan pada manusia. Virus yang masuk dalam tubuh nyamuk membutuhkan waktu 8-10 hari untuk menjadi nyamuk infektif bagi manusia dan masa tersebut dikenal sebagai masa inkubasi eksternal (WHO, 1997).Memonitor kepadatan populasi Aedes aegypti merupakan hal yang penting dalam mengevaluasi adanya ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue di suatu daerah dan pengukuran kepadatan populasi nyamuk yang belum dewasa dilakukan dengan cara pemeriksaan tempat-tempat perindukan di dalam dan luar rumah. Ada 3 angka indeks yang perlu diketahui yaitu indeks rumah, indeks kontainer dan indeks Breteau (Srisari G et al., 2000). Indeks Breteau adalah jumlah kontainer yang positif dengan larva Aedes aegypti dalam 100 rumah yang diperiksa. Indeks Breteau merupakan indikator terbaik untuk menyatakan kepadatan nyamuk, sedangkan indeks rumah menunjukkan luas persebaran nyamuk dalam masyarakat. Indeks rumah adalah prosentase rumah ditemukannya larva Aedes aegypti. Indeks kontainer adalah prosentase kontainer yang positif dengan larva Aedes aegypti. Penelitian dari Bancroft pada tahun 1906 memberi dasar kuat untuk mempertimbangkan Aedes aegypti sebagai vektor dengan cara menginfeksi 2 sukarelawan di daerah tempat terjadinya infeksi alamiah. Dasar ini didukung pula dengan hasil penelitian Cleland dan kawan-kawan tahun 1917, juga penelitian dari Jupp tahun 1993 di Afrika Selatan yang menyatakan populasi Aedes aegypti paling besar potensinya sebagai vektor untuk virus DEN-1 dan DEN-2 (WHO, 2002).


Program Penanggulangan DBD di Indonesia

Departemen kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi kasus ini. Pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi kedua metode tersebut sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti (Rozendaal JA., 1997). Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu:

a. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk dan perbaikan desain rumah.
Sebagai contoh : menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu, mengganti dan menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan? air, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah?. Tumpah atau bocornya air dari pipa distribusi, katup air, meteran air dapat menyebabkan air menggenang dan menjadi habitat yang penting untuk larva Aedes aegypti jika tindakan pencegahan tidak dilakukan.

b. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14). Peran pemangsa yang dimainkan oleh copepod crustacea (sejenis udang-udangan) telah didokumentasikan pada tahun 1930-1950 sebagai predator yang efektif terhadap Aedes aegypti (Kay BH., 1996). Selain itu juga digunakan perangkap telur autosidal (perangkap telur pembunuh) yang saat ini sedang dikembangkan di Singapura.

c. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan pengasapan (fogging) (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup, menguras dan mengubur barang-barang yang bisa dijadikan sarang nyamuk. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk dan memeriksa jentik berkala sesuai dengan kondisi setempat (Deubel V et al., 2001).
Pemerintah juga memberdayakan masyarakat dengan mengaktifkan kembali (revitalisasi) pokjanal DBD di Desa/Kelurahan maupun Kecamatan dengan fokus pemberian penyuluhan kesehatan lingkungan dan pemeriksaan jentik berkala. Perekrutan warga masyarakat sebagai Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dengan fungsi utama melaksanakan kegiatan pemantauan jentik, pemberantasan sarang nyamuk secara periodik dan penyuluhan kesehatan. Peran media massa dalam penanggulangan KLB DBD dan sebagai peringatan dini kepada masyarakat juga ditingkatkan.

Dengan adanya sistem pelaporan dan pemberitahuan kepada khalayak yang cepat diharapkan masyarakat dan departemen terkait lebih wasapada. Intensifikasi pengamatan (surveilans) penyakit DBD dan vektor dengan dukungan laboratorium yang memadai di tingkat Puskesmas Kecamatan/Kabupaten juga perlu dibenahi (Kristina et al., 2004).

Semoga bermamfaat!!!
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 10 Januari 2009

Makanan Sel Cancer

SETELAH BERTAHUN2 MENGATAKAN PADA KHALAYAK BAHWA KEMOTERAPI ADALAH CARA
SATU2NYA UNTUK MENCOBA DAN MENGHILANGKAN PENYAKIT CANCER, JOHN HOPKINS AKHIRNNYA MULAI MENGATAKAN: " ADA CARA ALTERNATIF".

Update dari John Hopkins:

1.Tiap orang mempunyai sel kanker. Sel kanker ini tidak tampak dalam
pemeriksaan standar sampai sel2 ini berkembang biak hingga berjuta jumlah
nya. Pada saat dokter memberitahu pasien bahwa "tidak ada sel kanker lagi"
setelah menjalani pengobatan, itu artinya pemeriksaan yang dilakukan sudah
tidak dapat mendeteksi sel2 cancer karena sel2 tersebut sudah berada di
bawah ukuran/jumlah yang dapat terdeteksi.

2. Sel cancer tumbuh antara 6 sampai lebih dari 10 kali dalam jangka
waktu hidup manusia.

3. Pada saat kekebalan tubuh seseorang tinggi, sel2 cancer akan
dihancurkan dan dicegah sehingga tidak dapat bertambah banyak dan
membentuk tumor.

4. Pada saat seseorang menderita cancer ini menunjukkan bahwa orang
tersebut mengalami beberapa kekurangan nutrisi. Ini dapat terjadi karena
faktor genetika, lingkungan, makanan dan cara hidup.

5. Untuk menanggulangi kekurangan nutrisi dan memperkuat sistem
kekebalan tubuh dapat ditempuh dengan merubah diet (cara makan) dan
menambahkan asupan suplemen.

6. Kemoterapi, meracuni sel cancer yang bertumbuh cepat, tapi pada
saat yang sama juga menghancurkan pertumbuhan sel sehat dalam tulang
sumsum,gastro- intestinal tracts (saluran pencernaan) dll, dan dapat
menyebabkan kerusakan pada organ2 lain, seperti hati, ginjal, jantung,
paru2 dll.

7. Sedangkan radiasi, bersamaan dengan fungsinya yang menghancurkan
sel cancer, juga menyebabkan luka bakar,
meninggalkan bekas luka, dan merusak sel, tissues, dan organ yang sehat.

8. Perawatan dini dengan kemoterapi dan radiasi dapat mengurangi
ukuran tumor. Namun penerapan kemoterapi dan radiasi
yang berkepanjangan tidak akan menghasilkan pengurangan tumor lebih lanjut.

9. Pada saat tubuh menanggung beban racun yang berlebihan dari
kemoterapi dan radiasi, sistem kekebalan tubuh akan
terancam atau hancur, karena itulah seseorang akan mengalami berbagai macam
infeksi dan komplikasi.

10. Kemoterapi dan radiasi dapat menyebabkan sel kanker bermutasi dan
menjadi tahan dan sulit untuk dihancurkan. Operasi
juga dapat menyebabkan sel cancer menyebar ke tempat2 lainnya.

