Minggu, 29 Maret 2009

Sperma Tetap Subur

Pasangan Anda punya masalah pada sistem reproduksinya dan kualitas spermanya kurang baik? Berikut ini ada beberapa cara agar dia tetap subur.

Sistem reproduksi merupakan salah satu sistem tubuh yang bisa dibilang sangat rentan terhadap usia dan lingkungan. Tak peduli pria maupun wanita, semuanya memiliki kemungkinan bermasalah dengan sistem reproduksi. Namun, wanita biasanya berusaha mencari solusi secepat mungkin dibandingkan kaum pria.

Bagaimana membantu pasangan Anda agar menjaga sistem reproduksinya sekaligus menjaga kualitas spermanya?

Hindari berendam di air panas karena dapat menurunkan produksi spermanya. Testis yang terletak di luar tubuh pria berfungsi seperti lemari pendingin yang menjaga agar suhu sperma selalu 5o lebih dingin daripada suhu tubuh. Segala sesuatu yang menaikkan suhu testis dalam jangka waktu yang cukup lama mampu mengganggu repoduksi sperma selama dua atau tiga bulan.

Merokok merupakan salah satu penyebab munculnya radikal bebas dalam tubuh manusia yang dapat mengurangi kemampuan sperma untuk bergerak. Selain itu, radikal bebas terbukti mengurangi usia sperma. Usahakan agar pasangan Anda menghentikan kebiasaan merokok dan mulai mengonsumsi suplemen yang mengandung antioksidan tinggi, misalnya vitamin C dan E.

Pria kegemukan memiliki kualitas sperma yang kurang baik. Perlu diketahui, lemak tubuh memproduksi hormon yang disebut dengan estradiol yang langsung berpengaruh pada produksi testosteron, yaitu hormon yang sangat berpengaruh bagi kualitas sperma seorang pria. Semakin tinggi estradiol, maka produksi testosteron akan semakin rendah, otomatis kualitas sperma pun menjadi kurang baik.

Zinc atau seng memiliki fungsi sebagai antibakteri dalam prostat. Jika seorang pria kekurangan seng, maka prostatnya rentan akan infeksi sehingga produksi sperma akan menurun. Untuk menaikkan kadar mineral seng dalam tubuh, konsumsilah aneka kacang-kacangan, biji-bijian serta aneka produk susu seperti keju dan yogurt.


Baca Selengkapnya...

MAMFAAT KUNYIT


Kunyit atau nama latinnya Curcuma Domestika adalah tumbuhan rimpang yang banyak dimanfaatkan untuk keperluan dapur. Selain untuk bumbu dan zat pewarna alami, kunyit juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kandungan utama kurkumin dan minyak atsiri berfungsi untuk pengobatan.

Kunyit efektif untuk mengobati penyakit hepatitis, gangguan pencernaan, antimikroba, antikolesterol dan anti-HIV. Kurkumin dan atsiri juga menghambat pertumbuhan tumor payudara dan usus besar.

Kunyit juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh, menyembuhkan dan mencegah rematik, mengobati diabetes melitus, tifus, morbili, campak, usus buntu, disentri, dan keputihan, melancarkan haid, serta meredamkan mulas saat haid. Untuk ibu hamil, kunyit bisa melancarkan persalinan dan memperbanyak ASI.

Pengobatan kunyit untuk obat juga tidak sulit. Untuk mengatasi sariawan, bengkak di mulut, atau radang tenggorokan, kunyit diparut kemudian air perasannya ditambahi sedikit garam dan diminum.

Sementara parutan kunyit yang dicampur asam kawak digunakan untuk pengobatan kaki luka. Salep yang dibuat dari campuran kunyit dengan minyak kelapa banyak digunakan untuk menyembuhkan kaki bengkak dan untuk mengeluarkan cairan nanah.

Ada lagi, kunyit yang diremas-remas dengan biji cengkeh dan melati digunakan untuk obat radang hati dan penyakit kulit. Sementara akar kunyit yang diremas-remas dapat digunakan sebagai obat luar penyakit bengkak dan reumatik. Tapi sampai saat inipun sudah banyak obat pabrikan yang memakai ekstrak kunyit sebagai bahan dasarnya dan diklaim efektif menyembuhkan penyakit tertentu



Baca Selengkapnya...

Klimakterium

A. Pengertian
Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium dan terjadi pada wanita berumur 40-65 tahun.
Masa-masa klimakterium :
1. Pra menopause adalah kurun waktu 4-5 tahun sebelum menopause.
2. Menopause adalah henti haid seorang wanita.
3. Pasca menopause adalah kurun waktu 3-5 tahun setelah menopause.

B. Etiologi
Sebelum haid berhenti, sebenarnya pada seorang wanita terjadi berbagai perubahan dan penurunan fungsi pada ovarium seperti sklerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid seks, penurunan sekresi estrogen, gangguan umpan balik pada hipofise.



A. Patofisiologi
Penurunan fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya kemampuan ovarium untuk menjawab rangsangan gonadotropin, sehingga terganggunya interaksi antara hipotalamus – hipofise. Pertama-tama terjadi kegagalan fungsi luteum . Kemudian turunnya fungsi steroid ovarium menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif terhadap hipotalamus. Keadaan ini meningkatkan produksi FSH dan LH. Dari kedua gonadoropin itu, ternyata yang paling mencolok peningkatannya adalah FSH.


B. Manifestasi Klinik
1. Pramenopause : perdarahan tidak teratur, seperti oligomenore, polimenore, dan hipermenore.
2. Gangguan nerovegetatif : gejolak panas ( hotflushes), keringat banyak, rasa kedinginan, sakit kepala, desing dalam telinga, tekanan darah yang goyah, jari-jari atrofi, gangguan usus ( meteorismus ).
3. Gangguan psikis : mudah tersinggung, lekas lelah, semangat berkurang, susah tidur.
4. Gangguan organik : infark miokard aterosklerosis, osteosklerosis, osteoporosi, afipositas, kolpitis, disuria, dispareumia artritis, gejala endokrinium berupa hipertirosis defeminisasi, virilasi dan gangguan libido.


C. Diagnosis
1. Umur dan gejala-gejala yang timbul.
2. FSH dan LH ( FSH = 10-12 x, LH 5-10 x / estrogen rendah ).
3. Kalsium, kolesterol.
4. Foto tulang lumbal I.
5. Sitologi ( Pap Smear ).
6. Biopsi endometrium.


D. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan tahunan terhadap wanita yang sedang berada pada masa klimakterium harus mencakup hal-hal yang penting seperti :
1. Tinggi badan, wanita mungkin akan kehilangan tinggi badan sebanyak 2,5 cm atau lebih. Sewaktu mengukur tinggi badan merupakan kesempatan untuk mendiskusikan postur, pergerakan tubuh, latihan dan osteoporosis.
2. Kulit, evaluasi terhadap integritas, luka dan perubahan pada tahi lalat.
3. Mulut, gigi dan gusi.
4. Pemeriksaan panggul, dengan perhatian terhadap perubahan yang menyertai proses penuaan ; spekulum Pederson mungkin optimal untuk wanita paska menopause.
5. Rektum : periksa adanya keanehan pada darah, adanya massa dan fisura-fisura.



E. Penatalaksanaan
1. Sedatif, psikofarma.
2. Psikoterapi.
3. Balneoterapi ( diet ).
4. Hormonal. Sindrom klimakterium terjadi akibat kekurangan estrogen maka pengobatan yang tepat adalah pemberian estrogen.


Syarat minimal sebelum pemberian estrogen dimulai :
1. Tekanan darah tidak boleh tinggi.
2. Pemeriksaan sitologi uji Pap normal.

3. Besar uretus normal ( tidak ada mioma uerus ).
4. Tidak ada varises di ekstremitas bawah.
5. Tidak terlalu gemuk / tidak obesitas.
6. Kelenjar tiroid normal.
7. Kadar normal : Hb, kolesterol total, HDL, trigliserida, kalsium, fungsi hati.
8. Nyeri dada, hipertensi kronik, hiperlipidemia, diabetes militus perlu dikonsulkan terlebih dahulu ke spesialis penyakit dalam.


Kontra Indikasi Pemberian Estrogen
1. Troboemboli, penderita penyakit hati, kolelitiasis.
2. Sindrom Dubin Johnson / Botor yaitu gangguan sekresi bilirubin konjugasi.
3. Riwayat ikterus dalam kehamilan.
4. Kanker endometrium, kanker payudara, riwayat gangguan penglihatan, anemia berat.
5. Varises berat, tromboflebitis.
6. Penyakit ginjal.
Persyaratan dalam Pemberian Estrogen
1. Mulailah dengan menggunakan estrogen lemah ( estriol ) dan dengan dosis rendah yang efektif.
2. Pemberian secara siklik.
3. Diusahakan kombinasi degan progesteron ( bila digunakan estrogen lain seperti etinil estradiol maupun estrogen konjugasi ).
4. Perlu pengawasan ketat ( setiap 6-12 bulan ).
5. Bila terjadi perdarahan atipik perlu dilakukan kuretase.
6. Keluhan nyeri dada, hipertensi kronik, hiperlipidemia, diabetesmelitus, terlebih dahulu konsul ke bagian penyakit dalam.


Yang perlu diketahui
1. Tidak semua keluhan dapat dihilangkan dengan pemberian estrogen.
2. Pelajari faktor-faktor yang menimbulkan keluhan ( faktor psikis, sosial budaya, atau hanya memang terdapat kekurangan estrogen ).
3. Atasi keluhan emosi dan faktor penyebab.


Efek samping pemberian estrogen :
1. Perdarahan bercak.
2. Perdarahan banyak ( atipik ).
3. Mual.
4. Sakit kepala.
5. Pruritus berat.


F. Faktor Resiko
Adipositas, diabetesmelitus, hipertensi, anovulasi, infertilitas, perokok, alkoholisme, hiperlipidemia.
Faktor yang mempengaruhi gejala perimenopause adalah :
1. Genetik, usia menarche mempengaruhi cepat lambatnya terjadi menopause.
2. Nutrisi ( kolesterol, kalsium, fosfat , vitamin ).
3. Kadar hormon estrogen.
4. Kebiasaan hidup ( olahraga, minum teh, kopi, minum alkohol, perokok ).
5. Tingkat pendidikan dan status ekonomi.
6. Pengangkatan kedua ovarium.


G. Pencegahan Terhadap Sindrom Klimakterium
1. Pengaturan makanan ( rendah lemak / kolesterol, cukup vitamin A, C, D, E dan cukup serat ).
2. Mengkonsumsi makanan yang mengandung fitoestrogen : a. Isiflavon, terdapat pada kacang-kacangan, b. Lignan; terdapat pada padi, sereal dan sayur-sayuran, c. Caumestran ; terdapat pada daun semanggi. Mengkonsumsi makanan dengan kadar gula rendah dan tidak berlebihan.
3. Tambahan Asupan Kalsium 1000-15000 mg / hari dan vitamin D.
4. Kontrol rutin 1 tahun sekali ( Pap Smear ).



Daftar Pustaka
1. Wiknjosatro, Hanifa, Prof, dr, DSOG. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
2. Mansjoer, Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
3. Varney, Helen; Kriebs, Jan M; Gegor, Carolyn L. 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta: EGC



Baca Selengkapnya...

Mengenal Bartholinitis


Kelainan ini lumayan banyak dikeluhkan wanita. Kemarin lewat email ada yang menanyakan adanya benjolan di bagian kiri/kanan bawah bibir vagina. Salah satu penyebabnya adalah infeksi kelenjar ini.

Bartholinitis merupakan infeksi kelenjar Bartholini (nama diambil dari seorang ahli anatomi belanda) yang letaknya bilateral pada bagian dasar labia minor. Kelenjar ini bermuara pada posisi kira2 jam 4 dan jam 8. Ukurannya sebesar kacang dan tidak melebihi 1 cm, dan pada pemeriksaan dalam keadaan normal tidak teraba.(lihat gambar di bawah ini)
Infeksi pada kelenjar ini disebabkan oleh kuman golongan staphylococcus dan gonococcus. Gejalanya berupa gejala umum kalau kita terinfeksi kuman seperti pegel2 atau rasa tidak enak badan sampai demam, sedangkan gejala lokal berupa pemebengkakan pada vagina bagian bawah kiri atau kanan, kemerahan dan nyeri jika diraba. Pada infeksi yang kronis dapat menyebabkan kista bartholini. (lihat gambar dibawah ini/tanda panah putih)



Kebetulan sekali terapinya mudah yaitu diberi antibiotika spektrum luas. Bisa memakai cifrofloxacin, ceftriaxon, doksisiklin atau azytromicin tentunya dengan dosis yang sesuai/ditentukan oleh dokter.




Baca Selengkapnya...

BPH dan asuhan keperawatan

Pengertian Benigne Prostat Hyperplasia
Benigne Prostat Hyperplasia adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr Soetomo, 1994 : 193).

Etiologi/Penyebabnya
Penyebab yang pasti dari terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia yaitu testis dan usia lanjut.

Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya Benigne Prostat Hyperplasia antara lain :
1. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT)
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostatmengalami hiperplasia.
2. Ketidak seimbangan estrogen – testoteron
Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap. yang dapat menyebabkan terjadinya hyperplasia stroma.
3. Interaksi stroma - epitel
Peningkatan epidermal gorwth faktor atau fibroblas gorwth faktor dan penurunan transforming gorwth faktor beta menyebabkan hiperplasia stroma dan epitel.
4. Penurunan sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.
5. Teori stem cell
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit.
(Roger Kirby, 1994 : 38).

Anatomi Dan Fisiologi Prostat
Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi / mengitari uretra posterior dan disebelah proximalnya berhubungan dengan buli-buli, sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini menempel pada diafragma urogenital yang sering disebut sebagai otot dasar panggul. Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih sebesar buah kemiri atau jeruk nipis. Ukuran, panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4 cm, dan tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm. Beratnya sekitar 20 gram.
Prostat terdiri dari :
• Jaringan Kelenjar  50 - 70 %
• Jaringan Stroma (penyangga)
• Kapsul/Musculer
Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang banyak mengandung enzym yang berfungsi untuk pengenceran sperma setelah mengalami koagulasi (penggumpalan) di dalam testis yang membawa sel-sel sperma. Pada waktu orgasme otot-otot di sekitar prostat akan bekerja memeras cairan prostat keluar melalui uretra. Sel – sel sperma yang dibuat di dalam testis akan ikut keluar melalui uretra. Jumlah cairan yang dihasilkan meliputi 10 – 30 % dari ejakulasi. Kelainan pada prostat yang dapat mengganggu proses reproduksi adalah keradangan (prostatitis). Kelainan yang lain sepeti pertumbuhan yang abnormal (tumor) baik jinak maupun ganas, tidak memegang peranan penting pada proses reproduksi tetapi lebih berperanan pada terjadinya gangguan aliran kencing. Kelainanyang disebut belakangan ini manifestasinya biasanya pada laki-laki usia lanjut.