11. Cara efektif untuk melawan cancer adalah dengan membuatnya
kelaparan, yaitu dengan cara tidak memberikan makanan
yg dibutuhkan dalam sel untuk dapat berkembang biak.

SEL CANCER MEMAKAN:

1. Gula. Dengan meniadakan gula dalam asupan makanan itu berarti
menghilangkan makanan utama sel cancer. Pengganti gula seperti NutraSweet,
Equal, Spoonful, dll dibuat dari Aspartame, dan ini berbahaya. Pengganti
yang lebih natural yaitu madu Manuka atau molasses, tapi dalam jumlah yang
sedikit. Garam meja mengandung bahan kimia tambahan untuk menjadikannya
putih. Alternatif yang lebih baik yaitu Bragg's aminos atau garam laut.

2. Susu menyebabkan tubuh menghasilkan mucus, terutama di dalam
gastro-intestinal tract (saluran pencernaan). Mucus juga makanan sel
kanker. Dengan meniadakan susu dan menggantikannya dengan susu kedelai
(tanpa gula) sel-sel cancer akan kelaparan.

3. Sel2 cancer berkembang dengan baik di lingkungan yang tinggi asam.
Dietari yang berbasis daging sangat tinggi kadar asamnya. Oleh karena itu
lebih baik mengkonsumsi ikan, sedikit ayam daripada sapi atau babi. Daging
juga mengandung antibiotic, hormon tambahan dan parasit2 untuk peternakan.
Kesemuanya ini sangat berbahaya, terutama untuk penderita cancer.

4. Dietari yang 80% berbasis sayuran segar dan sarinya (jus), whole
grain , kacang2an dan sedikit buah akan membantu menjadikan tubuh dalam
situasi alkaline. 20% dari persentasi tadi dapat diambil dari makanan yang
dimasak termasuk kecambah. Sari sayuran segar mengandung enzim2 aktif/hidup
yang dapat diserap dengan mudah dan dapat mencapai titik selular dalam
waktu 15 menit untuk memberi makan dan mempercepat pertumbuhan sel2 sehat.
Guna memperoleh enzim2 aktif untuk membangun sel sehat, minumlah sari
sayuran segar (hampir semua jenis sayuran, termasuk kecambah) dan makanlah
sejumlah sayuran mentah 2-3 kali sehari. Enzim2 ini hancur pada temperature
40 derajat Celcius.

5. Hindari kopi, teh dan coklat, karena mengandung kafein yang
tinggi. The hijau lebih baik sebagai alternatifnya, dan mempunyai unsur2
yang memerangi cancer. Air, yang paling baik yaitu air yang sudah di saring
(filtered) guna menhindari racun2 dan kandungan2 logam dalam air keran.
Hindari air yang sudah melewati proses distilasi karena mengandung asam.

6. Protein dari daging sulit untuk di cerna dan membutuhkan enzim
pencerna yang cukup banyak. Kandungan daging yang tidak tercerna dan
tertinggal di saluran pencernaan akhirnya akan membusuk dan menambah
timbunan racun.

7. Dinding sel2 kanker mempunyai selaput protein yang kuat. Dengan
menghindari makanan mengandung daging, tubuh
membutuhkan jauh lebih sedikit enzim untuk mencerna makanan, sehingga
sebagian besar enzim dapat menyerang dinding protein pada sel2 cancer dan
selanjutnya memungkinkan bagi sel2 tubuh untuk menghancurkan sel2 cancer.

8. Beberapa suplemen menaikan system kekebalan tubuh (IP6,
Floressence, Essiac, anti-oxidants, vitamins, mineral, EFAs dll) sehingga
memungkinkan sel2 tubuh sehat untuk menghancurkan sel2 cancer. Suplemen lain
seperti Vitamin E diketahui menyebabkan apoptosis, atau sel mati
terprogram, yaitu metode natural dari tubuh untuk membuang sel2 yang rusak,
yang tidak dikehendaki, atau tidak dibutuhkan.

9. Cancer adalah penyakit yang melibatkan pikiran, tubuh dan jiwa.
Jiwa yang proaktif dan positif akan membantu penderita cancer untuk sembuh.
Kemarahan, tidak dapat memaafkan, dan kegetiran menjadikan tubuh dalam
situasi yang tegang dan berkadar asam tinggi. Belajar untuk berjiwa lembut
dan pemaaf. Belajar untuk bersantai dan menikmati hidup.

10. Sel cancer tidak dapat berkembang dalam lingkungan yang tinggi oksigen.
Berolahraga setiap hari dan menghirup nafas dalam2 dapat membantu asupan
oksigen dalam tahap selular. Terapi oksigen juga salah satu cara yang
digunakan untuk menghancurkan sel2 cancer.

Jangan menggunakan tempat plastic di microwave, Jangan memasukan botol air
ke freezer, Jangan menggunakan 'plastic wrap' di microwave.

Rumah Sakit John Hopkins baru-baru ini memasukkan berita ini di
newsletters -nya. Informasi ini juga diedarkan di Walter Reed Army Medical
Center .

Dioxin adalah jenis bahan kimia yang menyebabkan cancer, terutama cancer
payudara. Dioxin juga berkadar racun tinggi bagi sel2 di tubuh kita.

Jangan membekukan botol plastik dengan air di dalamnya karena ini melepaskan
kandungan dioxin yang terdapat dalam plastik.

Baru2 ini Dr. Edward Fujimoto, Wellness Program Manager di Rumah Sakit
Castle, hadir di satu program televisi untuk menjelaskan bahaya kesehatan
ini. Beliau menjelaskan sebaiknya tidak memanaskan makanan di dalam
microwave menggunakan tempat plastik.

terlebih untuk makanan yang mengandung lemak. Beliau juga mengatakan bahwa
kombinasi lemak, panas tinggi dan plastic melepaskan dioxin ke dalam
makanan yang akhirnya akan masuk ke dalam sel2 tubuh. Beliau menghimbau
untuk memanaskan makanan di microwave dengan Corning Ware, Pyrex atau
keramik. Produk kertas tidak begitu jelek namun kita tidak tau apa yang ada
di kertas tersebut. Lebih aman menggunakan produk2 di atas. Dia mengingatkan
kita bahwa beberapa waktu lalu restoran cepat saji beralih dari produk foam
ke kertas. Hal ini juga disebabkan karena masalah dioxin.

Beliau juga mengungkapkan tentang plastic wrap seperti Saran, juga
berbahaya untuk digunakan menutup makanan yang akan di panaskan dalam
microwave. Panas yang tinggi dapat menyebabkan zat2 beracun meleleh dan
menetes ke dalam makanan. Tutuplah makanan dengan paper towel (tissue
dapur).



Have a positive day!




Baca Selengkapnya...

Jangan Abaikan Infeksi Vagina

KEBERSIHAN di area vagina acap kali diabaikan kaum hawa. Padahal jika berlarut-larut, akan lebih rentan terinfeksi virus berbahaya.

Kurangnya informasi dan malu memeriksakan diri ke dokter merupakan dua masalah klasik yang membuat wanita mengabaikan ketidaknyamanan di area organ intim. Penelitian di Inggris menyebutkan, hampir 50 persen wanita mengalami ketidaknyamanan pada vagina dan hampir separuhnya mengabaikannya. Padahal, mereka menyadari adanya gangguan, seperti gatal, kotor, dan berbau.

Selain kurangnya pengetahuan tentang cara merawat organ intim yang benar, banyak wanita tidak mengetahui bagaimana mengidentifikasi, menangani, atau mencegah masalah organ intim secara tepat. Manakala pendidikan seks saat ini mulai mudah diakses, informasi terkait aspek kesehatan reproduksi belum banyak tersedia bagi wanita. Apalagi umumnya wanita masih merasa malu untuk meminta bantuan atau berdiskusi dengan ahli medis.

"Dari 50 persen wanita, hanya 8 persen yang menghubungi dokter untuk berkonsultasi perihal bacterial vaginosis (BV)," sebut ahli kebidanan dan kandungan dari Imperial College London dan Northwick Park Institute of Medical Research, Ronnie Lamont.

Dia memaparkan, BV merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan bakteri atau flora pada vagina, yang mana menjadi penyebab paling umum dari ketidaknyamanan di area vagina. Sayangnya, kaum wanita hingga saat ini masih kerap menyepelekan.
Tak jarang mereka melakukan diagnosis sendiri lalu menyimpulkan dan melakukan pengobatan sendiri pula. "Seharusnya wanita dan petugas kesehatan menaruh perhatian lebih pada kasus ini dan menganggap deteksi BV merupakan tes yang sama penting, seperti halnya papsmeardanpemeriksaan payudara," sebutnya.

Kurangnya pendidikan yang ditambah keengganan mencari bantuan medis membuat wanita terus terpuruk dengan ketidaknyamanan yang dirasakannya.Berdasarkan survei, hampir 40 persen wanita mengabaikan iritasi pada vagina dan tidak melakukan apa pun untuk mengatasinya. Ada pula yang mencoba mengobati sendiri, dan tak jarang mereka salah kaprah dalam mendiagnosis dan salah mengobati.

Seorang ibu rumah tangga, Jackie Davis, 38, misalnya, pernah mengalami infeksi vagina berulang kali selama beberapa tahun yang menye-babkannya merasaminderdan tidak bisa mengenakan pakaian (bawahan) yang dia sukai.

"Saya selalu merasa bahwa informasi tentang kesehatan vagina masih sangat kurang dan sulit mendiskusikannya dengan dokter atau apoteker. Karena itu, saya pun mengalami ketidaknyamanan di area vagina selama bertahun-tahun. Selama itu pula saya mencoba menghindari gejala dan mengobati sendiri," kata warga Inggris itu.

Sebagai organ vital dalam kelangsungan proses reproduksi, seharusnya wanita memperhatikan aspek kesehatan vagina. Jika tidak dijaga betul kebersihannya, area sensitif ini juga bisa menjadi pintu masuk banyak kuman berbahaya seperti HPV (human pappiloma virus) penyebab kutil kelamin dan kanker serviks, serta dan HIV (human immunodeficiency virus) penyebab AIDS.

Peneliti dari Universitas Karolina Utara di Chapel Hill melaporkan bahwa infeksi vagina yang umum mungkin membuat wanita lebih rentan terinfeksi HIV. Hal tersebut didasarkan pada lebih dari 23 penelitian ilmiah terhadap lebih dari 30.700 wanita di seluruh dunia yang menunjukkan wanita pengidap BV berisiko lebih tinggi terinfeksi HIV dibandingkan wanita lainnya.

"Mengingat infeksi BV dan HIV sama-sama menular lewat seksual, sulit mendeterminasi hubungan sebab- akibatnya, atau alasan mengapa wanita dengan BV cenderung lebih rentan terinfeksi HIV dibanding yang lainnya," kata ahli epidiologi dari Sekolah Kesehatan Umum Universitas Karolina Utara, Jennifer S Smith.

Selain menimbulkan ketidaknyamanan, penelitian menunjukkan bahwa BV dapat menyebabkan masalah pada kandungan. Antara lain kelahiran prematur, radang panggul, dan infeksi kelamin bagian atas.
(sindo//tty)




Baca Selengkapnya...

Infeksi Kelamin Berisiko Keguguran

KENYATAAN bahwa infeksi kelamin dapat memengaruhi kandungan juga pernah dibuktikan dalam sebuah penelitian di Inggris beberapa waktu silam.

Para peneliti mendapati bahwa infeksi kelamin yang umum terkait dengan risiko keguguran pada trimester kedua. Untuk itu, wanita hamil disarankan untuk melakukan skrining dan penanganan sedini mungkin sejak awal kehamilan sehingga mengurangi risiko keguguran.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa wanita dengan Bacterial Vaginosis (BV) tiga kali lebih berisiko mengalami keguguran dalam minggu pertama trimester kedua kehamilan. Pada studi sebelumnya, peneliti Philip Hay MDBS dan timnya mendapati bahwa infeksi juga terkait dengan risiko keguguran lima kali lebih besar pada wanita yang hamil 16-24 minggu.

"Dari penelitian yang lalu kita tahu bahwa infeksi dapat meningkatkan risiko keguguran pada kehamilan, dan hasil penelitian selanjutnya bahkan melaporkan bahwa risiko ini bisa datang lebih cepat, yakni pada usia kehamilan trimester kedua," ujarnya.

BV merupakan infeksi kelamin paling umum pada wanita usia reproduksi. Center for Dissease Control (CDC) Amerika memperkirakan sebanyak 16 persen wanita hamil mengalaminya, yang ditandai dengan ketidakseimbangan.

Dalam penelitian yang dipublikasikan British Medical Journal tersebut, Hay dan timnya melakukan tes BV pada 1.200 wanita yang tengah hamil kurang dari 10 minggu. Sebanyak 121 wanita mengalami keguguran sebelum usia kehamilan mereka menginjak 16 minggu.

Studi yang dilakukan Institut Kesehatan Nasional Inggris juga mendapati penanganan infeksi vagina lainnya, yakni trichomoniasis dengan obat-obatan seperti metronidazole mungkin perlu mempertimbangkan dampaknya bagi wanita hamil.
Trichomoniasis, seperti halnya BV, juga menunjukkan peningkatan risiko kelahiran prematur.

Dalam studi tersebut, peneliti Mark Klebanoff MD mencatat jumlah wanita hamil yang mengalami kelahiran prematur dua kali lebih banyak pada mereka yang ditangani dengan obat-obatan tersebut ketimbang wanita hamil yang tidak mengonsumsi obat-obatan. Kemungkinan hal tersebut karena penanganan yang terlambat. Maksudnya, andai saja dilakukan sejak awal, pengobatan mungkin sukses menyembuhkan tanpa adanya efek samping apa pun.