Patofisiologi
Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas ke atas (bladder), di dalam mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dan buli-buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa urine keluar. Kontraksi yang terus-menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa : Hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sekula dan difertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan klien sebagai keluhan pada saluran kencing bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom/LUTS (Basuki, 2000 : 76).
Pada fase-fase awal dari Prostat Hyperplasia, kompensasi oleh muskulus destrusor berhasil dengan sempurna. Artinya pola dan kualitas dari miksi tidak banyak berubah. Pada fase ini disebut Sebagai Prostat Hyperplasia Kompensata. Lama kelamaan kemampuan kompensasi menjadi berkurang dan pola serta kualitas miksi berubah, kekuatan serta lamanya kontraksi dari muskulus destrusor menjadi tidak adekuat sehingga tersisalah urine di dalam buli-buli saat proses miksi berakhir seringkali Prostat Hyperplasia menambah kompensasi ini dengan jalan meningkatkan tekanan intra abdominal (mengejan) sehingga tidak jarang disertai timbulnya hernia dan haemorhoid puncak dari kegagalan kompensasi adalah tidak berhasilnya melakukan ekspulsi urine dan terjadinya retensi urine, keadaan ini disebut sebagai Prostat Hyperplasia Dekompensata. Fase Dekompensasi yang masih akut menimbulkan rasa nyeri dan dalam beberapa hari menjadi kronis dan terjadilah inkontinensia urine secara berkala akan mengalir sendiri tanpa dapat dikendalikan, sedangkan buli-buli tetap penuh. Ini terjadi oleh karena buli-buli tidak sanggup menampung atau dilatasi lagi. Puncak dari kegagalan kompensasi adalah ketidak mampuan otot detrusor memompa urine dan menjadi retensi urine.Retensi urine yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal (Sunaryo, H. 1999 : 11)

TESTIS dan USIA LANJUT --->

PADA FASE AWAL PROSTAT HYPERPLASIA --->

POLA DAN KUALITAS MIKSI BERUBAH --->

KONTRAKSI MUSKULUS DESTRUSSOR TIDAK ADEKUAT (LEMAH) --->

1. RESIDUAL URINE
KOMPENSASI MENINGKATKAN TEKANAN INTRA ABDOMINAL---->HERNIA, HAEMOROID
2. RETENSIO URINE TOTAL
(FASE DEKOMPENSASI)
a. NYERIOLEH TEKANAN TEKANAN INTRA VESIKA URINARIA

b. INKONTINENSIA PARADOKSA OVERFLOW INCONTINENSIA (TEKANAN INTRA VASKULER URINARIA DARI PADA TEKANAN SPINKTER BERSIFAT KRONIS)
c.REFLUKS VESIKA URETRAL--->DILATASI URETER (HYDRO URETER)----> PALVIO KALIKS GINJAL (HYDRONEFROTIK)----> KERUSAKAN GINJAL-----> GAGAL GINJAL


Proses Miksi
Fase pengisian
Pves : <> P up P Ves <> 60 tahun
• Pola urinari : frekuensi, nocturia, disuria.
• Gejala obstruksi leher buli-buli : prostatisme (Hesitansi, pancaran, melemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa) Jika frekuensi dan noctoria tak disertai gejala pembatasan aliran non Obstruktive seperti infeksi.
• BPH  hematuri

1. Pemeriksaan Fisik
• Perhatian khusus pada abdomen ; Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.
• Distensi kandung kemih
• Inspeksi : Penonjolan pada daerah supra pubik  retensi urine
• Palpasi : Akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien ingin buang air kecil  retensi urine
• Perkusi : Redup  residual urine
• Pemeriksaan penis : uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis.
• Pemeriksaan Rectal Toucher (Colok Dubur)  posisi knee chest
Syarat : buli-buli kosong/dikosongkan
Tujuan : Menentukan konsistensi prostat
Menentukan besar prostat

2. Pemeriksaan Radiologi
Pada Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk
a. Menentukan volume Benigne Prostat Hyperplasia
b. Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine
c. Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benigne Prostat Hyperplasia atau tidak

Beberapa Pemeriksaan Radiologi
a. Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi, dipertikel buli.
Indikasi : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis
Tanda BPH : Impresi prostat, hockey stick ureter
b. BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada renal
c. Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko ureter/striktur uretra.
d. USG : Untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai pembesaran prostat jinak/ganas

3. Pemeriksaan Endoskopi.

4. Pemeriksaan Uroflowmetri
Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli
Q max : > 15 ml/detik  non obstruksi
10 - 15 ml/detik  border line
<>2,5cm), multiple. Fasilitas TUR tak ada.

Mortalitas Pembedahan BPH
0 - 1 % KAUSA : Infark Miokatd
Septikemia dengan Syok
Perdarahan Massive
Kepuasan Klien : 66 – 95 %

Indikasi Pembedahan BPH
 Retensi urine akut
 Retensi urine kronis
 Residual urine lebih dari 100 ml
 BPH dengan penyulit
 Hydroneprosis
 Terbentuknya Batu Buli
 Infeksi Saluran Kencing Berulang
 Hematuri berat/berulang
 Hernia/hemoroid
 Menurunnya Kualitas Hidup
 Retensio Urine
 Gangguan Fungsi Ginjal
 Terapi medikamentosa tak berhasil
 Sindroma prostatisme yang progresif
 Flow metri yang menunjukkan pola obstruktif
 Flow. Max kurang dari 10 ml
 Kurve berbentuk datar
 Waktu miksi memanjang

Kontra Indikasi
• IMA
• CVA akut

Tujuan :
• Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli
• Memperbaiki kualitas hidup
1) Trans Uretral Reseksi Prostat  90 - 95 %
Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial.
Keuntungan :
• Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan
• Tak perlu insisi pembedahan
• Hospitalisasi dan penyebuhan pendek
Kerugian :
• Jaringan prostat dapat tumbuh kembali
• Kemungkinan trauma urethra  strictura urethra.

2) Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy
 Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih

3) Perianal Prostatectomy
 Pembesaran prostat disertai batu buli-buli
 Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservatif
 Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat

4) Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

PRE OPERATIF CARE
Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang pembedahan dan memberikan informasi yang akurat pada klien
• Type pembedahan
• Jenis anesthesi  TUR – P, general / spina anesthesi
• Cateter : folly cateter, Continuous Bladder Irigation (CBI).

Persiapan orerasi lainnya yaitu :
• Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula darah, Elektrolit
• Pemeriksaan EKG
• Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG, APG.
• Pemeriksaan Uroflowmetri  Bagi penderita yang tidak memakai kateter.
• Pemasangan infus dan puasa
• Pencukuran rambut pubis dan lavemen.
• Pemberian Anti Biotik
• Surat Persetujuan Operasi (Informed Concern).

POST OPERATIF CARE
Post operatif care pada dasarnya sama seperti pasien lainnya yaitu monitoring terhadap respirasi, sirkulasi dan kesadaran pasien :
1. Airway : Bebaskan jalan fafas
Posisi kepala ekstensi
Breathing : Memberikan O2 sesuai dengan kebutuhan
Observasi pernafasan
Cirkulasi : mengukur tensi, nadi, suhu tubuh, pernafasan, kesadaran dan produksi urine pada fase awal (6jam) paska operasi harus dimonitor setiap jam dan harus dicatat.
Bila pada fase awal stabil, monitor/interval bisa 3 jam sekali
Bila tensi turun, nadi meningkat (kecil), produksi urine merah pekat harus waspada terjadinya perdarahan  segera cek Hb dan lapor dokter.
Tensi meningkat dan nadi menurun (bradikardi), kadar natrium menurun, gelisah atau delir harus waspada terjadinya syndroma TUR  segera lapor dokter.
Bila produksi urine tidak keluar (menurun) dicari penyebabnya apakah kateter buntu oleh bekuan darah  terjadi retensi urine dalam buli-buli  lapor dokter, spoling dengan PZ tetesan tergantung dari warna urine yang keluar dari Urobag. Bila urine sudah jernih tetesan spoling hanya maintennens/dilepas dan bila produksi urine masih merah spoling diteruskan sampai urine jernih.
Bila perlu Analisa Gas Darah
Apakah terjadi kepucatan, kebiruan.
Cek lab : Hb, RFT, Na/K dan kultur urine.

2. Pemberian Anti Biotika
 Antibiotika profilaksis, diberikan bila hasil kultur urine sebelum operasi steril. Antibiotik hanya diberikan 1 X pre operasi + 3 – 4 jam sebelum operasi.
 Antibiotik terapeutik, diberikanpada pasien memakai dower kateter dari hasil kultur urine positif. Lama pemberian + 2 minggu, mula-mula diberikan parenteral diteruskan peroral. Setiap melepas kateter harus diberikan antibiotik profilaksis untuk mencegah septicemia.

3. Perawatan Kateter
Kateter uretra yang dipasang pada pasca operasi prostat yaitu folley kateter 3 lubang (treeway catheter) ukuran 24 Fr.
Ketiga lubang tersebut gunanya :
1. untuk mengisibalon, antara 30 – 40 ml cairan
2. untuk melakukan irigasi/spoling
3. untuk keluarnya cairan (urine dan cairan spoling).

Setelah 6 jam pertama sampai 24 jam kateter tadi biasanya ditraksi dengan merekatkan ke salah satu paha pasien dengan tarikan berat beban antara 2 – 5 kg. Paha ini tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.
Paling lambat pagi harinya traksi harus dilepas dan fiksasi kateter dipindahkan ke paha bagian proximal/ke arah inguinal agar tidak terjadi penekanan pada uretra bagian penosskrotal. Guna dari traksi adalah untuk mencegah perdarahan dari prostat yang diambil mengalir di dalam buli-buli, membeku dan menyumbat pada kateter.
Bila terlambat melepas kateter traksi, dikemudian hari terjadi stenosis leher buli-buli karena mengalami ischemia.

Tujuan pemberian spoling/irigasi :
1. Agar jalannya cairan dalam kateter tetap lancar.
2. Mencegah pembuntuan karena bekuan darah menyumbat kateter
3. Cairan yang digunakan spoling H2O / PZ

Kecepatan irigasi tergantung dari warna urine, bila urine merah spoling dipercepat dan warna urine harus sering dilihat. Mobilisasi duduk dan berjalan urine tetap jernih, maka spoling dapat dihentikan dan pipa spoling dilepas.
Kateter dilepas pada hari kelima. Setelah kateter dilepas maka harus diperhatikan miksi penderita. Bisa atau tudak, bila bisa berapa jumlahnya harus diukur dan dicatat atau dilakukan uroflowmetri.

Sebab-sebab terjadinya retensio urine lagi setelah kateter dilepas :
1. Terbentuknya bekuan darah
2. Pengerokan prostat kurang bersih (pada TUR) sehingga masih terdapat obstruksi.

A. TUR – P
Setelah TUR – P klien dipasang tree way folley cateter dengan retensi balon 30 – 40 ml. Kateter di tarik untuk membantu hemostasis
Intruksikan klien untuk tidak mencoba mengosongkan bladder Otot bladder kontraksi  nyeri spasme
CBI (Continuous Bladder Irigation) dengan normal salin  mencegah obstruksi atau komplikasi lain CBI – P. Folley cateter diangkat 2 – 3 hari berikutnya
Ketika kateter diangkat timbul keluhan : frekuensi, dribbling, kebocoran  normal
Post TUR – P : urine bercampur bekuan darah, tissue debris  meningkat  intake cairan minimal 3000 ml/hari  membantu menurunkan disuria dan menjaga urine tetap jernih.

B. OPEN PROSTATECTOMY
Resiko post operative bleeding pada 24 jam pertama oleh karena bladder spsme atau pergerakan
Monitor out put urine tiap 2 jam dan tanda vital tiap 4 jam
Arterial bleeding  urine kemerahan (saos) + clotting
Venous bleeding  urine seperti anggur  traction kateter
Vetropubic prostatectomy
Observasi : drainage purulent, demam, nyeri meningkat  deep wound infection, pelvic abcess
Suprapubic prostatectomy
 Perlu Continuous Bladder Irigation via suprapubic  klien diinstruksikan tetap tidur sampai Continuous Bladder Irigation dihentikan
 Kateter uretra diangkat hari 3 – 4 post op
 Setelah kateter diangkat, kateter supra pubic di clamp dan klien disuruh miksi dan dicek residual urine, jika residual urine ± 75 ml, kateter diangkat

EVALUASI
Kreteria yang diharapkan terhadap diagnosis yang berhubungan dengan obstruksi urinari adalah :
1. Mengatasi obstruksi urine tanpa infeksi atau komplikasi yang permanen
2. Tidak mengalami tekanan atau nyeri berkepanjangan
3. Mengungkapkan penurunan atau tak adanya kecemasan tentang retensio urine.
4. Menunjukan tingkat fungsi sexual kembali sebagaimana sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.




Baca Selengkapnya...

Kamis, 12 Maret 2009

Karsionegenik pada Tissue dan Pembalut

Apa Itu Dioksin?
Dioxin adalah senyawa yang tergolong karsionogenik. Dampak keracunan dioxin untuk jangka panjang adalah kanker dan aterosklerosis sehingga menaikkan angka kematian sampai 46 % pada beberapa kasus. Karena sumber dioxin bisa dari berbagai materi yang ada di sekitar kita, maka dioxin menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia, karena pengaruh negatifnya sudah dapat dicapai hanya pada dosis yang sangat rendah yaitu beberapa part per trillum dalam lemak tubuh kita.
Dioksin merupakan senyawa yang mampu mengacaukan sistem hormon, yaitu dengan cara bergabung dengan kaseptor hormon, sehingga mengubah fungsi dan mekanisme genetis dari sel, dan mengakibatkan pengaruh yang sangat luas, yaitu kanker, menurunkan daya tahan tubuh, mengacaukan sistem saraf, keguguran kandungan, dan dapat mengakibatkan cacat kelahiran (birth deformity).
Dioksin secara langsung mampu menurunkan sel B dan secara tidak langsung menurunkan jumlah sel T yang berperan dalam sistem imun. Karena mampu mengubah fungsi genetika sel, jadi dapat menyebabkan timbulnya penyakit genetis dan dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.