"Kita perlu mendesain studi untuk membuktikan bahwa penanganan dini mungkin dapat bermanfaat lebih baik. Namun, alangkah jauh lebih baik bila wanita mencegah jangan sampai terinfeksi," katanya.

Di samping infeksi kelamin, penyakit menular seksual (PMS) di Inggris juga terus meningkat. Hampir 400.000 kasus infeksi baru terdiagnosis tahun lalu, yang itu berarti peningkatan sekitar 6 persen pada tahun 2006. Separuh dari kasus baru ditemukan pada orang dewasa muda usia 16-24 tahun yang merupakan 12 persen dari populasi.

Agen Perlindungan Kesehatan Inggris merekomendasikan seluruh orang dewasa muda untuk melakukan tes chlamydia setiap tahun sebagai bagian dari program deteksi (skrining) nasional. Chlamydia merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang paling lazim terjadi.

Gwenda Hughes, staf Agen Perlindungan Kesehatan Inggris untuk Penyakit Infeksi mengungkapkan, orang dewasa muda paling rentan terpengaruh IMS. "Pasalnya, mereka lebih aktif secara seksual, kerap memiliki pasangan lebih dari satu, serta punya kecenderungan untuk berhubungan seksual secara berlebihan atau sebagai aksi iseng-iseng," ujarnya.
(sindo//tty)




Baca Selengkapnya...

ENDOCARDITIS

Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditid biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini didahului dengan endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus, dan lain-lain.

Endokarditis tidak hanya terjadi pada endokard dan katub yang telah mengalami kerusakan, tetapi juga pada endokar dan katub yang sehat, misalnya penyalahgunaan narkotik perintravena atau penyakit kronik. Perjalanan penyakit ini bisa; akut, sub akut, dan kronik, tergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan penderita. Infeksi subakut hampir selalu berakibat fatal, sedangkan hiperakut/akut secara klinis tidak pernah ada, karena penderita meninggal terlebih dahulu yang disebabkan karena sepsis. Endokarditis kronik hampir tidak dapat dibuat diagnosanya, karena gejalanya tidak khas.


Etiologi
Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian atas. Sebelum ditemuklan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis infeksi disebabkan oleh strptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50 % penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis subakut. Penyebab lainnya adalah streptokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida.


Faktor-faktor predisposisi dan faktor pencetus.
Faktor predisposisi diawali dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps katub mitral, post operasi jantung, miokardiopati hipertrof obstruksi.
Endokarditi infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung. Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis adalah penyakit jantung bawaan tanpa ciyanosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis, diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout, dan penyalahan narkotik intravena.
Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut, kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan.


Patofisiologi
Kuman paling sering masuk melalui saluran napas bagian atas selain itu juga melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata mudah sekali terinfeksi dan menimbulakan vegetasi yang terdiri atas trombosis dan fibrin. Vaskularisasi jaringan tersebut biasanya tidak baik, sehingga memudahkan mikroorganisme berkembang biak dan akibatnya akan menambah kerusakan katub dan endokard, kuman yang sangat patogen dapat menyebabkan robeknya katub hingga terjadi kebocoran. Infeksi dengan mudah meluas ke jaringan sekitarnya, menimbulkan abses miokard atau aneurisme nekrotik. Bila infeksi mengenai korda tendinae maka dapat terjadi ruptur yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katub.
Pembentukan trombus yang mengandung kuman dan kemudian lepas dari endokard merupakan gambaran yang khas pada endokarditis infeksi. Besarnya emboli bermacam-macam. Emboli yang disebabkan jamur biasanya lebih besar, umumnya menyumbat pembuluh darah yang besar pula. Tromboemboli yang terinfeksi dapat teranggkut sampai di otak, limpa, ginjal, saluran cerna, jantung, anggota gerak, kulit, dan paru. Bila emboli menyangkut di ginjal. akan meyebabkan infark ginjal, glomerulonepritis. Bila emboli pada kulit akan menimbulkan rasa sakit dan nyeri tekan.


Gejala-gejala
Sering penderita tidak mengetahui dengan jelas. Sejak kapan penyakitnya mulai timbul , misalnya sesudah cabut gigi, mulai kapan demam, letih-lesu, keringat malam banyak, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, sakit sendi, sakit dada, sakit perut, hematuria, buta mendadak, sakit pada ekstremitas (jari tangan dan kaki), dan sakit pada kulit.


Gejala umum
Demam dapat berlangsung terus-menerus retermiten / intermiten atau tidak teratur sama sekali. Suhu 38 - 40 C terjadi pada sore dan malam hari, kadang disertai menggigil dan keringat banyak. Anemia ditemukan bila infeksi telah berlangsung lama. pada sebagian penderita ditemukan pembesaran hati dan limpha.
Gejala Emboli dan Vaskuler
Ptekia timbul pada mukosa tenggorok, muka dan kulit (bagian dada). umumya sukar dibedakan dengan angioma. Ptekia di kulit akan berubah menjadi kecoklatan dan kemudian hilang, ada juga yang berlanjut sampai pada masa penyembuhan. Emboli yang timbul di bawah kuku jari tangan (splinter hemorrhagic).
Gejala Jantung
Tanda-tanda kelainan jantung penting sekali untuk menentukan adanya kelainan katub atau kelainan bawaan seperti stenosis mitral, insufficiency aorta, patent ductus arteriosus (PDA), ventricular septal defect (VCD), sub-aortic stenosis, prolap katub mitral. Sebagian besar endocarditis didahului oleh penyakit jantung, tanda-tanda yang ditemukan ialah sesak napas, takikardi, palpasi, sianosis, atau jari tabuh (clubbing of the finger). Perubahan murmur menolong sekali untuk menegakkan diagnosis, penyakit yang sudah berjalan menahun, perubahan murmur dapat disebabkan karena anemia . Gagal jantung terjadi pada stadium akhir endokarditis infeksi, dan lebih sering terjadi pada insufisiensi aorta dan insufisiensi mitral, jarang pada kelainan katub pulmonal dan trikuspid serta penyakit jantung bawaan non valvular .


Endokarditis infeksi akut
Infeksi akut lebih sering timbul pada jantung yang normal, berbeda dengan infeksi sub akut, penyakitnya timbul mendadak, tanda-tanda infeksi lebih menonjol, panas tinggi dan menggigil, jarang ditemukan pembesaran limfa, jari tabuh, anemia dan ptekia . Emboli biasanya sering terjadi pada arteri yang besar sehingga menimbulkan infark atau abses pada organ bersangkutan. Timbulnya murmur menunjukkan kerusakan katub yang sering terkena adalah katub trikuspid berupa kebocoran, tampak jelas pada saat inspirasi yang menunjukkan gagal jantung kanan, vena jugularis meningkat, hati membesar, nyeri tekan, dan berpulsasi serta udema. Bila infeksi mengenai aorta akan terdengar murmur diastolik yang panjang dan lemah. Infeksi pada aorta dapat menjalar ke septum inter ventricular dan menimbulkan abses. Abses pada septum dapat pecah dan menimbulkan blok AV . Oleh karena itu bila terjadi blok AV penderita panas tinggi, kemungkinan ruptur katub aorta merupakan komplikasi yang serius yang menyebabkan gagal jantung progresif. Infeksi katub mitral dapat menjalar ke otot papilaris dan menyebabkan ruptur hingga terjadi flail katub mitral.