Sumber Dioksin?
Dioksin sangat jarang terdapat dalam alam, sebagian besar dioksin bersumber dari manusia. Sejarah mengapa dioksin mulai terakumulasi ke dalam lingkungan hidup yaitu ketika founder perusahaan Dow Chemical (Midland, Michigan) menemukan suatu cara membelah molekul garam dapur (NACl) sehingga pecah menjadi atom-atom natrium dan atom klorin.
Dengan demikian, hal itu menjadi tonggak sejarah pertama kali manusia mampu menghasilkan jumlah klorin bebas secara besar-besaran. Disebut klorin bebas karena tidak melekat pada senyawa atau atom lain. Pada awalnya, mereka kebingungan mau diapakan klorin bebas tersebut, yang merupakan limbah yang tidak tahu kegunaannya dan bersifat berbahaya.
Umumnya dioxin dihasilkan dari pembakaran sampah, hasil samping produk pestisida, pembakaran dari proses produksi baja atau proses kimia suatu produk yang menggunakan chlor sebagai pemutih seperti kertas, plastik, bahan T-shirt dan sebagainya.
Dioksin dikenal sebagai senyawa hidrofobik (tidak akur dengan air). Artinya bila dioksin berada di air, akan menghindari air dan mencari tempelan atau masuk ke dalam tubuh ikan. Demikian juga halnya mekanisme cara pencemaran pada binatang liar. Dioksin akan mencari binatang untuk ditempeli dan dimasuki. Yang sangat disayangkan, manusia tidak memiliki piranti dan mekanisme yang mampu memusnahkan dioksin di dalam tubuhnya dan membiarkan saja pecah sendiri menurut waktu paruh pemecahan secara alamiah (chemical half time).
Dari hasil evaluasi EPA (1994), telah dikonfirmasikan bahwa dioksin merupakan senyawa organik yang paling beracun yang manusia pernah ketahui, pengaruhnya sangat negatif terhadap risiko kesehatan, bahkan dengan dosis yang sangat kecil yaitu 10-15 ppt (part per trillion), yang terakumulasi selama hidup. Berdasarkan hal tersebut, EPA menetapkan ambang batas dioxin yang diizinkan dalam tubuh manusia adalah sekitar 0,006 pikogram (seper juta-juta gram) per kilogram berat badan, atau sekitar 0,40 pikogram untuk seorang dewasa. Sedangkan dosis yang dapat dipakai acuan adalah ADI (Acceptable Daily Intake) dari WHO yaitu 1-10 pg/kg/hari.
Zat Dioxin juga termasuk hasil sampingan dari proses pemutihan (bleaching) yang digunakan pada pabrik kertas, termasuk pabrik pembalut wanita, tissue, sanitary pad dan diaper (pembalut untuk anak-anak).

Bahan Baku Pembalut Biasa
Pembalut wanita adalah produk sekali pakai. karena itulah para produsen mendaur ulang bahan baku kertas bekas dan pulp, menjadikannya bahan dasar untuk menghemat biaya. Bahan bakunya mulai dan kertas koran, kardus, karton bekas, penuh dengan bakteri dan kuman-kuman, serta bermacam pewarna sintetis, dan berbau.
Dalam proses daur ulang, banyak zat kimia digunakan untuk proses pemutihan kembali. Zat kimia juga digunakan untuk proses sterilisasi kuman-kuman pada kertas bekas serta pembuangan bau.

Bagaimana Zat Dioksin Bisa Meresap ke Dalam Rahim?
Apabila darah haid jatuh keatas permukaan pembalut wanita, zat dioxin akan dilepaskan melalui proses penguapan. pertamanya akan mengenai permukaan vagina/vulva, kemudian diserap ke dalam rahim melalui saluran serviks, kemudian masuk ke dalam uterus, kemudian melewati Fallopian tubes, dan berakhir di ovary/rahim.

Cara Mengetahui Pembalut Berdioksin
Meski belum ada data yang akurat mengenai pembalut berdioksin, namun para wanita diminta waspada jika mau mencegah diri tidak terkena kanker serviks.
Untuk mengetes apakah pembalut wanita itu berdioksin atau tidak cukup mudah. Lapisan dalam pembalut (seperti kapas) dibuka kemudian dimasukan dalam air. Kalau ternyata hancur dalam air dan airnya keruh berarti berdioksin. Sebaliknya, jika tidak hancur, pembalut itu aman dipakai.
Memang tidak banyak wanita yang tahu mengenai hal ini. Mereka hanya tahu lebih praktis menggunakan pembalut saat menstruasi dibandingkan menggunakan kain yang bisa dicuci ulang seperti yang dilakukan wanita jaman dulu.
Biasanya pembalut itu dibuat dari campuran kardus bekas, diberi pemutih dan bahan kimia lainnya. Ini berbahaya buat organ intim seorang wanita. Begitu pula dengan pantyliner juga harus dicek sendiri. Oleh karena itu, wajar bila wanita saat ini sering terkena penyakit yang sangat ganas, yaitu kanker rahim, kanker payu dara, kista, dan myom. Akibat penyakit di atas saat usia muda rahim sudah diangkat, sehingga tidak memiliki anak.
Link referensi:
http://www.availkita.com/mengapa.php
http://www.suarasurabaya.net/v05/kelanakota/?id=3e9c91056fa7020d872813ea4a57936a200857740




Baca Selengkapnya...

KATARAK

Mata adalah jendela dunia, mungkin ungkapan ini adalah yang paling pantas untuk menyatakan betapa pentingnya peran mata sebagai alat indera penglihatan. Dengan mata, kia dapat melihat keindahan alam. Makhluk hidup, benda atau segala hal dan peristiwa di sekitar kita. Hal tersebut menjadi dasar mengapa kesehatan mata harus dijaga jika tetap ingin menikmati keindahan dunia. Selain itu mata juga merupakan jendela ilmu pengetahuan. Melalui mata kita dapat menimba ilmu pengetahuan dengan mengamati dan membaca. Tanpa mata, kita tidak bisa melihat apapun secara visual. Oleh karena itu, penglihatan melalui mata adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Betapa besar keagungan mata membuat kita harus selalu menjaga dan merawatnya baik-baik agar tetap sehat. Selain dari luar, perawatan mata juga perlu dari dalam dengan mengkonsumsi makanan sehat yang mengandung nutrisi tertentu, khususnya vitamin.
Manfaat mata adalah sebagai indera penglihatan dan juga sebagai salah satu alat komunikasi dalan kehidupan.
Kerugian apabila seseorang tidak mempunyai mata salah satunya adalah dia tidak bisa melihat dan menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, juga terganggunya komunikasi dengan orang lain. Terlebih seseorang yang diciptakan oleh Tuhan sejak lahir betapa ruginya dia karena harus hidup dalam kegelapan.

Betapa pentingnya kita sebagai manusia untuk merawat mata karena mata merupakan organ terpenting dalam hidup, dengan cara :
1. Jangan biarkan mata bekerja secara terus menerus
2. Luangkan waktu untuk mengistirahatkan mata dan memanjakan mata
3. Perawatan mata secara teratur
Salah satu penyakit mata yang umum dialami oleh masyarakat yaitu katarak (kekeruhan lensa mata). Biasanya pada orang dewasa katarak berhubungan dengan proses penuaan. Pada banyak kakus, penyebab katarak tidak diketahui, penyakit katarak biasanya menimpa orang lanjur usia, tetapi bisa juga menimpa orang muda dan bisa bersifat menurut. Katarak merupakan proses kemunduran fungsi lensa mata secara bertahap. Kebanyakan lensa mata agak keruh setelah usia mancapai 60 tahun katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa atau akibat kedua-duanya yang di sebabkan yang di sebabkan oleh berbagai keadaan. (Sidarta Ilyas et.al 2003 : 89)
Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan gangguan penglihatan. (Oei Gin Djing, 2007 : 22)

Dari hasil studi pendahuluan duan dari lima orang mengatakan bahwa mereka mengetahui penyakit katarak.
Dengan adanya fenomena tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk membuat penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Tentang Deteksi Dini Penyakit Katarak pada lanjut usia di....”. Selengkapnya klik disini



Baca Selengkapnya...

Koreksi Penggunaan Kata Perawatan

Dalam Konteks Profesional

Hampir semua profesional mengetahui apa arti kata nursing. Berasal dari kata benda nurse yang bisa berarti: 1. Seorang perempuan yang merawat orang sakit, biasanya di rumah sakit; 2. seorang perempuan yang terlatih secara khusus untuk merawat bayi atau anak-anak (The York Contemporary English Dictionary, 1995). Dalam kamus yang sama, Nurse bisa juga berarti kata kerja (Verb) to nurse yang berarti: 1. menyusui bayi; 2. merawat orang sakit atau anak-anak; 3. memeluk dengan lembut; 4. memberikan perhatian khusus.

Awal tahun 2004 lalu, sekitar 25 lebih Perawat Indonesia yang bekerja di United Arab Emirates (UAE) mengajukan permohonan ke kantor Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) di Jakarta guna memperoleh surat bukti registrasi. Hasilnya, semuanya mendapatkan surat tersebut yang bisa dikatakan sebagai ⦣8364;˜SIM⦣8364;™.

Ada yang ⦣8364;˜ganjil⦣8364;™ dalam surat yang ditandatangani oleh President of Indonesian National Nurses Association tersebut. Padahal yang menandatangani tidak tanggung-tanggung. Gelarnya, buat kebanyakan perawat Indonesia, Strata 3, alias seorang doktor, tergolong langka. Kalau anda melihat komposisi pengurus yang duduk dalam PPNI juga rata-rata bergelar S2. Yang salah dalam surat ijin yang katanya hanya bersifat sementara tersebut adalah: Surat bukti registrasi tersebut tidak bernomor! Simple?

Bagi sebuah organisasi semacam PPNI yang bertaraf nasional, mengeluarkan sebuah surat untuk tujuan luar negeri, apalagi berbahasa Inggris dan akan dilihat oleh orang-orang dari negara lain, apa yang tercantum dalam surat ibaratnya adalah buah karya yang mencerminkan bagaimana sebuah organisasi tersebut dikelola. Sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak harus terjadi untuk ukuran PPNI, simbol organisasi profesi keperawatan bergengsi di tingkat nasional, perlu dikoreksi.

Contoh diatas adalah salah satu gambaran bagaimana sebenarnya personal perawat kita bekerja. Tidak pandang dari mana mereka berasal atau dari sekolah mana yang membina, luar atau dalam negeri. Karena yang menjalankan tugas adalah orang kita, bangsa kita.
Kenyataan diatas, jika tertuang di atas kertas, bukan lagi bisa disebut sebagai kelalaian individual, namun institusional. Betapapun sifat sebuah surat, apakah itu tetap atau sementara, yang namanya Nomor Surat itu adalah suatu yang ⦣8364;˜a must⦣8364;™. Kesimpulannya, kalau PPNI yang berada di pusat Jakarta saja demikian gambaran organisasinya, bagaimana dengan pelaksanaannya di daerah?

Perawat Indonesia memang tergolong masih sangat muda usianya dibanding perawat-perawat dari UK atau USA. Namun perawat kita usianya juga hampir terpaut sama saja dengan India. Bahkan kita lebih tua dibanding Malaysia, Singapore atau mereka yang berada di negara-negara Arab. Tapi kenapa kita begitu ketinggalan jauh dengan mereka dalam persoalan profesional ini? Adakah ini dilandasi oleh keterbelakangan standarisasi pendidikan profesi kita? Padahal saat ini Universitas Indonesia, lewat Fakultas Keperawatan nya sudah membuka Program S2 meski jurusannya masih terbatas. Walaupun relatif baru, setidaknya sudah dimulai. Jadi tingkatan pendidikan nyatanya tidak dapat dijadikan sebagi kambing-hitamnya.

Kalau begitu dimana letak ketidak-profesionalan keperawatan kita?



Dikondisikan
Hampir semua profesional mengetahui apa arti kata nursing. Berasal dari kata benda nurse yang bisa berarti: 1. Seorang perempuan yang merawat orang sakit, biasanya di rumah sakit; 2. seorang perempuan yang terlatih secara khusus untuk merawat bayi atau anak-anak (The York Contemporary English Dictionary, 1995). Dalam kamus yang sama, Nurse bisa juga berarti kata kerja (Verb) to nurse yang berarti: 1. menyusui bayi; 2. merawat orang sakit atau anak-anak; 3. memeluk dengan lembut; 4. memberikan perhatian khusus.

Di negara kita, pertumbuhan Bahasa Indonesia begitu cepat, berasimilasi dengan bahasa-bahasa dari negara lain. Bahasa Inggris dalam bidang pengetahuan dan bahasa Arab dalam bidang Agama Islam, adalah dua contoh yang kita tidak bisa mengelak keterlibatannya yang kuat.

Dalam bidang ilmu pengetahuan pengaruh bahasa Inggris ini sedemikian erat, sehingga setuju atau tidak kita nyaris tidak bisa memisahkan diri dari peranan di dalamnya. Sebagai contoh kata biologi (biology), geologi (geology), geografi (geography), laboratorium (laboratory), psikologi (psychology), psikiatri (psychiatry), anatomi (anatomy), fisiologi (physiology) dan lain-lain.

Dalam disiplin ilmu tertentu, dengan tanpa pikir dua-tiga kali, karena barangkali tidak ada pilihan kata lain dalam bahasa Indonesia yang tepat, maka kita ⦣8364;˜telan⦣8364;™ begitu saja (baca: serap) kata-kata yang aslinya dalam Bahasa Inggris tersebut, sehingga seolah-olah menjadi Bahasa Indonesia. Misalnya kata biologi (cabang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan makhluk hidup ⦣8364;“The York Contemporary English Dictionary, 1995). Demikian pula kata-kata lainnya misalnya: teknik, teknologi, elektronik, mesin, komputer, analisa, medik, dll. Kata-kata ini bahkan sudah menjadi Bahasa Indonesia yang baku dalam kamus. Sementara, kata nursing, kita terjemahkan menjadi perawatan.



Apakah kata perawatan ini merupakan hasil terjemahan yang tepat untuk nursing?
Perawatan berasal dari kata dasar rawat, yang mendapatkan awalan per dan akhiran an (Wodjowasito, 1982). Merupakan kata sifat, artinya segala sesuatu yang menunjukkan sifat rawat. Awalan -pe- dalam Bahasa Indonesia menunjukkan pelaku. Orang yang merawat disebut perawat.

Berbeda dengan Bahasa Inggris, kata perawatan dalam bahasa Indonesia tidak hanya berorientasi kepada hubungan seorang perawat dengan pasien, hubungan ibu dengan anak, atau hubungan guru dengan murid-murid. Dalam Bahasa Indonesia, kata perawatan bisa saja digunakan dalam konteks lain, misalnya: perawatan suku cadang (parts maintainnance), perawatan pesawat (plane maintainance), rawat nginap (admission care), rawat jalan (out patient care), merawat perabot rumah (household maintainance), dsb.

Beberapa contoh diatas, meskipun menggunakan kata dasar yang sama ⦣8364;˜rawat⦣8364;™ namun tidak selalu ada kaitannya sama sekali dengan nursing. Nursing konteksnya akan beda sekali dan tidak digunakan untuk kata-kata tersebut diatas misalnya merawat kapal, merawat suku cadang atau merawat barang-barang rumah.

Dengan demikian, kata nursing berarti jauh lebih ⦣8364;˜unik⦣8364;™ dibanding kata perawatan atau keperawatan. Dalam sejarahnya, berapa kali pendidikan nursing kita mengalami perubahan hanya karena masalah rawat, perawatan, dan keperawatan ini. Simaklah Sekolah Pengatur Rawat (SPR), Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), Akademi Keperawatan (Akper). Sebaliknya, kata nursing dalam konteks school of nursing, college of nursing, atau faculty of nursing, tidak pernah mengalami perubahan.

Nursing bisa berarti: perawatan (Wodjowasito, 1982). Kata nurse bisa berarti kata benda: 1. Dayang, inang, pengasuh; 2. Juru rawat. Bisa pula berarti kata kerja: 1. Menyusui, memberi makan; 2. Merawat, memelihara, mengasuh; 3. Memanaskan badan (Wodjowasito, 1982).

Kata nursing lebih dipakai untuk sebuah profesi. Sebaliknya kata perawatan tidak mengacu kepada satu profesi saja, jika dikaitkan dengan beberapa pengertian diatas. Perawat bisa jadi bermacam-macam artinya. Tetapi nurse, hanya satu artinya, yakni orang yang memberikan pelayanan keperawatan, berpendidikan, dan secara hukum diakui (www.answer.com; www.thefreedictionary.com; www.medterm.com). Sementara perawat dalam Bahasa Indonesia, bisa saja setiap orang, terlepas dari latar belakang apakah itu pendidikan, kekuatan hukum atau kompetensi yang dimiliknya, yang memberikan perawatan baik di rumah, pos kesehatan, sekolah, rumah sakit, bahkan di panti asuhan.

Dari beberapa uraian diatas, nampaknya image nursing lebih diidentikkan dengan perempuan, karena secara tradisional perempuan lah yang membentuk sebagian besar profesi ini (Keenworthy, Snowley & Gilling, 2002). Menurut American Nurses Association (1980): nursing is the diagnoses and treatment of human responses to actual and potential health problem. Nursing adalah an art and a scince; earlier emphasis was on care of sick, now of the health is being stressed (Nettina, 1996, p. 3).

Kalau jurusan-jurusan pendidikan yang lain misalnya Jurusan Matematika, Biologi, Geologi, Geografi, Fisika, Histologi, dll. bisa mengadopsi istilah asing ⦣8364;˜hanya⦣8364;™ karena tidak mendapatkan padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, kenapa keperawatan tidak layak mendapatkan perlakuan serua? Padahal, dari sudut pandang profesional sudah nampak jelas bahwa kata nursing jauh lebih tepat kita gunakan dan lebih profesional daripada kata keperawatan.



Profesional
Menurut Webster⦣8364;™s Ninth New Collegiate Dictionary (1991) yang disebut dengan profesional adalah: characterized by or conforming the technical ethical standards of a profession. Seseorang yang profesional memiliki ciri-ciri: memenuhi standard ketrampilan, pengetahuan dan etika. Standard itu bisa diperoleh pertama melalui pendidikan formal dalam waktu tertentu guna memenuhi tujuan profesi yang berkualitas. Kedua, profesi juga menghendaki adanya etika profesi. Ciri profesi yang ketiga adalah mendapat pengakuan hukum. Dan yang keempat: engaged in by persons receiving financial return. Ciri profesi yang terakhir ini menunjukkan bahwa seorang profesional harus mendapatkan imbalan yang layak. Ciri yang kelima: participating for gain or livelihood in an activity or field of endeavor. Dengan demikian, seorang profesional itu harus menekuni bidangnya sebagai sumber kehidupan.

Kesimpulannya, profesional nurse adalah mereka yang menempuh jenjang pendidikan nursing selama dalam kurun waktu tertentu, menerapkan kerjanya atas dasar evidence based dan etika, mendapatkan imbalan jasa yang layak, serta menekuni bidang kerjanya sebagai sumber penghasilan utamanya.

Sejarah perkembangan pendidikan nursing di negeri kita pada mulanya hanya setingkat SMU: Sekolah Pengatur Rawat, Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Pada awal tahun 80-an mulai dikenal masyarakat jenjang pendidikan tinggi yang disebut sebagai Akademi Keperawatan, lulusan SMU ditambah 3 tahun. Baru pada akhir 80-an Universitas Indonesia (UI) mulai menyelenggarakan program jenjang S1. Saat ini UI sudah memperkenalkan jenjang pendidikan nursing S2.

Di Inggris Bachelor Science of Nursing (BSN) sudah mulai dikenal bahkan pada akhir abad ke 19 (Keenworthy, Snowley & Gilling, 2002). Pada awal abad ke 20 kode etik nursing sudah pula diperkenalkan ke parlemen Inggris (Keenworthy, Snowley & Gilling, 2002). Ini terjadi karena pengakuan pemerintah terhadap pendidikan nursing sudah mengacu kepada profesi yang implementasinya berdasarkan kepada research based practice.

Sementara itu, di negeri kita, selama puluhan tahun, profesi nursing masih didominasi oleh mereka yang lulusan pendidikannya setingkat SMU yang sebetulnya dikelompokkan sebagai Vocational Training. Demikian pula lulusan Program Diploma Keperawatan yang dicetak untuk memenuhi kebutuhan tenaga terampil, bukan tenaga ahli. Sedangkan jenjang pendidikan S1 yang tujuannya adalah mencetak calon-calon tenaga ahli dan manager menengah tahun-tahun terakhir ini mulai bermunculan.

Karena pendidikan S1 masih relatif baru diterapkan, jumlah lulusannya jangankan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di lapangan, untuk melengkapi kebutuhan tenaga pengajar atau pembimbing di lembaga-lembaga pendidikan nursing saja masih jauh dari cukup. Di sektor lembaga pendidikan negeri, masih banyak akademi-akademi di mana tenaga pengajarnya masih belum memenuhi syarat baik secara kuantitas maupun kualitas.

Menurut Albertus Setyono, staf pengajar sekaligus Kepala Bidang Kurikulum Program Diploma Keperawatan Lawang, dosen-dosen Akper masih banyak yang memanfaatkan lulusan S1 non-nursing, misalnya jurusan pendidikan. Akan tetapi yang terakhir ini tidak bisa disamakan dengan nursing karena perbedaan kompetensi yang ada. Salah satu perbedaan yang menyolok adalah, dalam S1 nursing diajarkan materi Research Metods in Nursing, namun dalam S1 Kependidikan, mata kuliah serupa tidak didapatkannya. Persoalannya kemudian adalah: bagaimana para dosen-dosen ini memberikan bimbingan pengenalan penelitian kepada mahasiswa nursing apabila mereka tidak pernah mendapatkannya?

Faktor inilah yang menjadi kendala utama perkembangan profesi nursing di Indonesia di tingkat dasar yang ketinggalan jauh bahkan dibelakang negara-negara tetangga kita anggota ASEAN, misalnya Singapore, Malaysia atau Filipina. Dampak dari proses pembelajaran yang kurang mendapatkan penanganan profesional semacam ini akan berakibat besar terhadap mutu lulusan. Bagaimana kita berharap bahwa lulusan pendidikan nursing di negeri ini apabila tidak ditangani oleh tenaga-tenaga pengajar dengan kompetensi yang proporsional?

Sebenarnya, tidak sedikit tenaga pembimbing nursing kita yang memperoleh training di luar negeri, misalnya dari Filipina, Thailand, Australia, Jepang, Amerika Serikat dan Canada. Beberapa diantaranya bahkan bergelar DSN (Doctor Science of Nursing). Sayangnya, keberadaan mereka ini tidak memberikan pengaruh yang significant terhadap proses pengambilan keputusan. Hasilnya, kurikulum pendidikan nursing yang ada di negeri kita masih jauh untuk dikatakan baku.

Contoh konkrit. Saat ini lebih dari 20 lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program S1, apakah itu PSIK, Fakultas Keperawatan atau STIKES. Menurut data dari Departemen Pendidikan Nasional (2006), sejauh ini terdaftar 19. Lima perguruan tinggi di antaranya yang diakui akreditasinya mendapat nilai B (Program studi memiliki mutu baik). Dua belas perguruan tinggi mendapat nilai C (memenuhi syarat minimal penyelenggaraan), dan satu perguruan tinggi mendapat D (tidak memenuhi syarat minimal). Sedangkan untuk jenjang pendidikan S2, Universitas Indonesia memperoleh predikat A (mutu baik sekali).

Saat ini terdapat 12 perguruan tinggi negeri yang menyelenggarakan program S1. Fakultas keperawatan yang ada di negeri kita umunya tidak sama dengan fakultas-fakultas lain di perguruan tinggi yang sama. Satu fakultas, biasanya memiliki beberapa jurusan. Ambil saja contoh Fakultas Sastra, bisa terdiri dari Sastra Inggris, Perancis, Arab, Jepang, dll. Demikian juga Fakultas Pendidikan, akan terdiri dari beberapa jurusan mulai dari Biologi, Kimia, Fisika, Inggris, Olahraga, dll. Sedangkan Fakultas Keperawatan, minim sekali jurusannya.

Melihat ciri-ciri profesional diatas, ⦣8364;˜barangkali⦣8364;™ kita bisa masuk didalamnya. Persoalannya memang sejauh ini kiblat nursing di Indonesia ini masih belum baku. Artinya, secara internasional kita belum memberlakukan sistem apakah itu seperti yang diterapkan oleh sistem pendidikan nursing di Amerika Serikat, Inggris atau Australia. Sebagai contoh masa pendidikan yang kita gunakan masih menggunakan sistem sendiri. S1 nursing berlangsung selama 4 tahun dengan gelar Sarjana Keperawatan (SKp) kemudian dilanjutkan dengan program Ners.

Istilah Ners ini, tanpa bermaksud merendahkan pengimplementasiannya, sebenarnya kurang praktis. Karena, di manapun dibelahan bumi ini, tidak pernah digunakan istilah selain post graduate studies pada pendidikan nursing, kecuali misalnya post graduate diploma in mental health, pediatric, ICU, dll.

Pendidikan nursing sendiri sudah dikatakan sebagai pendidikan profesional. Jadi tidak perlu lagi Ners, sebuah istilah yang boleh dikata ⦣8364;˜mengada-ada⦣8364;™. Bahasa Inggris tidak, Bahasa Indonesia tidak pula! Di Australia misalnya, lulusan nursing S1 tidak mengenal penggunaan istilah tersebut. Master of Nursing dikenal di seluruh dunia. Kalau kita menaruh Ners sebagai gelar, siapa yang bakal mengenal, kecuali di negeri sendiri? Sebuah pekerjaan rumah yang dilematik bagi profesi kita.



Kesimpulan
Merubah sebuah nama profesi tidak semudah mengganti gelar dengan sebutan yang baru, sebagaimana yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas), misalnya dari Drs. menjadi Sarjana Pendidikan. Kedudukan Perawat tentu tidak sama dengan penggunaan gelar diatas. Apalagi kata ⦣8364;˜ perawatan⦣8364;™ sudah begitu mengakar, baik di publik maupun di kalangan profesi.

Akan tetapi sebagai sebuah anggota profesi, perawat dituntut untuk berpikir kritis. Perawat moderen dibesarkan dalam ruang lingkup Evidence-based practice , dimana segala sesuatunya bukan didasarkan pada sekedar mengikuti kebiasaan masa lalu, atau mencontoh profesi lain. Oleh sebab itu, sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi, mestinya perawat juga bersikap lebih terbuka, kritis dan inovatif, tidak terkecuali dalam penggunaan namanya sendiri.

Uraian di atas telah panjang lebar berusaha menganalisa bagaimana sebenarnya arti kata ⦣8364;˜perawatan⦣8364;™ dibandingkan dengan kata ⦣8364;˜nursing⦣8364;™ dalam Bahasa Inggris.

Kalau kita bisa mengadopsi kata-kata: manajemen, produksi, matematika, geografi, geologi, ekonomi, politik, sains, dan sederetan istilah-istilah yang berasal dari Bahasa Inggris kemudian diindonesiakan; kenapa kita tidak lakukan perlakuan yang sama terhadap kata ⦣8364;˜perawatan⦣8364;™ ini?

Berapa kali kita disibukkan oleh perubahan kata-kata yang berasal dari kata ⦣8364;˜perawatan⦣8364;™ ini? Dilihat dari perkembangan sejarahnya, kata-kata ini rasanya tidak pernah ⦣8364;˜baku⦣8364;™. Kata-kata seperti Sekolah Pengatur Rawat, Sekolah Perawat Kesehatan, Akademi Keperawatan (atau Akademi Perawat?), SKp atau SKep? Merupakan sejumlah bukti bahwa penggunaan kata perawatan ini bersifat labil. Sebaliknya, kata ⦣8364;˜nursing⦣8364;™ selalu stabil.

Akhirnya, sebagai sebuah profesi, ada baiknya kita manfaatkan istilah internasional yang standard, yang kemanapun kita pergi, orang lain tidak akan bingung dibuatnya.

Kalau orang Malaysia yang bangga dengan Bahasa Melayu, tidak sungkan-sungkan menggunakan kata ⦣8364;˜nursing⦣8364;™ sebagai pengganti ⦣8364;˜perawatan⦣8364;™, yang mengacu kepada profesionalisme, mengapa kita bangsa Indonesia masih harus berpikir dua-tiga kali hanya untuk menggantinya?

References:

Dikti, 2006, Daftar Program Studi Yang Telah Terakreditasi s/d 2006, [Online], Available from URL: http://www.dikti.org/, [Accessed 29 Mei 2007].
Kenworthy, N., Snowley, G., & Cynthia, G. 2002, ⦣8364;˜Nursing and the context of nursing practice⦣8364;™, Common Foundation Studies in Nursing, 3rd ed, Chrching Livingstone, pp. 3-76.
Nettina, S., ⦣8364;˜Nursing process and practice⦣8364;™, The Lippincott: Manual of Nursing Practice, 6th ed, Lippincott, Manila, pp. 1-10.


Presented By; Syaifoel Hardy


Baca Selengkapnya...

Mengenal aneka alat KONTRASEPSI


Kontrasepsi memang bukan barang aneh. Tapi sudah tahukah Anda plus-minusnya? Nah, dengan mengenalnya secara lebih baik, Anda tak perlu bingung lagi untuk memilih.
Hampir semua pasangan suami-istri memerlukan perencanaan kehamilan dan sekaligus membatasi jumlah anak. Karena itu, kontrasepsi dibutuhkan. Alasan penggunaan kontrasepsi bisa macam-macam, dari menunda kehamilan, menjarangkan jarak kehamilan, sampai menyetop kehamilan.
“Masing-masing pasangan punya alasan. Mungkin karena urusan sekolah, pekerjaan, usia, kesehatan dan segala macam. Bisa juga karena sudah memiliki anak dan hendak menunda kehamilan berikutnya. Atau, ya, ingin berhenti karena anak sudah banyak,” jelas dr. Andon Hestiantoro, Sp.OG, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Seperti kita tahu, ada begitu banyak alat kontrasepsi. Secara garis besar, kontrasepsi itu dibagi dalam tiga bagian besar. Yaitu kontrasepsi mekanik, hormonal, dan kontrasepsi mantap


KONTRASEPSI MEKANIK
Dinamakan mekanik karena sifatnya sebagai pelindung. Maksudnya, kontrasepsi ini mencegah bertemunya sperma dan sel telur dalam rahim. Nah, ada beberapa kontrasepsi yang termasuk dalam golongan mekanik ini, yaitu kondom dan diafragma.