Laboratorium
Leukosit dengan jenis netrofil, anemia normokrom normositer, LED meningkat, immunoglobulin serum meningkat, uji fiksasi anti gama globulin positf, total hemolitik komplemen dan komplemen C3 dalam serum menurun, kadar bilirubin sedikit meningkat.
Pemeriksaan umum urine ditemukan maka proteinuria dan hematuria secara mikroskopik. Yang penting adalah biakan mikro organisme dari darah . Biakan harus diperhatikan darah diambil tiap hari berturut-turut dua / lima hari diambil sebanyak 10 ml dibiakkan dalam waktu agak lama (1 - 3 minggu) untuk mencari mikroorganisme yang mungkin berkembang agak lambat. biakkan bakteri harus dalam media yang sesuai. NB: darah diambil sebelum diberi antibiotik . Biakan yang positif uji resistansi terhadap antibiotik.

Echocardiografi
Diperlukan untuk:
- Melihat vegetasi pada katub aorta terutama vegetasi yang besar ( > 5 mm)
- Melihat dilatasi atau hipertrofi atrium atau ventrikel yang progresif
- Mencari penyakit yang menjadi predisposisi endokarditis ( prolap mitral, fibrosis, dan calcifikasi katub mitral )
- Penutupan katub mitral yang lebih dini menunjukkan adanya destrruktif katub aorta dan merupakan indikasi untuk melakukan penggantian katub

Diagnosis
Diagnosis endokarditis infeksi dapat ditegakkan dengan sempurna bila ditemukan kelainan katub, kelainan jantung bawaan, dengan murmur , fenomena emboli, demam dan pembiakan darah yang positif. Diagnosis dapat ditegakkan bila memenuhi kriteria diatas.
Endokarditis paska bedah dapat diduga bilamana terjadi panas, leukositosis dan anemia sesudah operasi kardiovaskuler atau operasi pemasangan katub jantung prostetik.

Pengobatan
Pemberian obat yang sesuai dengan uji resistensi dipakai obat yang diperkirakan sensitif terhadap mikroorganisme yang diduga. Bila penyebabnya streptokokus viridan yang sensitif terhadpa penicillin G , diberikan dosis 2,4 - 6 juta unit per hari selama 4 minggu, parenteral untuk dua minggu, kemudian dapat diberikan parenteral / peroral penicillin V karena efek sirnegis dengan streptomicin, dapat ditambah 0,5 gram tiap 12 jam untuk dua minggu . Kuman streptokokous fecalis (post operasi obs-gin) relatif resisten terhadap penisilin sering kambuh dan resiko emboli lebih besar oleh karena itu digunakan penisilin bersama dengan gentamisin yang merupakan obat pilihan. Dengan dosis penisilin G 12 - 24 juta unit/hari,dan gentamisin 3 - 5 mg/kgBB dibagi dalam 2 - 3 dosis. Ampisilin dapat dipakai untuk pengganti penisilin G dengan dosis 6 - 12 gr/hari . Lama pengobatan 4 minggu dan dianjurkan sampai 6 minggu. Bila kuman resisten dapat dipakai sefalotin 1,5 gr tiap jam (IV) atau nafcilin 1,5 gr tiap 4 jam atau oksasilin 12 gr/hari atau vankomisin 0,5 gram/6 jam, eritromisin 0,5 gr/8 jam lama pemberian obat adalah 4 minggu. Untuk kuman gram negatif diberikan obat golongan aminoglikosid : gentamisin 5 - 7 mg/kgBB per hari, gentamisin sering dikombinsaikan dengan sefalotin, sefazolia 2 - 4 gr/hari , ampisilin dan karbenisilin. Untuk penyebab jamur dipakai amfoterisin B 0,5 - 1,2 mg/kgB per hari (IV) dan flucitosin 150 mg/Kg BB per hari peroral dapat dipakai sendiri atua kombinasi. Infeksi yang terjadi katub prostetik tidak dapat diatasi oleh obat biasa, biasanya memerlukan tindakan bedah. Selain pengobatan dengan antibiotik penting sekali mengobati penyakit lain yang menyertai seperti : gagal Jantung . Juga keseimbangan elektrolit, dan intake yang cukup .

Pencegahan
Faktor predisposisi sebaiknya diobati (gigi yang rusak, karies,selulitis dan abses).





Baca Selengkapnya...

Jangan Sembarang Gunakan Antiseptik

KEPUTIHAN, yang dalam ilmu kedokteran disebut fluor albus, leukorea, atau white discharge, adalah gejala berupa cairan yang keluar dari vagina. Hampir semua wanita pernah mengalami keputihan.

Selama cairan tersebut berwarna jernih, tidak berbau, tidak menimbulkan gatal, dan tidak banyak jumlahnya, berarti masih dalam kondisi normal. Tapi bila sudah timbul keluhan seperti adanya rasa gatal dan cairan itu pun berbau serta berubah warna, berarti sudah tidak normal lagi. Adanya perubahan pada cairan itu menunjukkan gejala suatu penyakit, seperti kanker, kencing nanah, dan penyakit kelamin lainnya.

***
KEPUTIHAN --dalam kondisi normal-- biasanya ditemui ketika wanita baru mendapat haid pertama, ketika terangsang, saat masa subur, sebelum dan sesudah haid, saat hamil, karena pemakaian kontrasepsi hormonal, akibat penyakit menahun, serta pada bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari (hormon dari ibunya).

Junita Indarti, dokter kandungan dan kebidanan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan FKUI mengungkapkan hal itu dalam seminar "Kiat Tampil Cantik dan Bergairah di Masa Kehamilan", di Hotel Menara Peninsula, pertengahan Oktober lalu. Ia menuturkan, penyebab keputihan yang tidak normal bermacam-macam. Bisa karena infeksi, bakteri, jamur, parasit, virus, benda asing, kanker, menopause, dan kelainan alat kelamin akibat cedera persalinan, radiasi, dan sebagainya. Karena itu perlu pemeriksaan laboratorium agar pengobatan bisa dilakukan dengan benar.

"Pengobatan pada seorang penderita fluor albus adalah menghilangkan gejalanya, memberantas penyebabnya, dan mencegah timbulnya kembali fluor albus tidak normal," ujar Junita.
Junita menambahkan, kalaupun masuk dalam kategori normal, gejala keputihan tetap harus diwaspadai. Hal ini berkaitan dengan kelembaban/basah pada sekitar alat kelamin yang dapat menimbulkan iritasi dan memudahkan tumbuhnya jamur dan kuman penyakit.