* Kondom
Dulu kondom terbuat dari kulit atau usus binatang. Setiap akan digunakan direndam dulu. Kemudian terbuat dari linen. Kini kondom terbuat dari bahan karet yang tipis dan elastis. Bentuknya seperti kantong.
Fungsi kondom sebenarnya untuk menampung sperma sehingga tidak masuk ke dalam vagina. Perlindungan tersebut efektif 90 persen. Terlebih jika dipakai bersama dengan spermisida (pembunuh sperma). “Rata-rata, dari 100 pasangan dalam setahun, sekitar 4 wanita yang hamil,” ujar Andon.
Kondom harganya murah, mudah didapat, tidak perlu resep dokter, tidak perlu pengawasan dan juga bisa mencegah penularan penyakit kelamin. Tapi tidak selalu cocok terutama jika pemakai alergi terhadap bahan karet. Dan mungkin saja terjadi kebocoran, karena bahannya yang sangat tipis.

* Diafragma
Kontrasepsi wanita yang mirip kondom. Bentuknya seperti topi yang menutupi mulut rahim. Terbuat dari bahan karet dan agak tebal. Kontrasepsi ini dimasukkan ke dalam vagina, semacam sekat yang dapat mencegah masuknya sperma ke dalam rahim.
Diafragma digunakan jika akan berhubungan seksual. Setelah itu bisa dilepas lagi atau tetap pada tempatnya. Karena bahannya lebih tebal dari kondom, kontrasepsi ini tidak mungkin bocor.

* Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
Alat Kontrasepsi dalam Rahim/AKDR/IUD lebih dikenal dengan nama spiral. Berbentuk alat kecil dan banyak macamnya. Ada yang terbuat dari plastik seperti bentuk huruf S (Lippes Loop). Ada pula yang terbuat dari logam tembaga berbentuk seperti angka tujuh (Copper Seven) dan mirip huruf T (Copper T). Selain itu, ada berbentuk sepatu kuda (Multiload).
“Yang paling terkenal Copper T dan Multiload. Kontrasepsi tersebut jadi pilihan karena kenyamanannya. Modifikasi terbaru Copper T, yaitu Nova T memiliki keunggulan lebih lembut,” jelas Andon.
Alat kontrasepsi ini dimasukkan ke dalam rahim oleh dokter dengan bantuan alat. Benda asing dalam rahim ini akan menimbulkan reaksi yang dapat mencegah bersarangnya sel telur yang telah dibuahi di dalam rahim. Alat ini bisa bertahan dalam rahim selama 2-5 tahun, tergantung jenisnya dan dapat dibuka sebelum waktunya jika Anda ingin hamil lagi.
Sebagai pemakai, Anda bisa memeriksa sendiri keberadaan alat tersebut. Caranya dengan meraba benang alat kontrasepsi tersebut di mulut rahim. Seandainya Anda sudah melakukan pemasangan kontrasepsi ini, jangan lupa melakukan pemeriksaan ulang. Apakah itu 2 minggu sekali, 1-2 bulan sekali, atau setiap enam bulan sampai satu tahun setelah pemasangan.

Pemakaian kontrasepsi tanpa bahan aktif Copper dapat terus berlangsung sampai menjelang menopause. Sedangkan kontrasepsi dengan bahan aktif Copper, 3-4 tahun harus diganti.
Yang perlu diingat kontrasepsi ini bukanlah alat yang sempurna. Masih ada kekurangannya. Misalnya, kehamilan bisa tetap terjadi, perdarahan, atau infeksi. Mungkin akibat benang dari alat tersebut dapat merangsang mulut rahim sehingga menimbulkan perlukaan dan menganggu dalam hubungan seksual. Pemakaian AKDR juga membuat kita lebih mudah keputihan. Karena itu sebaiknya kontrasepsi ini tidak digunakan jika terdapat infeksi genetalia atau perdarahan yang tidak jelas.
Keuntungannya, alat ini bisa dipakai untuk jangka panjang. Bahkan sama sekali tidak menganggu produksi ASI, jika ibu sedang mmenyusui. “Efektifitas pemakaian kontrasepsi dalam rahim ini, dari seribu pasangan, sekitar 5 wanita dalam setahun akan hamil,” ujar Andon.

* Spermisida
Kontrasepsi ini merupakan senyawa kimia yang dapat melumpuhkan sampai membunuh sperma. Bentuknya bisa busa, jeli, krim, tablet vagina, tablet, atau aerosol. Sebelum melakukan hubungan seksual, alat ini dimasukkan ke dalam vagina. Setelah kira-kira 5-10 menit hubungan seksual dapat dilakukan. Penggunaan spermisida ini kurang efektif bila tidak dikombinasi dengan alat lain, seperti kondom atau diafragma. “Dari 100 pasangan dalam setahun, ada 3 wanita yang hamil. Tapi karena sering salah dalam pemakaiannya, bisa terjadi sampai 30 kehamilan,” jelas Andon.
Diakuinya, banyak wanita merasa tak nyaman menggunakan spermasida. “Keluhannya, tidak enak dan timbul alergi,” ujar Andon kemudian. Selain itu, pemakaiannya agak merepotkan menjelang hubungan senggama. Pasangan pun sulit mencapai kepuasan.


KONTRASEPSI HORMONAL
Kontrasepsi ini menggunakan hormon, dari progesteron sampai kombinasi estrogen dan progesteron. Penggunaan kontrasepsi ini dilakukan dalam bentuk pil, suntikan, atau susuk.
Pada prinsipnya, mekanisme kerja hormon progesteron adalah mencegah pengeluaran sel telur dari indung telur, mengentalkan cairan di leher rahim sehingga sulit ditembus sperma, membuat lapisan dalam rahim menjadi tipis dan tidak layak untuk tumbuhnya hasil konsepsi, saluran telur jalannya jadi lambat sehingga mengganggu saat bertemunya sperma dan sel telur.

* Pil atau Tablet
Pil bertujuan meningkatkan efektifitas, mengurangi efek samping, dan meminimalkan keluhan. Sebagian besar wanita dapat menerima kontrasepsi ini tanpa kesulitan. Di Indonesia, jenis ini menduduki jumlah kedua terbanyak dipakai setelah suntikan. Pil ini tersedia dalam berbagai variasi. Ada yang hanya mengandung hormon progesteron saja, ada pula kombinasi antara hormon progesteron dan estrogen.
Cara menggunakannya, diminum setiap hari secara teratur. Ada dua cara meminumnya yaitu sistem 28 dan sistem 22/21. Untuk sistem 28, pil diminum terus tanpa pernah berhenti (21 tablet pil kombinasi dan 7 tablet plasebo). Sedangkan sistem 22/21, minum pil terus-menerus, kemudian dihentikan selama 7-8 hari untuk mendapat kesempatan menstruasi. Jadi, dibuat dengan pola pengaturan haid (sekuensial).
Pada setiap pil terdapat perbandingan kekuatan estrogenik atau progesterogenik, melalui penilaian pola menstruasi. Wanita yang menstruasi kurang dari 4 hari memerlukan pil KB dengan efek estrogen tinggi. Sedangkan wanita dengan haid lebih dari 6 hari memerlukan pil dengan efek estrogen rendah.
Sifat khas kontrasepsi hormonal yang berkomponen estrogen menyebabkan mudah tersinggung, tegang, berat badan bertambah, menimbulkan nyeri kepala, perdarahan banyak saat menstruasi, Sedangkan yang berkomponen progesteron menyebabkan payudara tegang, menstruasi berkurang, kaki dan tangan sering kram, liang senggama kering.
Penggunaan pil secara teratur dan dalam waktu panjang dapat menekan fungsi ovarium. Kerugian lainnya, mungkin berat badan bertambah, juga rasa mual sampai muntah, pusing, mudah lupa, dan ada bercak di kulit wajah seperti vlek hitam. Juga dapat mempengaruhi fungsi hati dan ginjal. Kecuali itu, kandungan hormon estrogen dapat mengganggu produksi ASI.
Keuntungannya, pil ini dapat meningkatkan libido, sekaligus untuk pengobatan penyakit endometriosis. Haid menjadi teratur, mengurangi nyeri haid, dan mengatur keluarnya darah haid.
Efektifitas penggunaan pil ini 95-98 persen. Jadi, ada sekitar 7 wanita yang hamil dari 1.000 pasangan dalam setahun.


* Suntikan
Kontrasepsi suntikan mengandung hormon sintetik. Penyuntikan ini dilakukan 2-3 kali dalam sebulan. Suntikan setiap 3 bulan (Depoprovera), setiap 10 minggu (Norigest), dan setiap bulan (Cyclofem).
Salah satu keuntungan suntikan adalah tidak mengganggu produksi ASI. Pemakaian hormon ini juga bisa mengurangi rasa nyeri dan darah haid yang keluar.
Sayangnya, bisa membuat badan jadi gemuk karena nafsu makan meningkat. Kemudian lapisan dari lendir rahim menjadi tipis sehingga haid sedikit, bercak atau tidak haid sama sekali. Perdarahan tidak menentu. Tingkat kegagalannya hanya 3-5 wanita hamil dari setiap 1.000 pasangan dalam setahun.


* Susuk
Disebut alat kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kulit pada lengan kiri atas. Bentuknya semacam tabung-tabung kecil atau pembungkus silastik (plastik berongga) dan ukurannya sebesar batang korek api. Susuk dipasang seperti kipas dengan enam buah kapsul. Kini sedang diuji coba susuk satu kapsulimplanon). Di dalamnya berisi zat aktif berupa hormon atau Levonorgestrel. Susuk tersebut akan mengeluarkan hormon tersebut sedikit demi sedikit. Jadi, konsep kerjanya menghalangi terjadinya ovulasi dan menghalangi migrasi sperma.
Pemakaian susuk dapat diganti setiap 5 tahun (Norplant) dan 3 tahun (Implanon). Sekarang ada pula yang diganti setiap tahun. Penggunaan kontrasepsi ini biayanya ringan. Pencabutan bisa dilakukan sebelum waktunya jika memang ingin hamil lagi. Efektifitasnya, dari 10.000 pasangan, ada 4 wanita yang hamil dalam setahun.
Efek sampingnya berupa gangguan menstruasi, haid tidak teratur, bercak atau tidak haid sama sekali. Kecuali itu bisa menyebabkan kegemukan, ketegangan payudara, dan liang senggama terasa kering. Kendala lainnya dalam pencabutan susuk yaitu sulit dikeluarkan karena mungkin waktu pemasangannya terlalu dalam. Hal tersebut dapat menimbulkan infeksi.


KONTRASEPSI MANTAP
Dipilih dengan alasan sudah merasa cukup dengan jumlah anak yang dimiliki. Caranya, suami-istri dioperasi (vasektomi untuk pria dan tubektomi untuk wanita). Tindakan dilakukan pada saluran bibit pada pria dan saluran telur pada wanita, sehingga pasangan tersebut tidak akan mendapat keturunan lagi.

Aman Bagi Pasangan Baru Menikah
Jika Anda baru menikah dan belum berencana punya anak, gunakanlah metoda sederhana untuk menunda kehamilan. Apa saja itu?
1. KONDOM
Sperma yang keluar akan ditampung oleh kondom, sehingga tidak masuk ke dalam rahim. Kegagalan mungkin saja terjadi. Biasanya karena kondom robek dan bocor.
2. PANTANG BERKALA
Untuk menghindari kehamilan, lakukan hubungan intim hanya saat istri dalam masa tidak subur. Ini bisa dilakukan pada pasangan yang istrinya mempunyai siklus haid teratur. Kerjasama dan pengertian suami sangat dibutuhkan dalam hal ini.
3. SENGGAMA TERPUTUS
Cara ini mungkin bisa menghindari kehamilan. Konsepnya, mengeluarkan alat kelamin menjelang terjadinya ejakulasi. Cuma, cara ini memang agak mengganggu kepuasan kedua belah pihak. Tingkat kegagalannya cukup tinggi, 30-35 persen. “Ini lebih disebabkan suami tidak bisa mengontrol, sehingga sperma tetap saja tertumpah di mulut rahim dan tetap bisa masuk vagina.” ujar Andon.

Cocok Tidaknya Pilihan Anda
Tidak cocok jika:
* Berat Tubuh Tidak Stabil
Apakah tubuh menjadi kurus atau gemuk? Seandainya ada perubahan dari berat normal, kemungkinan kontrasepsi yang digunakan tidak cocok.
* Timbul Rasa Nyeri
Bisa nyeri kepala, nyeri otot, kram perut.
* Perubahan Emosi
Muncul gelisah, depresi, dan sebagainya.
* Pola Haid Terganggu
Darah keluar menjadi banyak sekali, sedikit, atau tidak ada sama sekali.
* Timbul Keputihan
Jumlahnya banyak dan mengandung bau.
Baca Selengkapnya...

Pengobatan Epilepsi dan anti konvulsan

Epilepsi, berasal dari bahasa Yunani (Epilepsia) yang berarti 'serangan'. Perlu diketahui, epilepsi tidak menular, bukan penyakit keturunan, dan tidak identik dengan orang yang mengalami ketebelakangan mental. Bahkan, banyak penderita epilepsi yang menderita epilepsi tanpa diketahui penyebabnya

Penyebab Epilepsi
Otak kita terdiri dari jutaan sel saraf (neuron), yang bertugas mengoordinasikan semua aktivitas tubuh kita termasuk perasaan, penglihatan, berpikir, menggerakkan [otot].
Pada penderita epilepsi, terkadang sinyal-sinyal tersebut, tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, antara lain; trauma kepala (pernah mengalami cedera didaerah kepala), tumor otak, dan lain sebagainya.
Umumnya epilepsi mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam process kelahiran, luka kepala, strok, tumor otak, alkohol. Kadang epilepsi mungkin juga karena genetik, tapi epilepsi bukan penyakit keturunan. Tapi penyebab pastinya tetap belum diketahui.

Diagnosis

Hippocrates adalah orang pertama yang berhasil mengidentifikasi gejala epilepsi sebagai masalah pada otak, roh jahat, dan sebagainya. Seseorang dapat dinyatakan menderita epilepsi jika orang tersebut telah setidaknya mengalami kejang yang bukan disebabkan karena alkohol dan tekanan darah yang sangat rendah. Alat bantu yang digunakan biasanya adalah:
MRI (Magnetic resonance imaging) Menggunakan magnet yang sangat kuat untuk mendapatkn gambaran dalam tubuh/ otak seseorang. Tidak menggunakan X-Ray. MRI lebih sensitif dripada CT-Scan
EEG (electroencephalography) alat untuk mengecek gelombang otak.