Menurut dokter lulusan FKUI 1983 ini, menjaga kebersihan alat kelamin luar pada wanita sangat penting dalam upaya mencegah timbulnya keputihan dan mencegah penyakit kelamin. Kulit daerah alat kelamin dan sekitarnya harus diusahakan agar tetap kering dan bersih. Gunakan handuk atau tisu bila berkeringat atau setelah buang air.
Selain itu, hindari pemakaian pakaian yang ketat dan celana dalam bukan katun. Sebab, cairan akan keluar lebih banyak dan kulit jadi lembab.

Larutan antiseptik

Junita juga menyinggung kebiasaan sebagian wanita menggunakan larutan antiseptik untuk mencegah keputihan. Menurut Junita, pemakaian larutan antiseptik yang terlalu sering justru dapat merugikan. Karena antiseptik itu akan mematikan kuman yang sebenarnya menguntungkan bagi tubuh. Larutan antiseptik, menurut Junita, bisa digunakan sehabis bepergian, bila timbul gatal-gatal setelah memakai baju ketat, dua hari sebelum dan empat hari sesudah haid.

"Semua pengobatan 'kan harus ada indikasinya. Kalau normal, tidak perlu pengobatan. Jadi kalau tidak ada gejala apa pun, larutan antiseptik tidak perlu digunakan," tutur Junita.
Bila sudah menggunakan larutan antiseptik, tapi ternyata keluhan tidak juga hilang, Junita menyarankan segera memeriksakan diri ke laboratorium. Penyebabnya akan diketahui dan penanggulangan secara benar bisa cepat dilakukan. (lis)

Keputihan normal:
- Jernih
- Tidak berbau
- Tidak gatal

Keputihan tidak normal:
- PH menjadi lebih basah
- Warna kuning kehijauan seperti nanah
- Perubahan konsistensi seperti dari lendir menjadi lebih padat, bergumpal atau seperti kepala susu
- Bau mencolok/tercium seperti bau apek atau amis
- Rasa gatal
- Terasa nyeri saat buang air kecil
Pencegahan:
- Keringkan kulit daerah alat kelamin dengan handuk atau tisu bila berkeringat atau setelah buang air
- Agar tidak terjadi infeksi dari mikroorganisme yang berasal dari anus/dubur, dianjurkan cebok dari arah depan ke arah belakang
- Hindari pakaian dalam yang ketat dan tidak menyerap keringat
- Bila berada di WC umum, jangan cebok dengan air tergenang (di bak). Pakailah air yang langsung dari keran. Karena dikhawatirkan air yang tergenang telah terkontaminasi jamur candida -- salah satu penyebab keputihan Kompas.com, 26/11/2000



Baca Selengkapnya...

DHF dan Asuhan Keperawatan

1. Pengertian DHF
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (betina), terutama menyerang anak remaja dan dewasa dan sering kali menyebabkan kematian bagi penderita (Effendy, Skp, 1995:1)
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, terutama menyerang anak remaja dan dewasa dengan gejala utama demam manifestasi perdarahan, nyeri otot dan sendi dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang menyebabkan kematian.

2. Etiologi
Virus dengue serotif yang ditularkan melalui vektor nyamuk aedes aegepty, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis, dan beberapa jenis lain. Merupakan vektor yang kurang berperan. Vektor-vekror ini biasa bersarang dibejana-bejana yang berisi air jernih dan tawar seperti bak mandi, drum penampung air, kaleng bekas dan lain-lain. Hal ini berhubungan erat dengan pola hidup masyarakat dimana masyarakat mempunyai kebiasaan menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari, sanitasi lingkungan yang kurang baik, penyediaan air bersih yang langka.


3. Patofisiologi
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, klien akan mengalami keluhan dan gejala virema seperti demam, sakit kepala,mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hipereremia ditenggorokan, timbul ruam dan kelainan yang mungkin tejadi pada sistem retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati ( hepatomegali ), pembesaran limpa ( splenomegali ), alkalosis respiratorik, trombositopenia, vaskulitis, dan reaksi imunologik.

4. Manifestasi Klinis
a. Gambaran klinis amat bervariasi, dari yang amat ringan ( silent dengue infection ) hingga yang sedang seperti DHF, sampai ke DHF dengan manifestasi demam akut, perdarahan, serta kecenderungan terjadi lonjatan yang berakibat fatal. Masa inkubasi dengue antara 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari.

b. Nyeri dibagian otot terutama dirasakan bila otot perut dan tendon ditekan. Sekitar mata mungkin ditemukan pembengkakan, otot mata terasa sakit bila disentuh dan pergerakan bola mata terasa pegal, nyeri otot abdomen, nyeri ulu hati, pegal-pegal pada seluruh tubuh, kemerahan pada kulit, lakrimasi dan fotofobia.

c. Perdarahan pada kulit ( petekie, ekimosis, hematoma ) serta perdarahan lain ( seperti epistaksis, hematuria, dan melena ). Gejala perdarahan seperti terjadi pada hari ke 3 atau ke 5.

d. Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, sakit waktu menelan, serta keluhan pada saluran pencernaan : mual, muntah, tak nafsu makan ( anoreksia ), diare dn kontsipasi.

e. Eksantem yang klasik ditemkan dalam 2 fase, mual-mual pada awal demam ( initial rash ) terlihat pada muka dan dada, berlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak diperhatikan oleh klien. Mulai antara hari ke 3-6, mula-mula berbentuk makula-makula besar yang bersatu dan mencuat kembali, serta timbul bercak-bercak petekie pada dasarnya. Terlihat pada lengan dan kaki.

f. Pada sebagian besar klien ditemukan kurva suhu yang bifalk ( sadle back fever ). Nadi mula-mula cepat dan dapat menjadi normal atau lebi lambat pada hari ke 4 dan ke 5. bradikardi dapat menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan.

g. Lidah sering kotor dan kadang klien susah buang air besar.


Patokan WHO ( 1975 )untuk menegakkan diagnosa DHF adalah :
a. Demam tinggi dan terus menerus selama 2-7 hari
b. Manifestasi perdarahan, termaksuk setidak-tidaknya uji torniquet positif dan salah satu betuk lain ( petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi )
c. Pembesaran hati
d. Renjatan yang ditandai nadi lemah, cepat disertai tekanan darah menurun ( tekana sistolik menjadi 80 mmHg dan diastolik 20 mmHg atau kurang ) disertai kulit yang eraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki, penderita gelisah, timbul sianosis disekitar mulut.


5. Derajat Beratnya Penyakit
Tabel 2.1 Derajat beratnya penyakit secara klinis
Derajat Ringan,
bila demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klinik lain dan manifestasi perdarahan yaitu tes torniquet positif

Derajat Sedang,
dengan gejala lebih berat I, disertai perdarahan kulit, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis atau melena. Terdapat gangguan sirkulasi darah perifer yang ringan berupa kulit dingin dan lembab, ujung jari dan hidung dingin.