Pengobatan

Berikut ini adalah nama-nama obat yang dipakai untuk menyembuhkan epilepsi. Semua obat harus dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter.
Carbamazepine, Carbatrol, Clobazam, Clonazepam, Depakene, Depakote, Depakote ER, Diastat, Dilantin, Felbatol, Frisium, Gabapentin, Gabitril, Keppra, Klonopin, Lamictal, Lyrica, Mysoline, Neurontin, Phenobarbital, Phenytek, Phenytoin, Sabril, Tegretol, Tegretol XR, Topamax, Trileptal, Valproic Acid, Zarontin, Zonegran, Zonisamide.
Selain dengan obat, epilepsi juga dapat disembuhkan dengan Ketogenic Diet.
Diet ketogenik adalah metode diet tinggi lemak, rendah karbohidrat. Metode diet ini biasanya digunakan untuk penyembuhan epilepsi pada anak-anak yang umumnya sulit dengan obat-obatan.
Para penganut diet ini, dianjurkan banyak memakan makanan yang memiliki lemak tinggi, seperti: daging. Sebaliknya, makanan yang tinggi akan karbohidrat, seperti: roti, tepung, nasi, gandum, sereal, haruslah dibatasi.


Pengobatan Anti-Convulsant


Beberapa pengobatan antikejang dapat juga membantu mengendalikan perubahan suasana hati yang parah. Contoh-contoh termasuk: Valproic Acid (Depakote, Depakene), Carbamazepina (Tegretol), Gabapentin (Neurontin), dan Lamotrigine (Lamictil).

Valproate telah disetujui oleh FDA tahun 1995 untuk pengobatan mania. Pengobatan antikejang terbaru, termasuk lamotrigine (Lamictal), gabapentin (Neurontin), dan topiramate (Topamax), sedang dipelajari untuk menentukan seberapa baik dalam menstabilkan suasana perasaan. Pengobatan antikejang bisa dikombinasikan dengan litium, atau satu sama lain, karena pengaruhnya yang maksimum.

Yang dipinjam dari ilmu penyakit saraf, agen-agen ini telah digunakan bertahun-tahun untuk menstabilkan psychiatric mood disorder. Menggunakan dasar pemikiran ini, beberapa antikejang juga bermanfaat di dalam permasalahan suasana hati dan impulsivas di dalam otak terluka pasien. Respon pasien kepada pengobatan ini cenderung menjadi sangat dibedakan dari yang lain; oleh karena itu, suatu pendekatan mencoba-coba yang harus diambil untuk menentukan pengobatan tunggal bila ada yang akan memiliki suatu pengaruh yang positif. Seperti dengan antidepressants, efek dari obat ini terjadi secara berangsur-angsur, dan beberapa minggu dari pengobata bisa diperlukan sebelum respon dapat ditentukan.
Anticonvulsant drugs should never be discontinued without your doctors supervision on how to safely discontinue taking them. There are possibilities that discontinuing anticonvulsants can cause seizures and other severe side-effects.

Pengobatan antikejang tidak pernah dihentikan tanpa pengawasan para dokter bagaimana caranya dengan aman menghentikan pengobatan itu. Ada berbagai kemungkinan bahwa menghentikan anticonvulsant dapat menyebabkan kejang-kejang dan efek samping yang sangat parah.



Carbamazepine (Tegretol)
Carbamazepine mempunyai kekayaan antikejang yang telah ditemukan yang sangat bermanfaat untuk pengobatan epilepsi psychomotor dan sebagai satu tambahan yang berarti di dalam pengobatan dari epilepsi-epilepsi parsial, ketika yang diatur bersama dengan pengobatan antikejang yang lain untuk mencegah kemungkinan dari pelepasan epileptik. Suatu pengaruh mild psikotropic sedang diamati pada beberapa pasien-pasien, yang kelihatannya yang dihubungkan dengan pengaruh dari carbamazepine di bagian psychomotor atau temporal lobe epilepsy.
Carbamazepine sebagai suatu monotherapy atau gabungan dengan litium atau neuroleptics telah bermanfaat di dalam pengobatan akut mania dan pengobatan gangguan prophylactic bipolar (manic-depressive)
Seperti campuran trisiklik yang lain, carbamazepine mempunyai suatu tindakan anticholinergic yang moderat yang bertanggung jawab atau sebagian dari efek yang tak diinginkan nya. Suatu toleransi boleh mengembangkan kepada cara kerja carbamazepine beberapa bulan pengobatan dan harus diamati .

Pengobatan dari Acute Mania dan Prophylaxis di Bipolar (Manic-Depressive)

Carbamazepine bisa digunakan sebagai suatu monotherapy atau sebagai satu tambahan yang berarti kepada litium di dalam pengobatan dari acute mania or prophylaxis of bipolar (manic-depressive) disorders yang resistan atau bersifat antimanic konvensional. Carbamazepine suatu alternatif yang bermanfaat neuroleptics. Pasien-pasien dengan mania yang parah, dysphoric mania rapid rapid cycling yang tidak respon terhadap litium mungkin menunjukkan suatu yang positif ketika diobati dengan carbamazepine . Penting untuk dicatat bahwa rekomendasi ini didasarkan pada pengalaman klinis luas dan beberapa agen-agen perbandingan uji klinis .

Contraindications
Tidak harus diberikan kepada pasien-pasien yang diketahui dari penyakit yang hepatic,akut porphyria atau gangguan dari darah.

Obat itu harus tidak diberikan dengan segera sebelumnya, bersama dengan MAO inhibitor. Ketika pengobatan disarankan dengan carbamazepina terhadap pasen yang yang sedang menerima MAO inhibitor diharuskan ada interval waktu yang bebas klinis, tidak kurang dari 14 hari. Lalu dosis dari carbamazepina harus rendah pada awalnya, dan meningkat sangat secara berangsur-angsur.
Efek Samping
Reaksi-reaksi yang tpaling sering dilaporkan dengan carbamazepina adalah Cerebral Nervous System/Susunan Syaraf Pusat (eg., keadaan mengantuk, sakit kepala, keadaan tidak tenang di kaki, diplopia, sakit kepala berputar), gangguan-gangguan alergi gastrointestinal (nausea, vomiting), seperti juga reaksi-reaksi alergi kulit. Reaksi-reaksi ini biasanya terjadi hanya selama tahap yang awal dari ilmu pengobatan, jika dosis yang awal adalah terlalu tinggi, atau ketika pasien-pasien lebih tua. Mereka sudah jarang mengharuskan menghentikan ilmu pengobatan carbamazepina dan dapat diperkecil dengan pengobatan dosis yang rendah.




Kejadian dari efek reaksi CNS dalam memanifestasi over dosis atau fluktuasi penting di dalam kadar plasma. Dalam kasus-kasus yang sedemikian sebaiknya untuk memonitor kadar plasma dan mungkin menurunkan dosis yang sehari-hari dan/atau membagi nya ke dalam 3 sampai 4 dosis kecil. Efek samping yang seriusi adalah reaksi-reaksi hematologic, hepatic, dermatologic dan cardiovasculer, yang memerlukan penyetopan pengobatan. Jika perawatan yang lain dengan carbamazepina harus dihentikan maka dialihkan ,kepada obat antiepileptik harus di bawah perlindungan diazepam.


Overdose
Tanda-tanda dan gejala-gejala dari overdose biasanya melibatkan syraf pusat, cardiovasculer dan sistem pernapasan. tekanan CNS, disorentasi, tremor, kegelisahan, somnolence, agitation, halusinasi, pingsan, visi kabur, nistagmus, midriasis, menyatu pidato/suara?cara bicara, dysarthria, kehilangan keseimbangan, diskinesia, abnormal reflexes (slowed/hyperactive), convulsions), goncangan-goncangan, psychomotor gangguan-gangguan, myoclonus, opisthotonia, hypothermia/hyperthermia, cyanosis, EEG changes, Tidak diketahui adanya penawar racun yang spesifik kepada carbamazepina.


SUMBER:
1.Mental Health Medications Index & Information http://support4hope.com/medications/anticonvulsants/index.htm#

2.Wikipedia tentang Epilepsi
http://id.wikipedia.org/wiki/Epilepsi



Baca Selengkapnya...

Kamis, 05 Maret 2009

KELAINAN HAID

Kelainan haid adalah masalah fisik atau mental yang mempengaruhi siklus menstruasi, menyebabkan nyeri, perdarahan yang tidak biasa yang lebih banyak atau sedikit, terlambatnya menarche atau hilangnya siklus menstruasi tertentu.
Kelainan haid sering menimbulkan kecemasan pada wanita karena kehawatiran akan pengaruh kelainan haid terhadap kesuburan dan kesehatan wanita pada umumnya.

Siklus Menstruasi
Menstruasi adalah peluruhan dinding uterus (endometrium) pada setiap bulan secara periodik1,2. Menstruasi biasanya terjadi selama 2-7 hari dengan rata-rata durasi menstruasi + 4,7 hari. Saat menstruasi dapat kehilangan darah sekitar 10-80 cc darah dengan rata-rata 35 cc4,5. Siklus yang normal berlangsung 24-35 hari4.
Haid pertama kali disebut menarche1,3,4. Menarche diawali dengan gejala pubertas lainnya seperti pertumbuhan payudara (telarche), tumbuh rambut kemaluan (puberche) dan tumbuh rambut ketiak3. Menarche diikuti oleh siklus yang panjang sekitar 5-7 tahun, lalu regularitas siklus haid meningkat sehingga siklus haid memendek untuk mencapai masa siklus yang tetap4. Perubahan irreguler menjadi reguler ini berhubungan dengan terjadinya pematangan poros Hipotalamus – Hipofise – Ovarium4. Kemudian, saat wanita mulai memasuki masa menopause, irreguleritas siklus terjadi kembali karena mulai didominasi siklus-siklus yang anovulatoir4.
Menstruasi terbagi dalam empat stadium yaitu,
1. Stadium Menstruasi atau Deskuamasi,
Pada stadium ini, endometrium luruh dari dinding rahim disertai dengan perdarahan. Hanya lapisan tipis yang tertinggal yaitu stratum basale. Darah ini tidak membeku karena adanya fermen yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan-potongan mukosa3,5. Bila darah banyak keluar, fermen tidak mencukupi hingga timbul bekuan darah dalam darah haid3. Pada saat ini ovarium mulai membentuk estrogen2.

2. Stadium Post Menstruum atau Regenerasi,
Pada stadium regenerasi, endometrium mulai menebal. Luka peluruhan ditutup oleh selaput lendir baru yang terbentuk dari sel epitel kelenjar-kelenjar endometrium. Pada saat ini tebal endometrium ± 0,5 mm. Stadium ini sudah mulai saat stadium menstruasi dan berlangsung ± 4 hari3.
3. Stadium intermenstruum atau stadium proliferasi
Pada stadium proliferasi, endometrium tumbuh menjadi cepat menjadi tebal ±3,5 mm. Kelenjar endometrium tumbuh lebih cepat hingga berkelok-kelok. Stadium proliferasi berlangsung pada hari ke 5-14 dari hari haid pertama3. Pada saat ini terjadi peningkatan FSH yang memicu terjadinya pematangan folikel di ovarium menjadi folikel de graaf. Folikel ini menghasilkan estrogen dimana estrogen menghambat kerja FSH sehingga pembentukan folikel lainnya dapat dihambat sehingga didapatkan satu folikel de graaf saja yang matang. Estrogen memulai pembentukan lapisan baru pada uterus3,5.
Ketika folikel telah matang, folikel mensekresikan cukup estradiol untuk memacu terjadinya pelepasan LH secara akut3,5. Pelepasan LH ini terjadi pada hari ke-12 dan bertahan selama 48 jam. LH mematangkan ovum, menipiskan dinding folikel sehingga memungkinkan untuk terjadinya letupan pada folikel agar terjadi ovulasi. Pada ovarium manakah ovulasi terjadi masih belum diketahui, ovulasi terjadi pada ovarium secara acak. Pada beberapa wanita, ovulasi disertai oleh nyeri tengah siklus yang disebut mittelschmerz akibat ada cairan yang terbebas dari folikel yang meletup yang jatuh ke rongga abdomen dan merangsang terjadinya rangsang peritoneum. Perubahan hormonal tiba-tiba saat ovulasi dapat menyebabkan perdarahan ringan pada tengah siklus. Pada beberapa penelitian didapatkan peningkatan kemampuan penciuman perempuan saat ovulasi5.


4. Stadium praementruum atau stadium sekresi3.
Pada stadium sekresi, tebal endometrium kira-kira tetap tetapi bentuk kelenjar menjadi berliku dan mengeluarkan getah. Dalam endometrium sudah terjadi penimbunan glikogen dan kapur untuk makanan telur. Stadium sekresi ini berlangsung pada hari ke 14-28 dari haid hari pertama3. Setelah terjadi ovulasi, folikel yang sudah kehilangan ovum berubah menjadi korpus luteum di bawah pengaruh kelenjar hipofise. Korpus luteum menghasilkan progesteron dan tambahan estrogen untuk sekitar 2 minggu, setelah itu korpus luteum mati. Progesteron bertugas untuk menghasilkan lapisan yang cocok untuk implantasi embrio. Progesteron meningkatkan suhu basal sekitar 0,5- 10F. Bila fertilisasi terjadi, embrio akan mengalir ke dalam kavum uteri dan berimplantasi 6-12 hari setelah ovulasi. Segera setelah implantasi embrio memberikan sinyal pada sistem maternal. Sinyal awal berupa hCG. Sinyal ini berguna untuk mempertahankan korpus luteum agar dapat terus menghasilkan progesteron3. Bila tidak terjadi kehamilan, endometrium akan meluruh sehingga terjadilah menstruasi3,5. prostaglandin dihasilkan dari dinding uterus dan menyebabkan otot uterus kontraksi. Proses ini membantu untuk mengeluarkan darah dari uterus dari dinding rongga uterus. Proses ini juga menjelaskan bagaimana terjadinya nyeri saat haid2.

Gambar Siklus Menstruasi3

Kelainan Haid
Kelainan haid biasanya terjadi karena ketidak seimbangan hormon-hormon yang mengatur haid, namun dapat juga disebabkan oleh kondisi medis lainnya2.
Banyaknya perdarahan ditentukan oleh lebarnya pembukuh darah, banyaknya pembuluh darah yang terbuka, dan tekanan intravaskular. Lamanya pedarahan ditentukan oleh daya penyembuhan luka atau daya regenerasi. Daya regenerasi berkurang pada infeksi, mioma, polip dan pada karsinoma6.





I. Kelainan Panjang Siklus
I.1. Amenorrhea (tidak ada periode haid)
a. Definisi
Amenorrhea bukan merupakan penyakit namun merupakan gejala. Amenorrhe dapat terjadi pada menopouse, sebelum pubertas, dalam kehamilan dan dalam masa laktasi. Bila tidak menyusukan, haid datang ± 3 bulan post partum namun bila menyusukan, haid datang pada bulan ke-66.
Amenorrhea dapat dibagi menjadi amenorrhea primer dan sekunder. Amenorrhe primer berarti seorang perempuan belum mengalami haid2 setelah usia 16 tahun7 tetapi telah terdapat tanda-tanda seks sekunder atau tidak terjadi haid sampai 14 tahun tanpa adanya tanda-tanda seks sekunder. Amenorrhea biasanya terjadi pada gadis dengan underweight atau pada aktivitas berat dimana cadangan lemak mempengaruhi untuk memacu pelepasan hormon7.
Amenorrhea sekunder berarti telah terjadi haid, tetapi haid terhenti untuk masa tiga siklus atau lebih dari enam bulan.
b. Etiologi
Amenorrhea dapat terjadi akibat gangguan pada komponen yang berperan pada proses haid. Komponen tersebut digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
Lingkungan
Kompartemen IV
SSP

Hipotalamus
kompartemen III GnRH
Hipofise anterior
Kompartemen II FSH LH

Ovarium
Kompartemen I progesteron estrogen

Uterus

Haid
Kelainan Kompartemen I: Kelainan saluran uterus
1. Sindrom Asherman
Pada sindrom ini terjadi amenorrhea sekunder. Keadaan ini terjadi akibat kuretase postpartum berlebihan sehingga terjadi sikatrik dan perlengketan. Endometrium mungkin memiliki tekanan yang begitu besar. Pasien dengan asherman sindrom dapat mengalamai keluhan lain seperti dismenorrhea dan hypomenorrhea.
Pada masa lalu, asherman sindorm diobati dengan dilatasi dan kuretase untuk menghancurkan sikatrik. Sekarang dapat digunakan histeroskopi dengan melisiskan adhesi dengan memotong dan membakar dengan hasil yang lebih baik dibanding kuretase yang tidak terarah. Setelah dilakukan histeroskopi, perlu dicegah terjadinya kembali perlengketan dengan memasang IUD. Dapat juga menggunakan folley kateter pediatrik dengan memasukan 3 cc dan baru dilepas setelah 7 hari9.
2. Mullerian anomali
Pada keadaan ini, vagina, servik dan uterus mungkin tidak ada. Atau pada keadaan lain, uterus mungkin ada namun tidak terdapat rongga, atau terdapatnya rongga namun endometrium sangat sedikit9.
Penanganan pada pasien ini dilakukannya operasi dengan menggunakan teknik vecchietti atau teknik Frank untuk membentuk saluran vagina buatan. Penundaan operasi dapat menyebabkan terjadinya inflamasi9.
3. Insensitivitas Androgen (testicular feminization)
Insenitivitas androgen komplit didiagnosa bila didapatkan kanalis vagina namun tidak didapatkan uterus. Pasien ini berupa pria pseudohermaprodit dimana ketentuan pria ditentukan dari adanya kromosom XY dan pasien memilliki testes. Pseudohermaprodit berarti genitalia berlawanan dengan gonad. Sehingga pada pasien ini secara fenotip tampak seperti wanita tapi tidak ditemukannya rambut pubis dan rambut ketiak. Pada pasien ini terdapat testosteron darah yang normal atau sedikit meningkat dan kenaikan LH
Pada insensitivitas androgen inkomplit (1:10 dibandingkan yang komplit), individu mendapat sedikit pengaruh androgen. Individu ini mungkin memiliki pembesaran klitoris, dan phallus mungkin ada. Rambut pubis dan ketiak ada dan terdapat pertumbuhan payudara9.

Kelainan Kompartemen II
1. Kelainan ovarium
Kelainan ovarium dapat menyebabkan amenorrhea primer maupun sekunder. 30-40% amenorrhea primer mengalami kelainan perkembangan ovarium (Gonadal disgenesis). Pasien ini dapat terdiri dari pasien dengan kariotip 45X (50%), mosaik (25%), 46XX (25%). Wanita dengan gonadal disgenesis diseratai amenorrhea sekunder berhubungan dengan kariotip 46xx, mosaik, 47 xxx ,dan 45x9.
2. Sindrom Turner
Pada sindrom ini terjadi kehilangan satu X. Kromososm X aktif dalam oosit untuk menghindari percepatan kematian folikel. Karena pada pasien ini terjadi kekurangan folikel, terjadi kekurangan hormon sex gonadal saat pubertas sehingga terjadi amenorrhea primer9.
3. Kegagalan ovarium prematur
Sekitar 1% wanita akan mengalami hal ini sebelum usia 40 tahun. Hal ini juga terjadi pada wanita dengan amenorrhea. Kegagalan ovarium yang prematur dapat disebabkan kelainan genetik dengan peningkatan kematian folikel. Dapat juga merupakan proses autoimun dimana folikel dihancurkan9.
4. Efek radiasi dan kemoterapi
Efek radiasi tergantung dari umur dan dosis radiasi. Fungsi barium dapat kembali setelah bertahun-tahun kemudian. Di lain pihak kerusakan tidak akan muncul hingga terjadinya kegagalan ovarium prematur. Ketika radiasi diberikan di luar pelvis, radiasi tidak memberikan resiko terjadinya kegagalan ovarium prematur. Gonad tidak dalam keadaan bahaya ketika di dapur menggunakan oven microwave yang berdaya penetrasi rendah9.

Kelainan Kompartemen III
Gangguan pada kompartemen ini dapat berupa gangguan pada hipofise anterior. Gangguan dapat berupa adanya tumor yang bersifat mendesak ataupun menghasilkan hormon yang membuat haid menjadi terganggu9. Tumor mikroadenoma dapat diterapi dengan menggunakan agonis dopamin dimana dopamin dapat menghambat pelepasan prolaktin lebih lanjut sehingga pembesaran tumor hipofise dan prolaktinemia dapat dicegah. Operasi dapat dilakukan terutama bila tumor masih kecil. Namun angka rekurensi setelah operasi sangat besar lagipula struktur tumor sulit dibedakan dengan jaringan hipofise sehat sehingga operasi sering kali meninggalkan sisa. Pada makroadenoma dapat diberikan agonis dopamin terlebih dahulu untuk memperkecil ukuran tumor. Setelah operasi dapat dilanjutkan dengan pemberian radiasi namun radiasi ini dapat memicu terjadinya tumor di tempat lain pada otak9.

Kelainan Kompartemen IV
Gangguan pada pasien ini disebabkan oleh gangguan mental yang secara tidak langsung menyebabkan terjadinya pelepasan neurotransmiter seperti serotonin yang dapat menghambat lepasnya gonadotropin. Gangguan pada kompartemen ini dapat terjadi pada penderita anoreksia nervosa maupun atlet atau penari balet yang mengalami latihan dengan ketegangan9.
Amenorrhea dapat juga disebabkan oleh penyakit-penyakit lain seperti penyakit kronis (TBC), penyakit metabolik seperti penyakit tiroid, pankreas dan glandula suprarenalis, kelainan gizi (obesitas dan underweight), kelainan hepar dan ginjal6.

c. Pengelolaan & prognosa
Pengelolaan pada pasien ini tergantung dengan penyebab. Bila penyebab adalah kelainan genetik, prognosa kesembuhan buruk. Menurut beberapa penelitian, dapat dilakukan terapi sulih hormon, namun fertilitas belum tentu dapat dipertahankan9.

d. Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakutkan dari amenorrhea adalah infertilitas. Komplikasi lainnya adalah tidak percaya dirinya penderita sehingga dapat menggangu kompartemen IV dan terjadilah lingkaran setan terjadinya amenorrhea. Komplikasi lainnya munculnya gejala-gejala lain akibat insufisiensi hormon seperti osteoporosis9.

e. Langkah-langkah diagnosa bila ditemukan amenorrhea
Yang harus dilakukan adalah lakukan pemeriksaan TSH karena pada keadaan hipotroid terjadi penurunan dopamin sehingga merangsang pelepasan TRH. TRH merangsang hipofise anterior untuk menghasilkan prolaktin dimana prolaktin akan menghambat pelepasan GnRH. Namun pada satu waktu, saat hipofise anterior terangsang secara kronik, hipofise anterior dapat membesar sehingga meningkatkan sekresi GnRH dan menyebabkan terjadinya pematangan folikel yang terburu-buru sehingga terjadi kegagalan ovarium prematur. Sehingga harus diwaspadai bila terjadi suatu tanda-tanda hipotiroid, amenorrhea dan galaktorrhea9.
Keadaan amenorrhea yang disertai keadaan galaktorrhea dapat juga terjadi pada sindrom chiari-Frommel yang terjadi setelah kehamilan dan merupakan amenorrhea laktasi yang berkepanjangan. Diduga keadaan ini disebabkan oleh inhibisi dari faktor imhibisi prolaktin dari hipofise. Pada sindrom Forbes-Albright terdapat adenoma chromopob dimana banyak dihasilkan prolaktin. Pada sindrom Ahoemada del-Costello tidak terdapat hubungan antara kehamilan dengan tumor hipofise. Sindrom ini diduga akibat obat-obatan seperti kontrasepsi dan fenotiazin6.
Pasien juga seharusnya dilakukan progesteron challenge. Bila dengan pemberian progesteron lalu dilakukan withdrawl terjadi haid, maka dipastikan amenorrhea disebabkan anovulasi. Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah pemberian progesteron9.
Perlu juga diberikan preparat estrogen bila dengan pemberian progesteron tidak menghasilkan haid untuk mencari apakah penyebab terjadinya amenorrhea akibat kurangnya estrogen9.
Bila dengan langkah-langkah di atas tidak didapatkan hasil yang memuaskan, lakukan pemeriksaan FSH dan LH untuk mencari apakah penyebab amenorrhea ada pada kompartemen III9.

f. Amenorrhea pada atlet dengan latihan berlebih
Saat dilakukan latihan berlebih, dibutuhkan kalori yang banyak sehingga cadangan kolesterol tubuh habis dan bahan untuk pembentukan hormon steroid seksual (estrogen & progesteron) tidak tercukupi. Pada keadaan tersebut juga terjadi pemecahan estrogen berlebih untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar dan terjadilah defisiensi estrogen dan progeteron yang memicu terjadinya amenorrhea. Pada keadaan latihan berlebih banyak dihasilkan endorpin yang merupakan derifat morfin. Endorpin menyebabkan penurunan GnRH sehingga estrogen dan progesteron menurun. Pada keadaan stress berlebih, corticotropin releasing hormon dilepaskan, pada peningkatan CRH, terjadi peningkatan opoid yang dapat menekan pemebentukan GnRH2,9.

I.2 Oligomenorrhea
a. Definisi
Oligomenorrhea disebut juga sebagai haid jarang atau siklus panjang6,10. Oligomenorrhea terjadi bila siklus lebih dari 35 hari. Darah haid biasanya berkurang1,9,11.

b. Etiologi
Oligomenorrhea biasanya berhubungan dengan anovulasi atau dapat juga disebabkan kelainan endokrin seperti kehamilan, gangguan hipofise-hipotalamus, dan menopouse atau sebab sistemik seperti kehilangan berat badan berlebih11.
Oligomenorrhea sering terdapat pada wanita astenis6. Dapat juga terjadi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik dimana pada keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih tinggi dari kadara pada wanita normal. Oligomenorrhea dapat juga terjadi pada stress fisik dan emosional, penyakit kronis, tumor yang mensekresikan estrogen dan nutrisi buruk. Oligomenorrhe dapat juga disebabkan ketidakseimbangan hormonal seperti pada awal pubertas1.
Oligomenorrhea yang menetap dapat terjadi akibat perpanjangan stadium folikular, perpanjangan stadium luteal, ataupun perpanjang kedua stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba memanjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh psikis atau pengaruh penyakit6.

c. Gejala
Gejala oligomenorrhea terdiri dari periode menstruasi yang lebih panjang dari 35 hari dimana hanya didapatkan 4-9 periode dalam 1 tahun. Beberapa wanita dengan oligomenorrhea mungkin sulit hamil. Bila kadar estrogen yang menjadi penyebab, wanita tersebut mungkin mengalami osteoporosis dan penyakit kardiovaskular. Wanita tersebut juga memiliki resiko besar untuk mengalami kanker uterus1.

d. Pengobatan
Pengobatan oligomenorrhea tergantung dengan penyebab1. Pada oligomenorrhea dengan anovulatoir serta pada remaja dan wanita yang mendekati menopouse tidak memerlukan terapi6. Perbaikan status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisi dapat memperbaiki keadaan oligomenorrhea. Oligomenorrhea sering diobati dengan pil KB untuk memperbaiki ketidakseimbangan hormonal. Pasien dengan sindrom ovarium polikistik juga sering diterapi dengan hormonal. Bila gejala terjadi akibat adanya tumor, operasi mungkin diperlukan. Pengobatan alternatif lainnya dapat menggunakan akupuntur atau ramuan herbal1.

e. Komplikasi
Komplikasi yang paling menakutkan adalah terganggunya fertilitas dan stress emosional pada penderita sehingga dapat meperburuk terjadinya kelainan haid lebih lanjut. Prognosa akan buruk bila oligomenorrhea mengarah pada infertilitas atau tanda dari keganasan1.

1.3 Polimenorrhea
a. Definisi
Polimenorrhea adalah kelainan haid dimana siklus kurang dari 21 hari5 dan menurut literatur lain siklus lebih pendek dari 25 hari6,12.



b. Etiologi
Bila siklus pendek namun teratur ada kemungkinan stadium proliferasi pendek atau stadium sekresi pendek atau kedua stadium memendek. Yang paling sering dijumpai adalah pemendekan stadium proliferasi. Bila siklus lebih pendek dari 21 hari kemungkinan melibatkan stadium sekresi juga dan hal ini menyebabkan infertilitas6.
Siklus yang tadinya normal menjadi pendek biasanya disebabkan pemendekan stadium sekresi karena korpus luteum lekas mati. Hal ini sering terjadi pada disfungsi ovarium saat klimakterium, pubertas atau penyakit kronik seperti TBC6.

c. Terapi
Keadaan ini dapat diperbaiki dengan menggunakan terapi hormonal. Stadium proliferasi dapat diperpanjang dengan estrogen dan stadium sekresi dapat diperpanjang dengan kombinasi estrogen-progesteron6.

I.4. Metrorrhagia
Metrorrhagia adalah perdarahan tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid6 namun keadaan ini sering dianggap oleh wanita sebagai haid walaupun berupa bercak11,12.
Metrorrhagia dapat disebabkan oleh kehamilan seperti abortus ataupun kehamilan ektopik6 dan dapat juga disebabkan oleh faktor luar kehamilan seperti ovulasi, polip endometrium dan karsinoma serviks. Akhir-akhir ini, estrogen eksogen menjadi penyebab tersering metrorrhagia11. Terapi yang diberikan tergantung etiologi.