Derajat Berat,
ditemukan kegagalan sirkulasi, nadi cepat dan lemah, hipotensi gelisah, syanosis sekitar mulut dan tanda-tanda dini renjatan.
Berat sekali, penderita syok berat, tensi tidak teratur, dan nadi tidak lemah.

6. Pemeriksaan Penunjang
Untuk menegakkan diagnosa DHF maka perlu dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu :
a. Darah
Pada darah akan ditemui leukopenia yang akan terlihat pada hari kedua atau hari ketiga dan titik rendah pada saat peningkatan suhu kedua kalinya. Leukepenia timbul pada saat berkurangnya limposit pada saat peningkatan sehu pertama kali.
b. Air Seni
Mungkin ditemukan albuminoria ringan

c. Sum-sum tulang
Pada awal sakit biasanya hiposeluler kemudian menjai hiperseluler pada hari ke 5 dengan gangguan maturasi, sedangkan pada hari ke 10 biasanya sudah kembali normal untuk semua sistem.

d. Uji Serologi
Dapat dikategorikan dalam 2 kelompok besar:
1. Uji serlogi mengunakan serum ganda
2. Uji serologi mengunakan serum tunggal

e. Isolasi Virus
Bahan pemeriksaan adalah darah penderita, jaringan-jaringan baik dari klien hidup ( melalui biopsi ) dan dari klien yang sudah meninggal ( melalui autopsi ) ( hendarwanto, 1996:423 ).


7. Menejemen Medik Secara Umum
• Tirah baring atau istirahat baring
• Diet makana lunak : bila belum ada nafsu makan dianjurkan untuk minum banyak 1,5-2 liter dalam 24 jam ( susu, air, the dengan gula atau sirup ).
• Medika mentosa dan bersifat simtomatis : untuk hiperpireksi dapat diberikan kompres es dikepala, ketiak, dan inguinal. Antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminofen, eukinin, atau dipiron. Hindari pemakaian asetosal karena bahaya perdarahan.
• Antibiotik diberikan bila bila didapat kekawatiran infeksi sekunder.
• Pemberian cairan intra vena ( rl, nacl, asering )
• Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam sekali, jika memburuk observasi tiap 1 jam sekali.
• Periksa hb, ht, dan trombosit setiap hari
• Monitor tanda-tanda dini renjatan
• Bila terjadi kejang diberi diazepam
• Tranfusi darah dengan syok
• Pada kasus renjatan berat infus diguyur.


Pada penatalaksanakan penderita dengan DHF diperlukan tindakan perawatan invasif, yaitu :
a. Pemasangan infus
Tujuannya adalah untuk pemberian cairan intra vena.
b. Kompres dingin
Tujuannya untuk mengatasi hipertermi ( menurunkan suhu tubuh ) diberikan pada klien suhu tubuh> 38 derajat celcius. Seringkali klien mengigil sebelum panas dingin, twetapi sekarang ini berdasarkan perkembangan dibidang ilmu keperawatan lebih banyak menggunakan kompres hangat.
c. Pengambilan darah vena
Untuk pemeriksaan kimia atau hematologi darah. Spesimen darah yang digunakan sesuai dengan jenis pemeriksaan darah seperti darah beku, sitrat.
d. Pengambilan darah arteri
Tujuannya untuk pemeriksaan analisa gas darah dengan menambahkan heparin kedalam darah yang akan diperiksa.
e. Pemasangan NGT
Untuk mengeluarkan cairan lambung pada perdarahan saluran pencernaan atas.
f. Uji torniquet
Dilakukan untuk dilakukan untuk mengetahui adanya perdarahan pada dibawah kulit.hasilnya dikatakan positif jika tampak adanya petekie atau bintik-bintik merah dibawah kulit.



8. Dampak terhadap KDM
a. Gangguan keseimbangan suhu tubuh : hypertemia
Disebabkan invasi virus dengue melalui gigitan nyamuk aedes aegypti
b. Gangguan keseimbangan cairan dan elektolit
Disebabkan masuknya virus dengue yang dapat meningkatkan metabolism tubuh yang timbul panas dan sebagai kompensasi tubuh akan terjadi evavorasi tubuh
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL
Disebabkan masuknya virus dengue merangsang antigen antibodi untuk meningkatkan metabolisme tubuh
d. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
Akibat adanya respon peningkatan suhu tubuh yang merangsang medula vomitting center sehingga menimbulkan mual dan muntah
e. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur
Disebabkan karena adanya stimulus demam yang tinggi akan merangsang susunan saraf otonom.
f. Gangguan rasa aman cemas
Karena kurangnya pengetahuan dan informasi tentang penyakiy dan prses pengobatan yang merupakan klien sehingga klien menjadi cemas
g. Potensial terjadi perdarahan
Adanya komplek virus antibodi dalam sirkulasi darah menyebabkan trombosit kehilangan fungsi agregasi dan mengalami metamorfosis yang dimusnahkan oleh sistem retikuloendotel sehinga akan terajadi trombositopenia.



9. Dampak terhadap sistem tubuh
• Sistem pernafasan
Pada pernafasan biasanya ditemukan keluhan yaitu batuk, pilek dan sakit waktu menelan
• Sistem kardiovaskuler
pada sistem ini biasanya ditemukan nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun ( hipotensi ), sianosis sekitar mulut, hidung dan ujung jari, canosis daerah perifer, perdarahan ( uji torniquet + ), trombositopenia, hematokrit lebih kurang 20%.
• Sistem gastrointestinal
Pada sistem ini biasanya ditemukan mual, muntah perdarahan pada gusi, anoreksia, diare, konstipasi,hematosis, melena, hepatomegali, splenomegali, dan nyeri ulu hati.
• Sistem pesyarafaran
Pada sistem ini biasanya ditemukan nyeri atau sakit kepala ( pusing )
• Sistem perkemihan
Pada sistem ini biasanya ditemukan adanya hematuri dan albuminuria.
• Sistem muskuloskeletal
Pada sistem ini biasanya ditemukan adanya nyeri otot, tulang, nyeri otot dan sendi ( breakbone fever ), nyeri otot abdomen, dan pegal-pegal seluruh tubuh.
• Sistem endokrin
Pada sistem ini biasanya ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening yang akan kembali normal pada masa penyembuhan
• Sistem integumen
Pada sistem ini biasanya ditemukan adanya petekie, ekimosis, hematom, kemerahan pada kulit, kemerahan pada muka, dan suhu tubuh meningkat ( panas )
• Sistem genetelia
Pada sistem ini tidak ditemukan kelainan.