II. Kelainan Jumlah Darah Haid
II.1 Menorrhagia
a. Definisi
Menorrhagia adalah pengeluaran darah haid yang terlalu banyak dan biasanya disertai dengan pada siklus yang teratur6,11.
Menorrhagia biasanya berhubungan dengan nocturrhagia yaitu suatu keadaan dimana menstruasi mempengaruhi pola tidur wanita dimana waita harus mengganti pembalut pada tengah malam. Menorrhagia juga berhubungan dengan kram selama haid yang tidak bisa dihilangkan dengan obat-obatan. Penderita juga sering merasakan kelemahan, pusing, muntah dan mual berulang selama haid12.
b. Etiologi
Etiologi menorrhagia dikelompokan dalam 4 kategori yaitu,
i. Gangguan pembekuan,
Walaupun keadaan perdarahan tertentu seperti ITP dan penyakit von willebrands berhubungan dengan peningkatan menorrhagia, namun efek kelainan pembekuan terhadap individu bervariasi. Pada wanita dengan tromboitopenia kehilangan darah berhubungan dengan jumlah trombosit selama haid. Splenektomi terbukti menurunkan kehilangan darah13.
ii. disfunctional uterine bleeding (DUB),
Pada dasarnya peluruhan saat haid bersifat self limited karena haid berlangsung secara simultan di seluruh endometrium serta jaringan endometrium yang terbentuk oleh estrogen dan progesterone normal bersifat stabil. Pada DUB, keadaan ini sering terganggu4.
DUB dapat terjadi disertai ovulasi maupun anovulasi. Pada keadaan terjadinya ovulasi, perdarahan bersifat lebih banyak dan siklik hampir sesuai dengan siklus haid. Pada keadaan anovulasi, perdarahan bersifat namun dengan siklus yang tidak teratur sehingga sering disebut menometrorrhagia. DUB dapat disebabkan estrogen withdrawl bleeding, progesteron withdrawl bleeding, estrogen breakthrough bleeding, progesterone breakthrough bleeding4,
Estrogen withdrawl bleeding terjadi pada keadaan setelah ooparektomi bilateral, radiasi folikel yang matur atau penghentian tiba-tiba obat-obatan yang mengandung estrogen4.
Estrogen breakthrough bleeding menyebabkan lapisan endometrium menjadi semakin menebal namun akhirnya runtuh karena kurang sempurnanya struktur endometrium karena tidak sebandingnya jumlah progesterone yang ada disbanding jumlah estrogen. Perdarahan biasanya bersifat spotting. Estrogen breakthrough bleeding yang berkelanjutan mengacu pada keadaan amenorrhea namun secara tiba-tiba dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak4.
Progesteron withdrawl bleeding terjadi bila korpus luteum dihilangkan. Progesteron withdrawl bleeding hanya akan terjadi bila diawali proliferasi endometrium yang diatur oleh estrogen. Namun bila kadar estrogen meningkat 10-20 kali lipat, progesteron withdrawl bleeding tidak akan terjadi4.
Progesterone breakthrough bleeding terjadi bila kadar progesterone melebihi keseimbangan dengan estrogen. Dinding endometrium yang menebal akan meluruh sedikit demi sedikit akibat struktur yang tidak kuat. Hal ini terjadi saat menggunakan pil kontrasepsi dalam jangka waktu lama4.
Pada keadaan progesteron withdrawl bleeding dan estrogen breakthrough bleeding diberikan terapi progesteron sehingga tercapai keseimbangan jumlah progesterone-estrogen. Progesterone bersifat antiestrogen dimana menstimulasi perubahan estradiol menjadi estron sulfat yaitu bentuk tidak aktif estrogen. Progesterone juga menghambat pembentukan reseptor estrogen. Estrogen juga mencegah transkripsi onkogen yang dimediasi oleh estrogen4.
Pada oligomenorrhea (estrogen breakthrough bleeding) preparat progesterone yang digunakan adalah medroxypogesteronaseta, 5-10 mg/hari selama 10 hari. Pada menorrhagia (estrogen breakthrough bleeding yang berlangsung lama dan progesteron withdrawl bleeding) progestin digunakan selama 10 hari hingga 2 minggu untuk menstabilkan dinding endometrium lalu dihentikan secara tiba-tiba dengan maksud mengikis semua dinding endometrium dan bersifat kuretase alami4.
Terapi estrogen diberikan pada Estrogen withdrawl bleeding dan progesterone breakthrough bleeding untuk memperkuat stroma tempat kelenjar yang hiperplasia karena dirangsang progesterone. Pada keadaan ini diberikan 25 mg estrogen terkonjugasi secara intra vena tiap 4 jam hingga perdarahan berhenti atau selama 24 jam untuk menghindari terbentuknya trombus pada kapiler uterus. Semua terapi estrogen harus diikuti terapi progesteron dan withdrawl bleeding4.
Dapat juga diberikan anti prostaglandin untuk vasokontriksi darah sehingga perdarahan dapat berhenti4.
Desmopresin asetat (analog sintetik dari arginin vasopresin) digunakan untuk mengobati DUB pada pasien gangguan pembekuan terutama pada penyakit von willebrand’s dan dapat diberikan intranasal maupun intravena. Pengobatan dapat meningkatkan kadar faktor VIII dan faktor von willebrands yang berlangsung sekitar 8 jam4.
iii. Gangguan pada organ dalam pelvis
Menorrrhagia biasanya berhubungan dengan fibroid pada uterus, adenommiosis, infeksi pelvis, polips endometrial, dan adanya benda asing seperti IUD. Wanita dengan perdarahan haid melebihi 200 cc 50% mengalami fibroid. 40% pasien dengan adenomiosis mengalami perdarahan haid melebihi 80cc13. Menorrhagia pada retrofleksi disebabkan karena bendungan pada vena uterus sedangkan pada mioma uteri, menorrhagia disebabkan oleh kontraksi otot yang kurang kuat, permukaan endometrium yang luas dan bendungan vena uterus6.
iv. Gangguan medis lainnya
Gangguan medis lainnya yang dapat menyebabkan menorrhea diantaranya hipotiroid dan sindrom cushing, patifisiologi terjadinya belum diketahui dengan pasti11,13. Dapat juga terjadi pada hipertensi, dekompsatio cordis dan infeksi dimana dapat menurunkan kualitas pembuluh darah. Menorrhagia dapat terjadi pada orang asthenia dan yang baru sembuh dari penyakit berat karena menyebabkan kualitas miometrium yang jelek6.

c. Terapi
Terapi menorrhagia sangat tergantung usia pasien, keinginan untuk memiliki anak, ukuran uterus keseluruhan, dan ada tidaknya fibroid atau polip. Spektrum pengobatannya sangat luas mulai dari pengawasan sederhana, terapi hormon, operasi invasif minimal seperti pengangkatan dinding endometrium (endomiometrial resection atau EMR), polip (polipektomi), atau fibroid (miomektomi) dan histerektomi (pada kasus yang refrakter)12.
Dapat juga digunakan herbal yarrow, nettle’s purse, agrimony, ramuan cina, ladies mantle, vervain dan raspbery merah yang diperkirakan dapat memperkuat uterus. Vitex juga dianjurkan untuk mengobati menorrhea dan sindrom pre-mentrual. Dianjurkan juga pemberian suplemen besi untuk mengganti besi yang hilang melalui perdarahan. Vitamin yang diberikan adalah vitamin A karena wanita dengan lehilangan darah hebat biasanya mengalami penurunan kadar vitamin A dan K yang dibutuhkan untuk pembekuan darah. Vitamin C, zinc dan bioflavinoids dibutuhkan untuk memperkuat vena dan kapiler7.

d. Prognosis
Prognosis pada semua ketidakteraturan adalah baik bila diterapi dari awal.

II.2. Hipomenorrhea (kriptomenorrhea)
Hipomenorrhea adalah suatu keadan dimana jumlah darah haid sangat sedikit (<30cc)1,11, kadang-kadang hanya berupa spotting11. Dapat disebabkan oleh stenosis pada himen, servik atau uterus. Pasien dengan obat kontrasepsi kadang memberikan keluhan ini11. Hal ini juga dapat terjadi pada hipoplasia uteri dimana jaringan endometrium sedikit6.

II.2.3. Dismenorrhea
a. Definisi
Dismenorrhea adalah nyeri sewaktu haid6,7,12,13. Dismenorrhea terdiri dari gejala yang kompleks berupa kram perut bagian bawah yang menjalar ke punggung atau kaki dan biasanya disertai gejala gastrointestinal dan gejala neurologis seperti kelemahan umum2,7,13.



b. Klasifikasi
Dismenorrhea primer (idiopatik)
Dismenorrhea primer adalah dismenorrhea yang mulai terasa sejak menarche dan tidak ditemukan kelainan dari alat kandungan atau organ lainnya2,6. Dismenorrhea primer terjadi pada 90% wanita dan biasanya terasa setelah mereka menarche dan berlanjut hingga usia pertengahan 20-an atau hingga mereka memiliki anak. Sekitar 10% penderita dismenorrhea primer tidak dapat mengikuti kegiatan sehari-hari. Gejala nya mulai terasa pada 1 atau 2 hari sebelum haid dan berakhir setelah haid dimulai7. Biasanya nyeri berakhir setelah diberi kompres panas atau oleh pemberian analgesik10.
Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu hiperaktivitas uterus, endotelin, prostaglandin, vasopressin dan kerusakan saraf perifer.
Hiperaktivitas uterus berhubungan dengan aliran darah uterus. Hiperaktivitas uterus terjadi pada endometriosis dan adenomiosis. Uterus yang berkontraksi menyebabkan “angina” sehingga terjadilah nyeri13.
Endotelin adalah uterotonin poten pada uterus yang tidak hamil. Endotelin berperan menginduksi kontraksi otot polos pada perbatasan dengan kelenjar endometrium. Tempat yang paling banyak mengandung ikatan endotelin adala epitel kelenjar pada tempat tersebut. Endotelin tersebut dapat menginduksi pelepasan PGF2α dan menginduksi kelenjar lainnya untuk menghasilkan endorpin lainnya (parakrin). Iskemi yang terjadi akibat kontraksi selanjutnya merangsang pelepasan endorpin dan PGF2α sehingga akan menyebabkan disperistaltis lebih lanjut13.
Endometrium wanita dengan dismenorrhea menghasilkan PGF2α lebih banyak daripada wanita normal. PGF2α adalah oksitoksi dan vasokonstriktor yang poten yang bila diberikan pada uterus akan menghasilkan nyeri dan mengakibatkan pengeluaran darah haid. Alasan mengapa PGF2α lebih tinggi pada wanita tertentu belum diketahui dengan pasti13. Pada beberapa wanita, prostaglandin dapat mengakibatkan otot polos dalam sistem gastrointestinal berkontraksi sehingga menyebabkan mual, muntah dan diare7.
Vasopresin merupakan vasokonstriktor yang menstimulasi miometrium berkontraksi. Pada hari pertama menstruasi,kadar vasopresin meningkat pada wanita dengan dismenorrhea13.
Kerusakan saraf perifer pada miometrium dan serviks oleh persalinan. Hal ini menjelaskan mengapa pada wanita yang telah melahirkan dismenorrhea dapat berkurang13.

Dismenorrhea sekunder
Dismenorrhea sekunder biasanya terjadi kemudian setelah menarche6. Biasanya disebabkan hal lain6,7. Nyeri biasanya bersifat regular pada setiap haid namun berlangsung lebih lama dan bisa berlangsung selama siklus. Nyeri mungkin nyeri pada salah satu sisi abdomen7.
Dismenorrhea sekunder dapat disebabkan oleh endometriosis dimana jaringan uterus tumbuh di luar uterus dan ini dapat terjadi pada wanita tua maupun muda. Implan ini masih bereaksi terhadap estrogen dan progesteron sehingga dapat meluruh sat haid. Hasil peluruhan bila jatuh ke dalam rongga abdomen dan merangsang peritoneum akan menghasilkan nyeri. Endometriosis ditemukan pada 10-15% wanita usia 25-33 tahun2. Dismenorrhea sekunder dapat juga disebabkan fibroid, penyakit radang panggul; IUD; tumor pada tuba fallopi, usus atau vesika urinaria; polip uteri; inflmatory bowel desease; skar atau perlengketan akibat operasi sebelumnya dan adenomiosis yaitu suatu keadaan dimana endometrium tumbuh menembus miometrium6,7.

c. Terapi
Dismenorrhea primer biasanya diobati oleh NSAID seperti ibuprofen dan naproxen yang dapat mengurangi nyeri pada 64% penderita dissmenorrhea primer. Pil kontrasepsi menghilangkan nyeri dan gejala lainnya pada 90% penderita dengan menekan ovulasi dan jumlah perdarahan. Terapi ini membutuhkan waktu 3 siklus untuk menghilangkan gejala. Kompres panas juga dapat mengurangi nyeri7.


DAFTAR PUSTAKA

1. Menstrual Disorder. www. en.wikipedia.org. diakses tanggal 17 Pebruari 2006

2. Kim’s Story. www.humanillnesses.com. Diakses tanggal 17 Pebruari 2006

3. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-UNPAD. Fisiologi Alat-alat reproduksi Wanita dalam Obstetri Fisiologi. Bandung. Penerbitan Eleman. 1983: 73-78

4. Disfunctional Uterine Bleeding in Novack Gynecology. Philladelphia. Lippincot &William.inc. 2002: 575-591

5. Menstrual Disorder http://en.wikipwdia.org diakses tanggal 18 Pebruari 2006

6. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-UNPAD. Kelainan haid dalam Ginekologi. Bandung. Elstar Offset. 1981 : 31-39

7. Menstrual Disorder. http://www.healthatoz.com. Diakses tanggal 18 Pebruari 2006

8. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-UNPAD. Amenore dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi RSUP dr. Hasan Sadikin, bagian II Ginekologi. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-UNPAD. Bandung. 1997 : 36-40

9. Sperof, Glass, Kace. Amenorrhea in Clinical Gynecologic Endokrinology & Infertility. 6th edition. Washington. 1999: 421-475

10.Diagnostic Procedure in menstrual disorder. http://www.familypractice.com. Diakses tanggal 17 Pebruari 2006

11. Silberstein, Taaly. Complication of Menstruation; Abnormal Bleeding in Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis Treatment. 9th edition. India. McGraw-Hill Companies, Inc. 2003 ; 623-630

12. Menstrual Disorder. http://www.cmdrc.com. Diakses tanggal 17 Pebruari 2006

13. Lumsden, Ann Marie; McGavigan, Jay. Menstruation and Menstrual Disorder in Gynecology. 3rd edition. China. Elsevier Science Limited. 2003 : 459-467




Baca Selengkapnya...
KTI-SKRIPSI KEPERAWATAN
lebih dari 100 contoh kti-skripsi keperawatan ada disini, klik here

Berita

Loading...
 

DOWNLOAD AREA

Download Macam-Macam Askep, disini
Download Artikel Kedokteran, disini
Download Artikel Seputar Kebidanan, disini

Followers

Blog Archive