10. Darah
• Pengertian
Darah adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat dalam pembuluh darah yang berwarna merah. Warna merah itu keadanya tidak tetap tergantung pada banyaknya O2 dan C02 didalamnya. Darah yang banyak mengandung berwarna merah tua. ( syaefudin,1997:58 ).
• Fungsi darah
Darah mempunyai fungsi sebagai berikut :
 Sebagai alat pengangkut yaitu :
 Mengambil 02 atau zat pembakar dari paru-paru untuk diedarkan keseluruh jaringan
 Mengangkut 02 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru
 Mengambil zat-zat makanan dari usus ntuk diedarkan dan dibagian keseluruh jaringan atau alat tubuh.
 Mengangkat atau mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit atau ginjal.
 Sebagai pertahan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantara leukosit, antibodi atau zat anti racun.
 Menyebarkan panas keseluruh tubuh
 Mempertimbangkan keseimbangan asam basa yang normal dalam tubuh
 Pengaturan keseimbangan air lewat efek darah terhadap pertukaran air antara cairan yang bersirkulasi dan cairan jaringan
 Pengaturan hormon dan pengaturan metabolisme
 Pengaturan metabolit
 Koagulasi
• Sel-sel darah
Ada 3 macam sel-sel darah yaitu :
 Eritosit ( sel darah merah )
Sel darah merah berperan penting dalam eliminasi komplek imun dan sirkulasi terutama pada infeksi yang peristen dan pada beberapa penyakit autoimun. Lama sel darah merah didupnya 120 hari.

Jumlah Sel Darah Normal Berdasarkan Jenis Kelamin
Laki-laki
Sel darah merah = 4,6-6,2 juta / ml
Kadar haemoglobin = 14-18 g / dl
Hematokri = 42-52 %

Wanita
Sel darah merah = 4,2—5,4 juta / ml
Kadar haemoglobin = 12-16 gr / dl
Hematokrit =37-47 %


 Lekosit ( sel darah putih )
Fungsi Lekosit ( sel darah putih ) :
 Membunuh dan memakan bibit penyakit
 Sebagai pengangkut
Macam-macam leukosit meliputi :
 Agranulosit adalah sel leukosit yang tidak mempunyai granula didalamnya. Terdiri dari :
o Limfosit
o Monosit
 Granulosit disebut juga leukosit, granulosit terdiri dari :
o Neutrofil
o Eosinofil
o Basofil
 Trombosit
Trombosit merupakan sel darah merah dengan jumlah terbanyak dalam sirkulasi setelah sel darah merah, normalnya pada orang dewasa 200.000-300.000/mm3.

Peran trombosit dapat dibagi dalam 4 bagiam :
1. Hemostatis
2. Modulasi repons inflamasi
3. Sel efektor sitotoksik
4. Penyembuhan jaringan

 Plasma darah
Hampir 90% dari plasma darah terdiri dari air, terdapat pula zat-zat lain yang terlarut didalamnya yaitu :
1. Fibrinogen
2. Garam-garam mineral
3. Protein darah
4. Zat makanan
5. Hormon
6. Anti bodi

B. Proses Keperawatan
Proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

1. Pengkajian
Pengkajian adalah merupakan dasar utama atau langkah awal dari proses keperawatan secara keseluruhan.
Tujuan pengkajian keperawatan adalah mengumpulkan data, mengelompokan data dan menganalisa data sehingga ditemukan diagnosa keperawatan.
a. Pengumpulan data
1) Identitas
a) Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, diagnosa medis.
b) Identitas penangung jawab
Meliputi : nama, umr, agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat
2) Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Merupakan keluhan klien data yang dikaji yang terjadi yang dirasakan klien saat ini.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Pengkajian meliputi keluhan ang dirasakan klien saat ini.
c) Riwayat kesehatan dahulu
Perlu dikajia apakah klien pernah menderita penyakit yang sama dengan klien yang diderita sekarang.
d) Riwayat kesehatan sekarang
Kaji kesehatan keluarga,apakah ada keluaga yang mempunyai penyakit yang sama.
3) Pemeriksaan fisik
a) Sistem pernafasaan
b) Sistem kardiovaskuler
c) Sistem pencernaan
d)Sistem persarafan
e) Sistem penglihatan
f) Sistem pendengaran
g) Sistem perkemihan
h) Sistem muskuloskeletal
i) Sistem endokrin
j) Sistem integumen
k) Sistem genetalia
4) Aspek psikososial
Meliputi penampilan, status emosi, konsep diri, ( body image, harga diri, ideal diri, peran dan identitas, kecemasan dan interajsi sosial ).
5) Aspek spiritual
Meliputi keyakinan akan kesembuhan, keyakinan pada tuhan, penerimaan terhadap penyakit, pelaksanaan ibadah sebelum dan sesudah sakit.
6) Data penunjang
a) Laboratorium
 Darah meliputi pemeriksaan hb, hematokrit, hitung trombosit
 Urine
 Uji serologi
b) Therapi
 Antipiretik
 Antibiotik
 Pemberian cairan intra vena


2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon indvidu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan atau masalah kesehatan aktual maupun potensial.
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien DHF yaitu :
a. Gangguan keseimbangan suhu tubuh berupa hypertemia berhubungan dengan peningkatanmetabolisme tubuh akibat infeksi virus dengue.
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan adanya rasa mual, muntah dan anoreksia
c. Gangguan keseimbangan cairan dan elektolit berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektolit akibat metabolisme meningkat
d. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan kelemahan
e. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur berhubungan dengan adanya stimulus internal dan eksternal
f. Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan kurangnya informasi klien tentang penyakit yang dideritanya
g. Potensial terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor pembeku darah akibat virus dengue.
3. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka perlu dibuat perencanaan intervensi keperawatan dan akibat keperawatan. Tujuan keperawatan yaitu untuk menguranagi, menghilangkan, dan mencegah masalah keperawatan.

4. Implementasi
Implementasi merupakan pelaksanaan keperawatan oleh klien dan perawat. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan implementasi intervensi dilaksanakan sesuai denga rencana.
5. Evaluasi
Fase akhir dari roses keperawatan adalah evaluasi tehadap asuhan keperawatan yang diberikan. Hal-hal yang dievaluasi adalah keakuratan, kelengkapak dan kualiatas data, teratasi atau tidaknya masalah klien, serta penyampaian tujuan serta ketepatan intervensi keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Christantie, S.Kp, 1995. Perawataan pasien DHF. Jakarta : EGC
Jumadi Gaffar, La Ode, S.Kp. 1999. Pengantar keperawatan professional. Jakarta: EGC
Keliat, Annad Budi, S.Kp.,Insc. 1994. Proses keperawatan. Jakarta : EGC


Semoga bermamfaat!!!

Baca Selengkapnya...
KTI-SKRIPSI KEPERAWATAN
lebih dari 100 contoh kti-skripsi keperawatan ada disini, klik here

Berita

Loading...
 

DOWNLOAD AREA

Download Macam-Macam Askep, disini
Download Artikel Kedokteran, disini
Download Artikel Seputar Kebidanan, disini

Followers

Blog Archive